PWI Gelar Diskusi bersama 200 Kepsek di Batam, Hendri Arulan: ada 3 Persoalan di Sekolah

Avatar photo
Foto : Disdik Kota Batam memfasilitasi PWI Kota Batam untuk menggelar sosialisasi bersama 200 Kepsek SD dan SMP di Batam | dok.Non/BI

Bataminfo.co.id, Batam – Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Batam, Hendri Arulan menyambut baik langkah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam dalam menggelar forum diskusi bersama para Kepala Sekolah di Kota Batam.

Sosialisasi ini kata dia, dikhususkan bagi peserta yang merupakan Kepala Sekolah tingkat SD dan SMP negeri di Kota Batam.

“Hari ini kita mengundang khusus semua Kepala Sekolah SD dan SMP Negeri saja. untuk SMP itu ada sekitar 64 kemudian SD 136 lebih, itu khusus untuk negeri, nggak ada yang swasta. Jadi kira-kira ada 200 Kepala Sekolah yang hadir,” terangnya.

Hendri menyebut, forum diskusi yang diselenggarakan di Gedung Gurindam Kantor Disdik Kota Batam pada Selasa, 16 September 2025 ini merupakan inisiasi dari PWI Batam.

“Kita bersyukur ada diskusi ini. Dan ini yang menginisiasi adalah PWI Batam. Kita berikan sosialisasi ke Kepala Sekolah, apa yang perlu kita lakukan agar melaksanakan tugas dengan tenang. Kami juga mengundang pihak inspektorat, Kominfo, Polresta Barelang dan Kejaksaan Batam,” ucap Hendri.

Ia mengatakan, ada beberapa persoalan di lingkungan sekolah yang kerap disentil di Media, termasuk mengenai pengelolaan dana BOS.

“Ada tiga permasalahan di sekolah yang dicari-cari informasinya, yang disampaikan ke masyarakat. Pertama terkait PPDB, Dana Bos dan Bantuan dari Orangtua,” jelas Hendri.

Dari ketiga hal tersebut, Hendri mengatakan, persoalan dana BOS memang tengah menjadi keluhan para Kepala Sekolah yang terdampak pemberitaan oleh oknum wartawan.

Kendati begitu, Ia meminta kepada para Kepala Sekolah agar dapat mengelolah dana BOS tersebut dengan baik serta meminta transparansi dari mereka.

“Terkait PPDB, untuk tahun ini, saya rasa sudah aman. Terkait dana BOS, tinggal kita mengelola dengan baik saja. Bagaimana sebenarnya harus mengelola dengan baik, harus transparan dan tidak ada hal-hal yang negatif sehingga ini tidak menjadi konsumsi dari oknum-oknum media,” kata dia.

Selanjutnya, terkait bantuan dari orang tua murid ke sekolah, Ia juga menyampaikan bahwa, adapun bantuan dari orangtua murid yang bersifat untuk membantu sekolah, namun malah menjadi salah satu persoalan di lingkungan sekolah.

“Bantuan orang tua murid yang sifatnya ingin membantu. Tujuannya baik, sifatnya sumbangan, tapi arahnya menjadi pungutan. Semua ini akan dicari informasi oleh para media dan pada akhirnya berhubungan dengan aparat penegak hukum,” katanya.

“Niat orang tua ingin membantu sekolah, jangan sampai bantuan ini berubah menjadi pungutan. Kenapa berubah menjadi pungutan apabila ditetapkan nominalnya. Kalau bantuan, terserah mau bantu berapa. Itu yang namanya bantuan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Hendri mengatakan bahwa, tak hanya persoalan dana bos dan lainnya yang ada di lingkungan sekolah, melainkan program serta prestasi Siswa pun dapat dipublikasikan.

“Informasi-informasi di sekolah itu tidak hanya terkait dengan pengelolaan dana BOS, keuangan dan sebagainya. Banyak informasi yang bisa di apa dipublikasikan, seperti program sekolah, terkait dengan keberhasilan sekolah dan sebagainya.

Ia berharap, dengan adanya sosialisasi tersebut, dapat memberikan pemahaman yang baik juga mengenai tugas jurnalis serta dapat lebuh terbuka lagi dalam hal memberikan informasi saat dikonfirmasi oleh awak media.

“Dengan adanya diskusi ini, Bapak Ibu Kepala Sekolah paling tidak memahami seperti apa mereka harus melaksanakan tugas di sekolah dan memberikan informasi terkait dengan perkembangan sekolah tersebut kepada media,” tuturnya.