Batam  

Menanam Wajah Baru di Pesisir: HUT ke-57 IPK dan Ikhtiar Merawat Batam

Avatar photo

Bataminfo.co.id,Batam – Ada banyak cara untuk mengukur usia sebuah organisasi. Cara paling sederhana adalah melalui angka: berapa tahun ia berdiri, berapa generasi yang telah dilalui, dan berapa banyak nama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Namun, ada cara lain yang lebih sunyi sekaligus lebih bermakna: menilai apa yang ditinggalkannya untuk masa depan.

Pada usia ke-57, Ikatan Pemuda Karya (IPK) Kepulauan Riau bersama IPK Kota Batam tampaknya memilih pendekatan yang kedua.
Perayaan ulang tahun tidak berhenti pada panggung, spanduk, seragam, tepuk tangan, dan seremoni. Di tengah kemeriahan itu, organisasi kepemudaan tersebut berupaya menghadirkan sesuatu yang lebih panjang umur daripada sebuah acara: menanam.

Bukan sekadar menanam pohon, melainkan menanam harapan di tepian laut.

Sejumlah bibit mangrove ditanam di kawasan pesisir Kota Batam, antara lain Pantai Vio Vio Barelang, Teluk Mata Ikan, serta beberapa lokasi lainnya. Bibit-bibit tersebut masih kecil. Batangnya belum kokoh, tajuknya belum rindang, dan bayangannya belum cukup untuk menaungi siapa pun.

Namun, justru dari sesuatu yang kecil itulah pesan besar sedang disampaikan.

Bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan kata-kata. Ia membutuhkan tangan yang bersedia menyentuh tanah, kaki yang rela masuk ke lumpur, serta kesabaran untuk menanti sesuatu tumbuh—meski hasilnya mungkin baru dirasakan ketika sebagian dari mereka yang menanamnya sudah tidak lagi berada di sana.

Menanam adalah pekerjaan hari ini untuk kehidupan yang belum tentu kita nikmati sendiri.
Ketua IPK Provinsi Kepri sekaligus penanggung jawab kegiatan, Budi Bukti Purba, menyampaikan bahwa momentum HUT ke-57 ini ingin dimaknai lebih luas. Menurutnya, ulang tahun organisasi tidak cukup hanya menjadi ritual tahunan, tetapi harus meninggalkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat dan lingkungan.

“Momentum ulang tahun ke-57 ini kami manfaatkan untuk melakukan kegiatan yang memiliki manfaat nyata. Salah satunya melalui penanaman mangrove di sejumlah kawasan pesisir,” ujar Budi.

Pemilihan mangrove bukan tanpa alasan.
Batam adalah kota yang tumbuh bersama laut. Kepulauan Riau sejak awal seolah ditakdirkan untuk hidup berdampingan dengan air asin, pulau-pulau kecil, teluk, selat, dan garis pantai yang panjang.

Laut bukan sekadar batas geografis bagi daerah ini. Ia adalah halaman depan, jalur kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari ingatan kolektif masyarakatnya.

Karena itu, ketika pesisir kehilangan pelindung alaminya, yang terancam bukan hanya keindahan pantai.

Tanah perlahan terkikis. Habitat kehilangan ruang hidup. Biota terganggu. Dan masyarakat pesisir pada akhirnya turut merasakan dampak perubahan lingkungan.

Di sinilah mangrove menjadi penting.
Ia tumbuh perlahan di antara lumpur dan air asin, membangun benteng dengan cara yang nyaris tak terlihat. Akar-akarnya mencengkeram tanah, menahan sedimen, serta membantu melindungi garis pantai dari abrasi sekaligus menyediakan ruang hidup bagi berbagai biota.

Di antara akar-akar itu hidup ikan kecil, kepiting, burung, dan organisme lainnya. Ada rantai kehidupan yang bekerja tanpa panggung dan tanpa tepuk tangan.

Dan di ujung rantai itu, ada manusia.

Ada nelayan. Ada warga pesisir. Ada keluarga yang menggantungkan sebagian hidupnya pada laut.

Maka, menanam mangrove sesungguhnya bukan sekadar menanam pohon.

Ia adalah upaya memulihkan kembali hubungan yang sempat renggang antara manusia dan alam.

“Menanam mangrove artinya kita sedang menanam untuk masa depan. Pohon yang kita tanam hari ini mungkin belum memberikan manfaat besar dalam waktu dekat, tetapi nantinya akan menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan dan pesisir kita,” kata Budi.

Dari Seremoni Menuju Kebiasaan

Di Pantai Vio Vio Barelang, gagasan itu menemukan ruangnya.

Pesisir yang selama ini menjadi ruang rekreasi, ekonomi, dan perjumpaan manusia dengan laut, juga menjadi ruang pengingat bahwa alam memiliki batas daya dukungnya.

Hal serupa juga terjadi di Teluk Mata Ikan dan sejumlah kawasan lainnya.
Bibit-bibit mangrove tersebut mungkin hanya tampak sebagai tanaman kecil. Namun jika kelak tumbuh menjadi rimbun, akar-akarnya akan menjadi bagian dari benteng alami pesisir Batam.
Yang lebih penting lagi, kegiatan ini dapat menjadi titik awal kesadaran.

Sebab persoalan lingkungan tidak mengenal batas organisasi. Ia tidak berhenti ketika acara selesai, spanduk diturunkan, atau panggung dibongkar.

Kerusakan lingkungan bekerja setiap hari.
Karena itu, upaya pemulihannya pun harus menjadi kebiasaan.

Ketua panitia kegiatan, Alex Alopsen Simatupang, menyampaikan bahwa rangkaian HUT ke-57 IPK Kepri dan IPK Kota Batam dikemas dengan semangat kebersamaan dan kepedulian.
Menurutnya, organisasi kepemudaan harus mampu menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Perayaan ulang tahun organisasi bukan hanya soal seremonial. Kami ingin ada sesuatu yang ditinggalkan dan memberikan manfaat. Penanaman mangrove ini menjadi bentuk nyata kepedulian kami terhadap lingkungan,” ujar Alex.
Pernyataan itu terdengar sederhana.

Namun justru di situlah tantangannya.

Menanam dalam satu hari adalah hal yang relatif mudah. Yang jauh lebih sulit adalah kembali datang ketika kamera telah pergi, ketika panggung telah dibongkar, ketika seragam telah disimpan, dan ketika tepuk tangan telah lama berhenti.

Apakah bibit itu masih tumbuh?
Apakah ada yang merawatnya?
Apakah ada yang menjaganya dari kerusakan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menentukan apakah sebuah gerakan lingkungan benar-benar menjadi gerakan, atau sekadar catatan seremoni.

Menanam. Merawat. Menjaga.

Tiga kata sederhana yang menuntut ketekunan panjang.

Pemuda dan Wajah Baru Batam
Di titik ini, IPK sedang berupaya menampilkan wajah yang berbeda.

Bukan dengan meninggalkan sejarah dan identitas organisasinya, melainkan dengan memperluas makna keberadaannya.

Organisasi kepemudaan tidak hanya dituntut hadir saat masyarakat membutuhkan tenaga, solidaritas, atau kebersamaan. Pemuda juga memiliki ruang untuk berbicara tentang masa depan kota yang mereka tinggali.

Sebab, pemuda hari ini adalah pihak yang akan menerima konsekuensi dari keputusan hari ini.
Jika pesisir dijaga, mereka akan menikmati lingkungan yang lebih sehat.

Jika lingkungan dibiarkan rusak, merekalah yang akan menghadapi dampaknya.
Karena itu, keterlibatan pemuda dalam isu lingkungan bukan sekadar aktivitas tambahan. Ia adalah bagian dari tanggung jawab terhadap masa depan.

Batam sedang bertumbuh.
Pembangunan bergerak, investasi masuk, kawasan industri berkembang, dan kebutuhan ruang terus meningkat. Namun di tengah seluruh dinamika itu, ada satu pertanyaan penting:
Batam ingin tumbuh menjadi kota seperti apa?
Kota yang hanya meninggikan bangunan, atau kota yang juga menyehatkan lautnya?
Kota yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, atau kota yang juga menjaga pesisirnya?

Pertumbuhan dan lingkungan seharusnya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling meniadakan.

Keduanya harus menemukan titik temu.
Dan titik temu itu membutuhkan keberanian untuk mengubah cara pandang: bahwa lingkungan bukan beban pembangunan, melainkan bagian dari fondasi masa depan pembangunan itu sendiri.

Ketika Organisasi, Dunia Usaha, dan Masyarakat Bertemu

Upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

Pemerintah memiliki kewenangan. Masyarakat memiliki kepedulian. Pemuda memiliki energi. Komunitas memiliki jejaring. Dunia usaha memiliki sumber daya.

Jika masing-masing berjalan sendiri, hasilnya akan terbatas.

Namun jika bertemu dalam satu kepentingan yang sama—yakni menjaga keberlanjutan Batam—maka langkah kecil dapat menjadi gerakan besar.

Dalam sebuah diskusi bersama Ketua IPK Kepri Budi Bukti Purba, John Kenedy, pimpinan Panbil Group Batam, menyatakan dukungan terhadap langkah IPK yang mulai memberi perhatian pada isu lingkungan.

Menurut Budi, kepedulian Panbil Group terhadap lingkungan bukan hal baru. Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) telah berjalan, termasuk dalam upaya perbaikan lingkungan.
“Program Panbil terhadap lingkungan sudah berjalan. Dan ke depan mereka akan menggandeng IPK,” ujar Budi.

Pertemuan tersebut menunjukkan satu hal penting: menjaga lingkungan tidak harus dilakukan secara terpisah.

Ada ruang bagi organisasi kemasyarakatan, pemuda, perusahaan, komunitas, dan tentu saja masyarakat luas.

Semua dapat bertemu dalam satu kepentingan yang sama: memastikan Batam tetap memiliki masa depan yang layak dihuni.

Kolaborasi semacam ini juga membuka peluang yang lebih luas. Penanaman mangrove tidak harus berhenti pada momentum HUT. Ia dapat dikembangkan menjadi program berkelanjutan—mulai dari pembibitan, penanaman, pemantauan, edukasi masyarakat pesisir, hingga pengembangan kawasan berbasis ekologi dan sosial.

Dengan demikian, mangrove tidak hanya menjadi simbol.

Ia menjadi gerakan.

Semangat yang Menular

Di tengah perjalanan ini, dukungan berbagai elemen masyarakat menjadi penting.

Ketua PWI Batam, Khafi Anshary, menilai semangat IPK dalam membangun Batam dapat menjadi inspirasi yang perlu terus dikembangkan.
Semangat tersebut pada akhirnya tidak seharusnya berhenti di tubuh IPK.

Ia harus menular.

Dari organisasi ke komunitas.
Dari komunitas ke masyarakat.
Dari masyarakat ke generasi berikutnya.
Sebab persoalan lingkungan terlalu besar jika ditanggung oleh satu pihak saja.
Hari ini IPK menanam mangrove.

Besok mungkin organisasi lain menanam pohon di kawasan kritis. Komunitas pemuda membersihkan pesisir. Dunia usaha memperluas program konservasi. Sekolah mengajarkan ekosistem mangrove. Masyarakat pesisir ikut menjaga kawasan yang telah dipulihkan.

Jika itu terjadi, maka satu kegiatan sederhana telah menemukan makna yang lebih besar.
Ia menjadi pemantik.

Menanam Wajah Baru

Usia 57 tahun bagi sebuah organisasi bukanlah angka kecil.

Ia adalah perjalanan panjang yang memuat sejarah, dinamika, perubahan zaman, dan pergantian generasi.

Namun usia panjang juga membawa pertanyaan tentang relevansi.

Untuk apa sebuah organisasi bertahan puluhan tahun jika tidak mampu membaca perubahan zaman?

Dan salah satu isu paling penting hari ini adalah lingkungan.

Batam membutuhkan pertumbuhan, tetapi juga membutuhkan keseimbangan.

Batam membutuhkan pembangunan, tetapi tidak boleh menjadikan alam sebagai korban.

Karena itu, penanaman mangrove dalam momentum HUT ke-57 IPK dapat dimaknai lebih dari sekadar kegiatan penghijauan.

Ia adalah upaya menanam wajah baru organisasi.

Wajah yang lebih dekat dengan masyarakat.
Wajah yang peduli pada keberlanjutan.

Wajah yang tidak hanya hadir dalam hiruk-pikuk persoalan sosial, tetapi juga bersedia turun langsung, bekerja bersama alam.

Barangkali pohon-pohon itu belum terlihat berarti hari ini.

Namun semua hutan besar selalu berawal dari hal kecil.
Satu bibit.
Satu tangan.
Satu kepedulian.
Lalu tumbuh menjadi banyak
Begitu pula perubahan.

Ia tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau pidato panjang. Kadang ia dimulai dari sekelompok anak muda yang datang ke pesisir pada hari ulang tahun organisasi, membawa bibit mangrove, lalu menanamnya di tanah.

Mereka pulang dengan pakaian yang kotor oleh lumpur.

Namun mungkin tanpa disadari, mereka membawa pulang sesuatu yang lebih penting:
kesadaran bahwa merawat Batam adalah tanggung jawab bersama.

Dan kelak, ketika mangrove itu tumbuh rimbun, ketika akar-akarnya mengikat tanah dan burung-burung kembali singgah, mungkin tidak banyak yang mengingat siapa yang menanamnya.

Tidak mengapa.

Sebab pohon tidak pernah meminta untuk disebut.

Ia hanya tumbuh.
Memberi teduh.
Menahan abrasi.
Menjadi rumah bagi kehidupan.

Dan dalam diamnya, ia mengajarkan satu hal kepada manusia:
bahwa kebaikan tidak selalu harus segera terlihat hasilnya. Yang terpenting adalah ada yang memulai, dan ada yang setia menjaganya.

Di usia ke-57, IPK memilih menanam.

Semoga yang tumbuh bukan hanya mangrove di pesisir Batam, tetapi juga kesadaran baru bahwa mencintai kota bukan sekadar tinggal di dalamnya.

Mencintai Batam berarti ikut menjaga tanahnya, lautnya, pesisirnya, dan masa depannya. (Jonkavi)