Piagam Haru di Balik Selembar Penghargaan

Avatar photo

Catatan Ketua PWI Batam: Tentang Perpisahan, Pengabdian, dan Seorang Pembina yang Mengajari dengan Cara Tak Biasa

Setelah hampir setengah tahun tak berjumpa, Jumat (30/10/2026), saya kembali berkunjung ke Kantor KSOP Khusus Batam.

Di sebuah meja kayu panjang di kantin kantor itu, saya berjumpa dengan pembina PWI Batam, yang sebelumnya menjabat Kepala Bidang Penegakan Hukum (Kabid Gakkum) KSOP Khusus Batam, Yuzirwan Nasution.

Di hadapannya duduk tiga orang anak buahnya. Usia mereka masih muda. Namun, ada sesuatu yang terasa begitu berat di antara percakapan siang itu. Mata mereka berkaca-kaca. Ada air mata yang berusaha ditahan, ada suara yang tertahan di tenggorokan, dan ada kalimat-kalimat yang seolah tak sanggup diselesaikan.

Saya menyaksikan sebuah perpisahan yang tak biasa.

Hampir lima tahun kami saling mengenal dan menempatkan diri dalam banyak peran. Kadang sebagai sahabat, kadang seperti anak dan orang tua, adik dan abang. Kami pernah berada di sisi yang sama, tetapi tidak jarang pula berhadapan karena kepentingan dan tanggung jawab profesi masing-masing.

Namun, dari obrolan di meja kantin itu, saya menemukan satu cerita yang selama ini luput dari pengetahuan saya.

Ternyata, Yuzirwan punya kebiasaan memaksa dan mengancam anak buahnya.

Jangan salah mengartikan. Ancaman yang dimaksud bukan untuk menakut-nakuti, apalagi menjatuhkan. Ia memaksa anak buahnya terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan menempuh pendidikan lebih tinggi. Mereka yang enggan sekolah bahkan diancam akan dikeluarkan dari bidang yang dipimpinnya.

Bukan sekadar menyuruh, ia juga bersedia membantu biaya pendidikan anak buahnya.

“Kami tiga puluh orang sudah sekolah semua. Ada yang sampai S2,” kata salah seorang dari mereka.

Saya terdiam sejenak.

Di dunia pelayaran, seorang nahkoda tidak cukup hanya memastikan kapalnya tiba di pelabuhan. Ia juga bertanggung jawab memastikan awak kapalnya memiliki kemampuan menghadapi gelombang, membaca arah angin, dan memahami kompas. Sebab, kapal yang besar tidak akan berarti jika orang-orang di atasnya tidak tumbuh menjadi pelaut yang tangguh.

Mungkin begitulah cara Yuzirwan memimpin. Ia tidak ingin anak buahnya selamanya menjadi pengikut di belakang kemudi. Ia ingin mereka kelak mampu memegang kendali atas perjalanan mereka sendiri.

Obrolan kami terhenti oleh panggilan salat Jumat.

Siang itu saya datang bersama Sekretaris PWI Batam Romi Chandra, Ketua Seksi Pendidikan Kamal Asni, Wakil Bendahara Rengga Yuliandra, serta Presiden Malaka, Bintang Antonio.

Usai salat Jumat, kami menyerahkan dua piagam penghargaan kepada Kepala KSOP Khusus Batam M. Takwim Masuku dan Capt. Yuzirwan Nasution.

Keduanya kami anugerahi penghargaan sebagai Sahabat Pers, atas kontribusi mereka dalam mendukung peningkatan kualitas pers di Kota Batam.

Bagi kami, piagam itu adalah bentuk penghormatan. Sebuah catatan kecil tentang hubungan baik, dukungan, dan persahabatan yang telah terjalin.

Tetapi, setelah mendengar cerita di meja kantin tadi, saya menyadari ada penghargaan lain yang jauh lebih besar bagi seorang Yuzirwan Nasution.

Penghargaan itu tidak dicetak di atas kertas. Tidak dibingkai dengan kaca. Tidak pula membutuhkan tanda tangan atau stempel.

Ia hadir dalam mata yang berkaca-kaca, suara yang bergetar, dan pelukan yang seolah enggan dilepaskan.

Itulah piagam yang ditulis oleh pengabdian, ditandatangani oleh ketulusan, dan disahkan oleh ingatan orang-orang yang pernah tumbuh bersamanya.

Barangkali, inilah bentuk penghargaan paling jujur yang bisa diterima seorang pemimpin. Ketika ia meninggalkan jabatan, orang-orang yang pernah dipimpinnya justru merasa kehilangan. Ketika ia meninggalkan ruangan, kenangan tentang cara ia mendidik tetap tinggal di sana.

Jumat siang itu juga menjadi hari terakhir bagi keduanya menjalankan tugas di Kantor KSOP Khusus Batam. M. Takwim Masuku mendapat penugasan baru sebagai Direktur KPLP sementara Yuzirwan Nasution melanjutkan pengabdian di Palembang.

Dua orang sahabat pers akan melanjutkan pelayaran di perairan pengabdian yang berbeda. Pelabuhannya berganti, haluannya mungkin berubah, tetapi jejak perjalanan tidak serta-merta hilang.

Kami mengakhiri obrolan dengan menyerahkan piagam penghargaan, lalu mengantarkan keduanya meninggalkan halaman kantor.

Ada banyak hal yang bisa ditulis seorang wartawan tentang perpisahan. Tentang jabatan yang berganti, surat keputusan yang terbit, atau pejabat yang berpindah tempat tugas. Semua itu bisa menjadi berita. Lengkap dengan siapa, kapan, di mana, dan ke mana.

Namun, ada satu hal yang tak selalu tertangkap oleh kamera dan tak mudah dirangkum dalam sebuah berita: tentang orang-orang yang menangis ketika seseorang harus pergi.

Hari itu saya belajar, bahwa tidak semua penghargaan harus diberikan oleh sebuah organisasi. Ada penghargaan yang lahir dari hati orang-orang yang pernah disentuh oleh pengabdian.

Dan mungkin, bagi seorang pemimpin, itulah piagam paling mahal yang tak akan pernah bisa dibeli.

Selamat berlayar di haluan pengabdian yang baru, Bang Yuzirwan dan Pak Takwim.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan kami. Semoga laut yang berbeda tetap mempertemukan kita dalam persahabatan yang sama.

Sebab, pada akhirnya, jabatan boleh berganti, kantor boleh ditinggalkan, tetapi kebaikan selalu punya cara untuk menetap.

M.A. Khafi Anshary

Ketua PWI Batam