Bataminfo.co.id, Batam– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa Kepri menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi kemanusiaan yang berlangsung dengan penuh antusias di Batam, Minggu(05/07/26). Kegiatan ini menghadirkan delegasi dari misi kemanusiaan global, Sumud Flotilla, sebuah gerakan internasional yang berfokus pada penembusan blokade dan penyaluran bantuan ke Jalur Gaza, Palestina.
Kehadiran para delegasi disambut hangat oleh puluhan peserta yang memenuhi ruangan. Diskusi berjalan interaktif dan sarat emosi ketika para narasumber membagikan kesaksian mereka mengenai situasi terkini di bawah bayang-bayang konflik.
Dalam acara tersebut, panitia memutarkan video perjalanan Andre, Jurnalis Tempo Tv yang sempat diculik oleh Israel sewaktu bertugas pada Mei 2026. Ia membagikan pengalaman berharganya yang membuatnya mengalami trauma saat diikat dan disuruh bersujud sambil mendengarkan lagu kebangsaan Israel diatas sebuah Kapal.
Ustadz Herman Budianto, selaku General Manager (GM) Kepatuhan Syariah dan Legal Dompet Dhuafa, turut hadir dan membagikan kisah yang menggetarkan hati. Ia menyampaikan pengalamannya secara langsung saat berada di lapangan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia.
Ustadz Herman menceritakan bagaimana ia menyaksikan sendiri kekejaman serta tindakan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh militer Israel terhadap warga sipil Palestina. Menurutnya, hambatan dan intimidasi di perbatasan tidak menyurutkan komitmen lembaga kemanusiaan untuk terus menyuarakan keadilan dan mengirimkan logistik penting demi bertahan hidupnya warga Gaza.
”Melihat langsung apa yang terjadi di sana membuat kita sadar bahwa ini bukan lagi sekadar isu politik atau agama, melainkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa kejamnya. Kehadiran kita di sini, melalui kolaborasi ini, adalah bentuk komitmen bahwa Indonesia tidak akan pernah berhenti berpihak pada kemanusiaan,” ujar Ustadz Herman di sela-sela diskusi.
Ketua AJI Batam, Yogi, menyambut baik kolaborasi lokal ini sebagai upaya membawa isu blokade Gaza agar lebih dipahami oleh masyarakat luas, sekaligus mengubah stigma bahwa konflik ini bukan isu agama, melainkan murni tragedi kemanusiaan.
Yogi secara khusus menyoroti pentingnya peran jurnalis dan media dalam mempertahankan independensi dan menyuarakan kebenaran di tengah gempuran sensor serta distorsi narasi global. Ia mencontohkan salah satu jurnalis Tempo yang juga anggota AJI Lampung, yang ikut dalam misi ke Gaza, mengalami kekerasan, dan berhasil mendokumentasikan perjalanan tersebut melalui video.
Dalam pesannya kepada para jurnalis, Yogi mengingatkan agar media tidak terjebak dalam pembingkaian (framing) sepihak yang mengaburkan fakta objektif di lapangan.
”Kemarin kan sempat di isu kasus Sumud Flotilla itu, narasi yang dibangun banyak mengarah pada pembingkaian (framing) seolah-olah itu bukan penculikan atau pencegatan, melainkan penahanan biasa. Padahal, fakta yang disampaikan oleh saksi mata dan dokumentasi jurnalis di lapangan menunjukkan dengan jelas adanya tindakan pencegatan dan penculikan (intercept),” tegas Yogi.
Yogi berharap media massa tetap teguh berdiri di atas fakta dan bersandar pada keterangan narasumber yang kredibel serta menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
”Kita berharap media tetap berpandangan pada fakta yang ada di lapangan, termasuk pada narasumbernya. Bukan kepada framing-framing yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu yang tidak ingin melihat kemerdekaan Palestina dan lain sebagainya. Secara keseluruhan, isu Gaza ini harus tetap kita bawa ke ranah media dengan berpegang teguh pada kebenaran objektif,” pungkasnya.
Penuh Antusias, AJI Batam dan Dompet Dhuafa Gelar Nobar & Diskusi Bersama Delegasi Misi Kemanusiaan Gaza












