Bataminfo.co.id ,Batam – Senja itu tak semestinya datang dengan kabar duka. Namun, alam seolah enggan berpihak. Seorang anak laki-laki, masih belia, masih penuh mimpi, harus mengakhiri perjalanannya dengan cara yang paling pilu.
Noval, 15 tahun, bocah yang pagi harinya mungkin masih tertawa, kini telah diam selamanya di aliran drainase yang dingin dan ganas di Kaliban, Kabil, Nongsa, Batam.
Rabu sore yang kelabu, 1 Juli 2026, sekitar pukul 13.09 WIB, adalah saat di mana dunia kecil Noval runtuh. Ia yang hanya berniat membersihkan kakinya di tepi aliran, tak pernah menduga bahwa arus deras akan dengan kejam merenggut pijakannya.
Sekali terpeleset, tubuh mungilnya langsung disambar air bah yang tak kenal ampun. Teman-temannya berteriak, merentangkan tangan, tetapi kuasa alam begitu besar.
Mereka hanya bisa terdiam, menyaksikan Noval perlahan menghilang ditelan kegelapan air.
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan harapan mulai sirna. Warga Kampung Mandiri, Kabil, bahu-membahu dengan tim penyelamat Basarnas, menyisir setiap sudut aliran dengan hati yang berdebar.
Namun, doa-doa yang dipanjatkan seakan tertahan di langit yang masih mendung.
Hingga akhirnya, pukul 17.00 WIB, kesedihan itu memuncak. Jasad Noval ditemukan, terbaring lemah, sekitar satu kilometer dari tempat ia terakhir kali berpijak.
Satu kilometer yang terasa begitu jauh, satu kilometer yang menjadi saksi bisu perjuangan kecilnya melawan arus.
Tim Basarnas dan kepolisian dari Polsek Nongsa, yang tiba di lokasi hanya bisa menggelengkan kepala.
Mereka mengangkat jasad Noval dengan penuh kehati-hatian, seolah tak tega membangunkan bocah malang itu dari tidur panjangnya.
“Ia hanya ingin bermain, seperti anak-anak lain seusianya. Hujan deras dan arus menjadi biang keladinya,” ucap salah seorang tim Basarnas dengan nada lirih, matanya berkaca-kaca. “Temannya sudah berusaha menolong, tapi arus terlalu kuat.”
Kini, jasad Noval yang dingin itu dibawa menuju RS Bhayangkara Polda Kepri. Mobil ambulans melaju pelan, diiringi rintik hujan yang seolah ikut meratapi kepergiannya.
Selamat jalan, Noval. Sungai itu mungkin telah mengambil ragamu, tapi kenangan tentangmu akan tetap mengalir abadi di hati kami. ***












