Bataminfo.co.id, Batam – Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kepri, Jumaga Nadeak angkat bicara terkait Tim Paduan Suara Wanita (PSW) perwakilan Kepulauan Riau (KEPRI) yang gagal berangkat ke Monokwari, Papua Barat.
Para Peserta tersebut diketahui harusnya diberangkatkan ke Papua untuk turut mengikuti Ajang bergengsi yaitu Pesta Paduan Suara (PESPARAWI) Nasional 2026.
Namun, keberangkatan tim yang berjumlah puluhan orang itu harus terhenti di tengah perjalanan, dikarenakan belum mengantongi tiket sesungguhnya, perjalanan Batam-Monokwari dan sebaliknya.
Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua LPPD Kepri, Jumaga Nadeak dalam konferensi pers yang digelar pada Senin, (29/6/26) di Kantor LPPD Kepri yang berlokasi di Wilayah Batam Center.
Dalam pernyataannya, Jumaga juga mengaku kurang detail dalam memastikan hal-hal terkait keberangkatan para peserta, terkhususnya mengenai tiket.
Ia mengungkapkan, terkait persiapan keberangkatan para peserta, terkhususnya mengenai tiket, pihaknya selalu berkoordinasi baik dengan pihak Rizki Evanti Bersahaja Tour and Travel sebagai jasa travel yang telah dipilihnya.
“Hampir tiap hari kami konfirmasi ke pihak travel. Bahkan pihak travel bilang akan dampingi ke Monokwari. Tapi disitulah kelemahan saya, tidak cek secara detail. Saya dapat info katanya tiketnya sudah ok. Dalam amplop cokelat, itu diserahkan ke peserta. Saat itu begitu, saya bilang bungkus. Saya memang tak cek lagi. Itu kelemahan saya,” ungkap Jumaga.
Dalam keterangan resminya, Jumaga juga menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah pihak, termasuk kepada para peserta yang gagal berangkat.
“Saya minta maaf, ini kekurangan saya. Saya minta maaf kepada Pak Gubernur, minta maaf juga terutama kepada para Peserta yang akhirnya tidak jadi berangkat ke Papua,” ucapnya.
Dia menjelaskan, pihaknya sudah mengantisipasi kenaikan harga tiket pesawat menuju Manokwari sejak Januari 2026, sehingga memesan lebih awal melalui Rizki Evanti Bersahaja Tour and Travel.
Kata dia, saat pemesanan dilakukan, dana hibah dari Pemerintah Daerah (PEMDA) belum cair, sehingga pihak travel diminta membantu proses pemesanan terlebih dahulu.
“Saat itu dana dari Pemerintah memang belum cair. Sehingga kami minta pihak Travel untuk membantulah dulu untuk tiket peserta,” jelasnya.
Kemudian ia menjelaskan, setelah dana dari pemerintah provinsi cair pada Mei 2026, LPPD Kepri melunasi tiket sebesar Rp1.016.300.000 untuk 68 peserta dan official pada 7 Mei 2026.
Pihak travel juga menyerahkan dokumen booking pada 25 Mei yang meyakinkan panitia bahwa seluruh tiket sudah aman.
Namun, mulai terungkap kejanggalan saat anggota Tim sendiri memeriksa tiket di Bandara Hang Nadim Batam pada 24 Juni, tepat sehari sebelum keberangkatan.
Nama para peserta memang telah dibooking, tetapi belum dibayar. Sementara itu, sebanyak 11 orang telah lebih dulu diberangkatkan dengan tujuan untuk persiapan.
“Di bandara kami mendapat informasi bahwa tiket memang dibooking, tetapi belum dibayar. Di situlah kami benar-benar kaget,” kata Jumaga.
Mengetahui persoalan yang terjadi, Jumaga selaku Ketua LPPD Kepri beserta panitia lainnya memutuskan untuk membatalkan keberangkatan seluruh Tim PSW dengan alasan, karena tiket kepulangan juga belum tersedia. Tiketnya yang tersedia diketahui hanya Batam-Jakarta, sementara tiket ke Monokwari dan balik nanti belum ada.
“Kami tidak mungkin memberangkatkan peserta kalau tiket pulangnya juga belum jelas. Karena keselamatan dan kepastian mereka harus menjadi prioritas. Saya bilang sama saja kalau tiket balik nanti belum jelas,” jelasnya.
Ia juga membantah anggapan yang beredar luas di publik bahwa LPPD Kepri belum membayar tiket ke biro perjalanan itu tak benar.
Ia juga kembali menegaskan bahwa pihaknya sebagai panitia yang bertanggungjawab atas keberangkatan peserta telah mentransfer seluruh dana sesuai tagihan yang diajukan pihak travel.
“Kami mau tegaskan bahwa uangnya sudah kami bayarkan lunas. Tidak ada alasan bagi kami untuk menahan pembayaran. Yang jadi fokus kami adalah bagaimana seluruh kontingen bisa berangkat,” tegasnya.
Akibat ketelodoran tersebut, anggota PSW sebanyak 27 orang diduga sempat terlantar di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Bahkan, sebelum akhinya kembali ke Kepri, Tim PSW juga sempat mengisi kekecewaannya dengan bernyanyi di Bandara hingga viral di media sosial (MEDSOS).
Jumaga dalam kesempatan ini juga menyatakan bahwa dirinya lah yang bertanggungjawab atas ketelodoran hingga gagalnya keberangkatan kontingen Pesparawi Kepri ke Papua.
“Ya, yang paling bertanggungjwab adalah saya (Jumaga Nadeak). Ini akan dipertanggungjawabkan nanti tanggL 24 Desember. Kita tnggungjawab. Ini kelemahan saya. Saya yang salah. Makanya saya minta maaf kepada semua pihak, termasuk Jemaat di kepri. Kemudian untuk meluruskan berita yang berseliweran di media,” ucap Jumaga yang didampingi rekan Panitia.
Jumaga juga menegaskan bahwa pihaknya akan tetap menempuh jalur hukum mengenai kasus ini.
Meski bgitu kata dia, pihaknya akan lebih mengutamakan jalur musyawarah terlebih dahulu dengan pihak travel.
“Jika tak ada titik temu, kami akan tetap tempuh jalur hukum. Namun demikian, kami mengedepankan penyelesaian secara musyawarah terlebih dulu,” ujarnya.
Sementara itu, pihak Travel yang juga dihadirkan dalam konferensi pers ini, dihadapan awak media, Vivi selaku Direktur Rizki Evanti Bersahaja Tour and Travel menyatakan bahwa dirinyalah bersalah atas polemik ini, serta siap bertanggungjawab.
“Saya siap untuk bertanggungjawab dan mengembalikan kerugian LPPD yang disebabkan saya sendiri. Yang teledor adalah saya. Untuk itu, saya siap bertanggungjawab,” ungkapnya.
Ia juga sembari menyampaikan permintaan maafnya kepada semua pihak yang dirugikan dalam kasus ini.
“Saya juga meminta maaf kepada LPPD Kepri, kepada para Peserta yang harusnya berangkat tapi gagal. Dengan berbesar hati, saya meminta maaf,” ucap Vivi.












