Bataminfo.co.id, Natuna – Berawal dari keterpurukan ekonomi saat pandemi Covid-19, Bong Dani berhasil membangun UMKM.kopi Piwang yang kini menjadi kemasan lokal yang turut menggerakkan roda perekonomian Natuna.
Di tengah situasi yang penuh tantangan, lahirlah Kopi Piwang, sebuah merek kopi asal Natuna dengan cita rasa yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Usaha tersebut menjadi bukti semangat untuk bangkit dari masa sulit.
Nama Bong Dani sudah tidak asing bagi masyarakat Natuna. Pelaku UMKM ini merupakan sosok di balik hadirnya Kopi Piwang. Ketika pandemi melanda, usaha yang sebelumnya dijalankannya mengalami penurunan sehingga mendorongnya mencari berbagai referensi melalui media sosial, terutama YouTube.
Dari pencarian tersebut, Dani menemukan pelatihan pembuatan kopi botolan yang diselenggarakan pelaku usaha di Surabaya. Berbekal tekad untuk bangkit, ia kemudian membeli resep secara komersial dan mulai mempraktikkannya.
Namun, racikan pertama yang dihasilkan belum sepenuhnya sesuai dengan selera masyarakat Melayu di Natuna. Rasa susu dinilai terlalu dominan sehingga karakter kopinya kurang terasa.
Tak ingin menyerah, Dani terus melakukan berbagai percobaan. Setelah sekitar dua belas kali eksperimen, ia akhirnya menemukan racikan yang dianggap paling sesuai.
“Sebelum dipasarkan secara luas, kopi ini kami bagikan terlebih dahulu kepada teman dan kerabat untuk meminta masukan. Ada yang bilang masih terlalu pahit, ada juga yang merasa kurang manis,” kata Dani, Rabu (17/6/2026).
Masukan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi hingga akhirnya ia menemukan komposisi rasa yang seimbang dan dapat diterima konsumen.
“Di balik tampilannya yang sederhana, proses pembuatan Kopi Piwang membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak singkat. Setelah dimasak, kopi didiamkan selama sekitar 30 menit agar sari kopi keluar secara maksimal sebelum melalui dua tahap penyaringan untuk memastikan tidak ada ampas yang tersisa,” ujar Dani.
Seluruh tahapan produksi, mulai dari memasak hingga pengemasan, memerlukan waktu sekitar enam jam. Lamanya proses tersebut membuat tingginya permintaan pasar terkadang menjadi tantangan tersendiri.
Pada masa awal produksi, Kopi Piwang menggunakan kopi Gayo asal Aceh sebagai bahan baku utama. Namun, kendala distribusi menyebabkan pasokan kerap terlambat datang. Dalam sekali pemesanan, kebutuhan bahan baku mencapai 40 hingga 50 kilogram, sementara stok yang tersedia sering habis sebelum kiriman berikutnya tiba.
“Kendala itu mendorong kami mencari alternatif yang lebih dekat. Pilihan akhirnya jatuh pada kopi asal Tanjungpinang. Selain menjaga kelancaran produksi, langkah ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap produk lokal Kepulauan Riau,” tutur Dani.
Untuk menjaga mutu, berbagai pengujian terhadap daya tahan minuman tersebut telah dilakukan. Dalam kondisi penyimpanan dingin, Kopi Piwang mampu bertahan lebih dari dua bulan tanpa mengalami perubahan rasa.
Meski demikian, minuman yang dititipkan di warung-warung tetap dipantau secara berkala. Apabila dalam waktu sekitar satu minggu belum habis terjual, stok lama akan ditarik dan diganti dengan yang baru demi menjaga kualitas.
“Saat ini Kopi Piwang hadir dalam dua varian, yakni kopi hitam original dan kopi susu. Meski banyak masukan agar menghadirkan rasa baru seperti vanila atau cappuccino, kami memilih mempertahankan cita rasa yang selama ini sudah dikenal konsumen,” ungkapnya.
Menurut Dani, kesederhanaan rasa justru menjadi salah satu kekuatan yang membuat Kopi Piwang diminati pembeli.
“Seluruh varian dipasarkan dengan harga Rp10 ribu per botol. Sebagai bentuk komitmen terhadap kualitas dan kepercayaan konsumen, Kopi Piwang telah mengantongi berbagai legalitas usaha, mulai dari sertifikat halal, Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas merek Kopi Piwang,” jelasnya.
Sejak mulai dipasarkan pada 2021, Kopi Piwang sempat menjangkau Selat Lampa dan Pulau Tiga. Namun, karena kendala distribusi, pemasaran di wilayah tersebut untuk sementara dihentikan.
Saat ini, jangkauan penjualan terjauh telah mencapai Kecamatan Midai dan sejumlah wilayah di Bunguran Besar. Sementara di Bunguran Timur, distribusinya telah menjangkau hingga Sungai Ulu.
Bagi Dani, kehadiran Kopi Piwang bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Ia berharap usaha yang lahir dari masa sulit tersebut dapat memberi manfaat bagi konsumen, para pemilik warung mitra penjualan, serta ikut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Komitmen menggunakan bahan tanpa pengawet menjadi prinsip yang terus kami pertahankan demi menjaga kualitas yang diterima masyarakat,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah daerah dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku UMKM dengan memanfaatkan hasil produksi lokal dalam setiap kegiatan resmi.
“Kalau ada rapat atau kegiatan pemerintah, gunakanlah produk UMKM daerah. Dengan begitu ekonomi masyarakat bergerak dan produk lokal kita semakin dikenal orang luar,” harapnya.
Berawal dari masa sulit akibat pandemi, Kopi Piwang kini tumbuh menjadi simbol ketekunan pelaku UMKM Natuna. Perjalanan usaha tersebut membuktikan bahwa ikhtiar yang dijalani dengan kesungguhan hati mampu melahirkan manfaat yang lebih luas bagi daerah.
Laporan: (Is)












