Dari Negeri Seberang, Jejak Kepedulian Itu Menepi di Riau

Avatar photo
Arsip BI

Bataminfo.co.id, Dumai – Langit Dumai pagi itu belum sepenuhnya terang ketika rombongan wisatawan asal Malaysia menapakkan kaki di tanah Riau. Dari pelabuhan yang sibuk oleh lalu lalang manusia dan barang, hadir sebuah perjalanan yang bukan sekadar wisata biasa. Mereka datang membawa sesuatu yang lebih sunyi namun bermakna: kepedulian dan persaudaraan.

Di tengah aroma laut dan semilir angin pesisir, rombongan dari negeri jiran itu menyerahkan 12 ekor lembu dan 2 ekor kambing untuk pesantren milik Ustaz Abdul Somad.

Hewan-hewan qurban itu bukan hanya bantuan semata, melainkan simbol kasih dan ikatan serumpun yang telah lama tumbuh di antara dua bangsa yang dipisahkan laut, tetapi dipertemukan sejarah, budaya, dan doa-doa yang serupa.

Kehadiran mereka disambut hangat Direktur Pamobvit Polda Riau, Kombes Pol Suherman Zein, SH, MH. Dengan wajah penuh keramahan, ia menyampaikan bahwa Riau membuka tangan bagi setiap niat baik yang datang.

“Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi bentuk silaturahmi dan kepedulian yang sangat berarti bagi masyarakat Riau,” ujarnya.

Di balik penyambutan itu, jajaran Direktorat Pamobvit Polda Riau juga memastikan rasa aman bagi seluruh tamu selama berada di Bumi Lancang Kuning.

Pengamanan dilakukan bukan hanya sebagai tugas negara, melainkan penghormatan kepada para tamu yang datang membawa niat berbagi.
Namun perjalanan itu tak berhenti pada penyerahan hewan qurban.

Setibanya di kawasan Pelabuhan Dumai, rombongan wisatawan Malaysia bersama aparat kepolisian dan masyarakat ikut menanam pohon dalam program Green Police yang digagas Kapolda Riau. Tangan-tangan yang sebelumnya menggenggam koper dan perlengkapan perjalanan, pagi itu berganti memegang bibit pohon dan cangkul kecil.

Mereka menanam harapan di tanah pesisir.

Satu demi satu pohon ditanam sebagai penanda bahwa persaudaraan tidak hanya tumbuh dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata menjaga bumi bersama. Di tengah tawa ringan dan percakapan yang bercampur logat Melayu dua negeri, suasana kebersamaan terasa begitu hangat dan sederhana.

Kegiatan qurban dan tausiah sendiri dijadwalkan berlangsung pada tanggal 30 mendatang di Pesantren Ustaz Abdul Somad.

Momentum itu diperkirakan menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, santri, aparat, dan tamu dari Malaysia dalam balutan nilai keagamaan dan semangat berbagi.
Kelak, daging qurban mungkin akan habis dibagikan.

Pohon-pohon yang ditanam hari itu pun membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh rindang. Namun jejak kepedulian yang ditinggalkan rombongan wisatawan Malaysia di Riau agaknya akan tinggal lebih lama, hidup dalam ingatan tentang persaudaraan yang tak mengenal batas negara.