Bataminfo.co.id, Lingga – Tokoh Aktivis Pemerhati Kemanusiaan Pastor Chrisanctus Paschalis Saturnus yang sering dipanggil Romo Paschal menyoroti PHK massal yang dialami oleh Tenaga Harian Lepas (THL) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga.
Romo Paschal mengatakan, mengecam keras atas tindakan arogansi dari hasil keputusan Bupati Lingga M. Nisar yang disebut-sebut telah melakukan pemecatan tersebut.
“Perjuangan mereka untuk mendapatkan hak dalam kemerdekaan kehidupan masyarakat yang berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, kini menjadi momok arogansi pribadi dari seorang Bupati Lingga M.Nisar yang telah mengebiri hak rakyatnya sendiri,” ujar Romo Paschal pada Jum’at (2/7/2021) siang.
Lanjutnya, dengan kondisi Covid-19 yang makin melonjak ini, sikap dan para kaki tangan Bupati Lingga tersebut telah membuang rakyatnya sendiri yaitu para Pegawai PTT dan THL di Lingkungan Pemkab Lingga.
“Ditengah pandemi saat ini, dengan keadaan ekonomi yang menurun, Bupati Lingga dengan mudahnya melakukan PHK para pegawai tersebut,” ungkapnya.
Sampai dengan saat ini, Bupati Lingga enggan untuk berjumpa dengan masyarakat diantaranya dari Aktivis Pemerhati Kemanusiaan.
“Sudah berminggu-minggu kita ingin berjumpa dengan Bupati Lingga dan sampai saat ini masih tidak mau berjumpa dengan kita,” pungkasnya.
Berikut isi surat terbuka dari Romo Paskal kepada Bupati Lingga M. Nisar
DARI “RAKYAT LINGGA YANG TERBUANG”
Bahwa kami pada bulan Juni 2021 yang sehari-hari mengabdi sebagai Tenaga Harian Lepas (THl) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lingga telah diputuskan kontrak kerjanya oleh Pemerintah Kabupaten Lingga dalam hal ini Bupati.
Bagi kami ini adalah kebijakan yang arogan apalagi bupati mempertontonkan arogansi kebijakan itu dengan berbicara di media menantang kami di PTUN tetapi menolak berbicara dengan kami yang sudah berhari-hari merasa dibuang menantikan jawaban dan kesempatan bertemu langsung dengan pimpinan kami di pemerintah kabupaten Lingga ini.
Arogansi kebijakan ini sungguh sangat tidak manusiawi di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang sangat terpuruk karena pandemi covid-19. Bukankah seharusnya negara mesti hadir meringankan beban masyarakat. Tetapi Pemerintah Kabupaten Lingga telah menghilangkan pekerjaan dan menimbulkan pengangguran baru dengan arogan. Pun kami tidak dijelaskan mengapa diberhentikan padahal sudah belasan tahun kami mengabdi bukan untuk memperkaya diri tetapi hanya sekedar bertahan hidup, apalagi yang dapat menopang hidup kami selain pekerjaan tersebut.
Entah motif apa yang melatar belakangi kebijakan arogan ini dan untuk kepentingan siapa. Kami tidak tahu. Yang kami tahu, kami tetap akan berjuang menyuarakan isi hati kami ini hingga kami semua mendapatkan kejelasan dan keadilan.
“SALAM DUKA DARI KAMI 213 RAKYAT LINGGA YANG TERBUANG”









