Bea Cukai Diserbu Warganet Gara-Gara Truk TNI Angkut Rokok Ilegal

Avatar photo

 

Bataminfo.co.id, Batam — Narasi “sinergitas antar instansi” mendadak jadi bahan olok-olok publik setelah sebuah video viral dari akun TikTok @bataminfo.co.id menunjukkan truk milik TNI AL digunakan Bea Cukai Batam untuk mengangkut rokok ilegal. Bukan apresiasi yang datang, tapi banjir komentar sinis dan tajam dari warganet. Alasannya satu: masyarakat tak lagi percaya begitu saja.

“Padahal kemarin buzzernya bilang ‘mana ada mobil dinas AL begitu’, lah menjilat ludah sendiri,” sindir akun @Tukangketik. Komentar lainnya jauh lebih frontal: “Gak malu kalian jadi pembohong di negara ini… sumpah kalian penghianat,” kecam @dhanitogatorop.

Akun @Sport Edi Setiawan menyorot alasan minim armada yang dilontarkan Bea Cukai sebagai dalih: “Sekelas Batam itu banyak sewa truk swasta. Masak instansi negara sampai pinjam truk militer?” Komentar lain pun mempertanyakan kredibilitas: “Krisis kepercayaan rakyat, udah gak percaya lagi bapa mau ngomong apa juga,” tulis @anjayxxx1.

Video yang mengklaim “sinergitas” antara Bea Cukai dan TNI AL ini justru memicu spekulasi dan dugaan praktik manipulatif. Tak sedikit yang menyebut penggunaan truk tersebut bisa saja di luar mekanisme resmi, atau malah bagian dari jaringan lebih dalam. Akun @eka putra bahkan menyebut, “Tandai Kolonelnya, jangan-jangan dia yang dekingin lori dinas di pelabuhan.”

Sementara itu, Bea Cukai Batam merilis pernyataan bahwa truk tersebut merupakan bagian dari bantuan resmi TNI AL Lantamal IV untuk mengangkut barang bukti sebanyak lebih dari 3,5 juta batang rokok ilegal. Namun publik tak mudah diyakinkan. Fakta bahwa truk pelat militer digunakan tanpa kejelasan prosedur transparan menjadi amunisi kuat bagi publik yang sudah lelah dengan dalih klise.

Lebih dari 1.400 komentar membanjiri unggahan @bataminfo hingga 20 Mei 2025, memperlihatkan bagaimana krisis kepercayaan terhadap aparat semakin dalam. Bukannya tenang, narasi “minim armada” justru memperuncing kecurigaan.

Meski Bea Cukai menyebut kasus ini bagian dari “Operasi Gurita” nasional, publik kini punya satu pertanyaan besar: apakah gurita ini menangkap kejahatan, atau justru menyamarkan belalai kekuasaan (Red)