Batam  

Rana yang Menolak Pensiun Itu Bernama Agus Bagjana

Avatar photo
Dari kiri: Ketua Dewan penasihat PWI Batam, Agus Bajagna, berbincang dengan Ketua PWI Batam, M A Khafi Anshary

Catatan Ketua PWI Batam, M. A. Khafi Anshary

Batamimfo.co.id,Batam  – Di tengah zaman ketika jurnalisme kerap dipersempit menjadi sekadar kecepatan unggahan dan hitungan klik, saya merasa perlu berhenti sejenak. Sekadar untuk menunjuk satu teladan: Agus Bagjana. Seorang wartawan yang menolak pensiun. Menolak bukan karena takut menua, melainkan karena ia masih setia pada makna.

Usia kepala lima kerap dijadikan alasan untuk menepi. Bagi Agus, usia justru menjadi penegasan arah. Ia tetap berjalan, kamera tergantung di lehernya bukan sebagai aksesori profesi, melainkan sebagai sikap hidup. Ia adalah wartawan yang ditempa oleh proses panjang: oleh bau tinta cetak dan derit mesin offset, disiplin ruang redaksi, serta etika jurnalistik yang tak pernah diajarkan oleh algoritma.

Agus bukan produk instan. Ia lahir dari koran. Besar di ruang redaksi. Bertumbuh bersama media yang pernah menjadi kiblat jurnalisme Batam. Koran legenda itu bernama Posmetro Batam. Ya, koran yang dari rahimnya pula melahirkan saya. Dari sanalah kami belajar bahwa berita bukan komoditas, dan foto bukan sekadar ilustrasi. Keduanya adalah kesaksian. Karena itu, prestasi hadir bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai akibat dari kesetiaan. Lomba foto tingkat daerah hingga nasional ia menangi, tanpa pernah kehilangan kerendahan hati.

Tahun 2019, ketika Agus merancang perjalanan menjelajah Indonesia bersama sejumlah wartawan, saya melihatnya sebagai ikhtiar jurnalistik. Bukan perjalanan wisata. Pandemi Covid-19 memang menghentikan langkah itu, tetapi tidak memadamkan nyala. Hari ini, nyala tersebut justru membesar dan menemukan bentuknya.

Enam bulan perjalanan menuju Tanah Suci Mekkah akan ia tempuh. Bersama Muhammad Rafi, seorang videografer yang mumpuni, Agus akan melintasi 13 negara dengan sepeda motor. Ini bukan perjalanan sensasional. Ini adalah kerja sunyi yang panjang, melelahkan, dan penuh risiko. Justru di sanalah nilai jurnalistiknya diuji. Ketahanan, konsistensi, dan keberaniannya dipertaruhkan.

Sebagai Ketua Dewan Penasihat PWI Batam, Agus tidak berjalan sendirian. Dan sebagai Ketua PWI Batam, saya menegaskan: langkah ini adalah cermin sikap organisasi. PWI Pusat memberikan restu dan dukungan penuh, dan untuk rute 13 negara, perjalanan ini akan dimulai secara resmi pada Hari Pers Nasional 2026 di Banten. Ini bukan seremoni kosong, melainkan pernyataan sikap bahwa pers Indonesia masih memiliki nyali, visi, dan misi edukasi global.

Dalam video yang dirilis, Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, menyampaikan kegembiraannya. Ia menegaskan bahwa kegiatan touring lintas negara yang akan dijalani Agus bukan semata soal jarak, melainkan tentang pesan. Pesan bahwa dari daerah pun, seorang wartawan dapat berbicara kepada dunia. Bahwa jurnalisme tidak harus lahir dari ruang-ruang elit, tetapi dapat tumbuh dari jalanan, dari perbatasan, dari peluh yang jujur.

PWai Pusat berharap besar perjalanan ini berjalan lancar. Agus berangkat dalam keadaan sehat, menempuh perjalanan dengan selamat, dan kembali dengan kesehatan yang utuh. Lebih dari itu, kami berharap misi edukasi yang diembannya sampai kepada masyarakat dunia: tentang ketekunan, tentang iman, dan tentang keberanian menjaga api profesi di usia yang kerap diremehkan.

Di saat banyak wartawan kelelahan oleh pragmatisme, Agus Bagjana memilih jalan yang tidak populer. Ia tidak mengejar sorotan. Ia mengejar makna. Dan di sanalah, menurut saya, jurnalisme menemukan kembali martabatnya.

Agus sedang menulis reportase terpanjang dalam hidupnya. Tanpa tenggat redaksi. Tanpa target klik. Hanya satu tujuan: Mekkah. Dan satu keyakinan: bahwa jurnalisme sejati tidak pernah pensiun. Tapi, ia hanya berpindah medan.

 

Titip doa dari Pulau Penawar Rindu.

Takzim,

PWI Batam