Batam – Hujan pagi itu turun seperti halaman-halaman lama yang dibuka kembali. Basah, pelan, namun sarat makna. Senin, 27 April 2026, langit di atas SMP Negeri 36 Sagulung, Kota Batam, seakan tahu: ada satu kisah panjang yang hendak ditutup, meski jejaknya tak akan pernah benar-benar hilang.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Afridal, S.Pd. M.M, duduk menatap gawainya. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Seperti seseorang yang telah terlalu lama berjalan, dan kini diminta berhenti, padahal langkahnya belum benar-benar ingin usai.
PWI Batam datang bukan sekadar bertamu. Ketua Seksi Pendidikan, Kamal, Ketua Koperasi PWI Batam, Victor Sialoho, dan saya, datang untuk mendengar, dan mungkin, merekam serpihan sejarah yang selama ini berjalan dalam sunyi.
Afridal bukan lahir dari kemewahan. Ia tumbuh di tengah keluarga nelayan dengan sembilan anak, di mana dua liter beras harus diolah menjadi bubur agar cukup dibagi. Lantai menjadi meja makan, dan lapar adalah teman yang akrab.
Namun, di tengah kekurangan itu, ia menanam satu keyakinan yang kelak mengubah arah hidupnya.
“Saya boleh tidak makan, tidak jajan, tidak punya apa-apa. Tapi biarkan saya tetap sekolah.”
Dari kalimat sederhana itu, perjalanan panjang dimulai.
Tahun 1991, Afridal menjadi guru honorer di SMP Negeri 3 Sekupang. Gaji Rp45 ribu. Ia bahkan tinggal di salah satu ruang sekolah. Sebuah potret getir tentang bagaimana guru kerap lebih dulu mengorbankan dirinya sebelum mendidik orang lain.
Tahun 1994, ia diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di SMP Negeri 9, namun tetap mengajar di dua sekolah sekaligus: SMPN 3 dan SMPN 9. Gaji Rp350 ribu. Cukup untuk bertahan, tapi tak pernah cukup untuk berpuas diri.
Ia mengabdi di SMPN 9 hingga 2002, lalu melanjutkan perjalanan ke SMP Negeri 16 hingga 2010. Di sekolah inilah, kepercayaan mulai tumbuh. Ia dipercaya menjadi wakil kepala sekolah, lalu mengikuti pelatihan calon kepala sekolah tingkat nasional di Malang. Sebuah gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar.
Sepulang dari sana, takdir membawanya ke tempat yang tak semua orang ingin singgahi: SMP Negeri 23 di Pulau Ngenang.
Pulau Ngenang bukan sekadar lokasi penugasan. Ia adalah cermin paling jujur tentang wajah pendidikan di pinggiran negeri.
Di sana, anak-anak lebih akrab dengan laut daripada buku. Sekolah seringkali kalah penting dibanding jaring dan perahu. Banyak yang tak menamatkan pendidikan, bukan karena tak mampu berpikir, tapi karena keadaan memaksa mereka berhenti.
Sebagai Plt kepala sekolah sejak sekitar 2010 hingga definitif pada 2012, Afridal tidak memilih jalan pintas. Ia tidak sekadar mengajar di kelas. Ia turun ke rumah-rumah, menyapa orang tua, merajut kepercayaan.
Ia memahami bahwa pendidikan tak bisa dipaksakan dengan perintah, tapi harus ditanamkan melalui kesadaran.
Suatu hari, ia mendatangi seorang ibu dari suku laut yang anaknya putus sekolah. Tak ada pidato panjang. Hanya dua pertanyaan yang sederhana, namun menghantam logika paling dasar:
“Kalau ibu tidak menyekolahkan anak, apakah ibu akan tambah kaya? Dan kalau ibu sekolahkan anak, apakah ibu tambah miskin?”
Pertanyaan itu bekerja seperti air yang perlahan melubangi batu. Sang ibu luluh. Anak-anaknya kembali sekolah. Bahkan, salah satunya melanjutkan hingga perguruan tinggi dan kini bekerja di perusahaan air minum di Batam.
Bagi Afridal, itulah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan angka kelulusan di atas kertas, melainkan perubahan cara pandang.
Selama sekitar lima tahun di Pulau Ngenang, ia tidak hanya menjadi kepala sekolah. Ia menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan. Ia mengubah sekolah dari sekadar bangunan menjadi harapan.
Hingga hari ini, warga masih memanggilnya “Pak Guru”. Gelar yang lebih abadi dari jabatan apa pun.
Tahun 2017, Afridal melanjutkan pengabdian sebagai Kepala SMP Negeri 29, lalu berpindah ke SMP Negeri 10 di Sei Panas. Tiga tahun di sana, ia kembali dihadapkan pada tantangan berbeda saat dipercaya memimpin SMP Negeri 58 Tanjung Piayu. Sekolah yang masih muda, dengan akses jalan yang bahkan enggan disebut layak.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan. Siswa dan guru terpeleset, seakan pendidikan memang harus ditempuh dengan jatuh bangun secara harfiah.
Afridal tidak tinggal diam. Ia menulis proposal, mengetuk pintu instansi, hingga akhirnya bantuan dari Dinas Bina Marga datang. Jalan itu diperbaiki. Lumpur yang dulu jadi penghalang, perlahan menjadi cerita yang bisa ditertawakan di kemudian hari.
Perjalanan terakhirnya berlabuh di SMP Negeri 36 Sagulung. Di sinilah ia menutup 35 tahun pengabdian. Sebuah angka yang terdengar panjang, namun terasa singkat bagi mereka yang menjalaninya dengan sepenuh hati.
Namun, di ujung baktinya, Afridal tidak hanya membawa kenangan. Ia juga membawa kegelisahan.
Ia melihat perubahan, yang tak semuanya membawa kabar baik.
Guru, katanya, tak lagi ditempatkan sebagai sosok yang dihormati. Etos belajar anak menurun. Sekolah kehilangan sebagian wibawanya.
Zaman digital memang tak bisa disangkal. Namun, regulasi yang terlalu longgar, menurutnya, justru memperparah keadaan.
“Anak tidak belajar harus naik kelas. Karena regulasi inilah anak menjadi bersikap ke arah yang tidak baik.”
Lebih jauh, ruang gerak guru semakin sempit. Teguran bisa berujung laporan. Pembinaan bisa diseret ke ranah hukum. Guru berjalan dengan rasa waswas—bukan karena tak tahu cara mendidik, tapi karena takut disalahpahami.
Sementara itu, fenomena siswa melawan guru dan orang tua yang melaporkan sekolah kian sering menghiasi layar. Viral, gaduh, dan seringkali kehilangan akar persoalan.
Di titik ini, pendidikan seperti kehilangan arah. Terlalu banyak aturan, tapi terlalu sedikit kebijaksanaan.
Kami pun mengenang masa lalu. Masa ketika guru dan orang tua berdiri di sisi yang sama. Ketika hukuman di sekolah justru diperkuat di rumah, bukan dipersoalkan.
Hari ini, harmoni itu terasa retak.
Padahal, seorang guru tak hanya mendidik puluhan anak di kelas. Ia juga pulang sebagai orang tua, dengan tanggung jawab yang sama beratnya.
Jika ruang mendidik terus dipersempit oleh ketakutan, maka yang tersisa hanyalah rutinitas tanpa makna, mengajar sekadar menggugurkan kewajiban.
Dan itu, mungkin, adalah tragedi paling sunyi dalam dunia pendidikan.
Di Hari Pendidikan Nasional ini, suara Afridal bukanlah teriakan. Ia hanya bisikan panjang dari seseorang yang telah melihat terlalu banyak perubahan.
Ia tidak menolak zaman. Ia hanya meminta keseimbangan.
Memberi ruang bagi guru untuk membina, tanpa mencederai. Mengembalikan rasa hormat sebagai fondasi, bukan sekadar formalitas.
Di ujung percakapan, bahkan ketika masa tugasnya akan segera usai, Afridal belum benar-benar ingin berhenti.
Ada gagasan yang masih ingin ia hidupkan, tentang para guru purna bakti yang tetap bisa berkontribusi, meski tak lagi berdiri di depan kelas.
“Bisa jadi. Nanti saya diskusikan dengan kawan-kawan yang sudah pensiun.”
Di luar, hujan belum juga reda.
Seperti pengabdian Afridal, ia mungkin selesai di atas kertas, tapi tidak pernah benar-benar berhenti. (Jonkavi)











