Bataminfo.co.id, Batam – Anak usia 2,5 Tahun dirundung oleh gurunya di Sekolah Djuwita, Ibu Kandung bernama Sri Suriyati (41) angkat bicara.
Sri dengan raut wajah sedih, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan kekerasan fisik yang dilakukan oleh sang guru yang akrab disapa Miss kepada puteranya yang masih sangat kecil itu.
Ungkapan hati itu disampaikan Sri kepada sejumlah awak media, saat ditemui di kediamannya, tepat di Perumahan Alexandria Batam Center, pada Rabu (29/6/26).
Pasalnya, dalam keterangan Sri, Dia menjelaskan bahwa kekerasan yang dialami oleh anak tercintanya itu diduga berbentuk pukulan.
“Saya sangat menyangkan dan kecewa saat mengetahui anak saya diperlakukan seperti itu. Tangan anak saya seperti dihempaskan begitu. Lalu bukan anak saya saja, tapi hampir semua anak di kelas itu dipaksa makan. Kalau nggak mau makan itu mulutnya diremas dan disumpel makanan (sembari menirukan) sambil memasukan makanan dengan takaran yang tidak sesuai dengan ukuran mulut anak saya sekecil itu,” jelas dia.
Ia mengatakan, hal itu terus menerus dilakukan oleh pihak sekolah terhadap anaknya. Tindakan tersebut kata dia sangat berdampak buruk pada fisik, terutama pada mental anaknya.
“Anak saya sangat trauma loh. Traumanya itu sampai menangis kencang, dan bilang ‘Mami Help’. Dia udah nggak mau lagi ke sekolah. Kalau lihat orang banyak, apalagi gurunya dan sekolah itu dia langsung nangis sejadi-jadinya. Setakut itu dia. Sebagai orangtua, saya tak bisa melihat dan membiarkan anak saya seperti ini,” ucap Sri.
Yang lebih mengiris hati sang Ibu, adalah ketika melihat memar pada bagian paha sang anak (korban) beberapa hari pasca kekerasan yang dialami.
“Ada memar di bagian paha anak saya. Tapi memang itu belum nampak di hari kejadian itu. Tapi beberapa hari setelahnya baru saya lihat ada memar membiru di pahanya. Cuma sayangnya saya belum sempat visum,” ujarnya.
Sri juga menceritakan sang anak yang kerab ketakutan dan menyebut bahwa ia dipukuli oleh gurunya. Trauma yang mendalam bahkan sering tampak pada kondisi sang putra yang kerap takut terhadap gedung dan keramaian.
“Dia saya bawa beli ice krim di tempat biasa kami nongkrong, saya ajak beli shopping, beli mainan. Dia udah mau ikut, tapi ketika melihat orang banyak, dia takut dan bilang; ‘Mami no School. Go mami. Pulang mami’ (menirukan) gitu. Saya sedih, disitulah hati saya merasa hancur dan mengingat sebelumnya. Anak saya pun ketika saya tunjukin foto dan video Miss-miss-nya, dan saya tanya yang mana yang pukul, dia nunjukin. Saksinya ada, pembantu saya yang saya minta untuk jagain anak saya,” terangnya.
*Perjuangan Sang Ibunda Meminta Bukti CCTV kepada Pihak Sekolah*
Untuk mengetahui lebih jelas, Sri juga menyebut pernah datang ke sekolah untuk menanyakan perihal kejadian itu, serta meminta bukti CCTV. Namun kata dia, pihak sekolah Djuwita enggan memberikannya.
“Sekolah itu kan yang saya tahu ada CCTV. Jadi saya datang ke sekolah dan minta dibukakan CCTV biar jelas. Tapi ada saja alasannya. Katanya; CCTV lagi eror, lagi belum bisa lah. Sampai sekarang saya cuma minta CCTV itu dibuka, tapi belum juga. Saya sudah dilaporkan pihak sebelah, dan di BAP sudah saya jelaskan semua,” ucap Sri.
Kata dia, Ia meminta pertanggungjawaban dari pihak sekolah yang diduga telah merusak mental puteranya dengan tindakan kekerasan fisik.
Ia menegaskan, terkait hal ini dan sebagai bentuk pembelaan serta perlindungan bagi sang putera, pihaknya akan menempuh jalur hukum.
“Saya cuma minta pertanggungjawaban dari pihak sekolah. Kami akan tempuh jalur hukum. Karena ini menyangkut mental anak saya. Saya saja kalau ribut sama siapapun tak pernah depan anak saya. 24 jam R (anak/korban) di tangan saya. Saya dan Papinya ganti-gantian jagain,” ujarnya.
*Membantah Tudingan Premanisme dan Intimidasi*
Dia dalam kesempatan ini juga menegaskan bahwa, saat datang ke sekolah, dirinya tidak membawa oknum yang disebut preman.
“Saya sama sekali tidak membawa preman atau tindakan premanisme di sekolah itu tidak ada. Itu semua Karyawan saya. Kami baru saja selesai meeting (rapat), lalu mereka dengan mobil juga ikut juga, tapi itu pun hanya duduk diam dan mendengar. Tidak ada tindakan premanisme atau intimidasi apapun terhadap guru atau pihak sekolah,” tegas Sri.
Lagi kata dia, “Mereka hanya duduk diam di luar. Lalu saya minta untuk masuk ambil video dan foto Miss-miss ini, agar saya bisa lihatkan ke anak saya untuk tunjuk guru yang mana yang mukul dia. Karena dia selalu bilang; Miss pukul, Miss pukul,” sambungnya.
Sri membenarkan ada sekelompok orang yang mengikutinya ke sekolah namun kata dia itu karyawannya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada tindakan intimidatif dari sekelompok orang yang ia sebut sebagai Karyawannya itu.
“Setelah saya suruh ambilkam foto dan video itu, karena mereka manusiawi, mereka ngerasa kenapa guru-guru ini melakukan tindakan kasar ke anak-anak. Itu mereka marah. Tapi tidak ada pengancaman, intimidasi. Hanya menanyakan, tidak melukai. Memang ada pegang sendok karena emosi, tapi sama sekali tak ada tindakan intimidasi,” tegasnya lagi.
*Membantah Memberi Uang*
Tak hanya itu, Sri juga dituding memberi uang kepada sekelompok orang itu, namum lagi ia menepis hal itu.
“Saya tidak pernah kasih uang. Yang saya kasih adalah surat. Itu ada CCTV, silahkan dibuka dan di-zoom (perbesar). Itu jelas-jelaa amplop berisi surat, itu bukan uang,” tegas Sri.
Terkait kasus ini, Ia menegaskan, pihaknya selaku orangtua korban akan tempuh jalur hukum.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi yang diperoleh dari pihak Sekolah Djuwita Baloi, Batam.











