Catatan Seorang Sahabat di Hari Pers Nasional 2026
Batam — Di sebuah ruang kerja sederhana di Korem 061/Suryakancana, Bogor, 9 Februari lalu, bertepatan dengan Hari Pers Nasional 2026, saya duduk berhadap-hadapan dengan seorang sahabat lama: Kolonel Hasroel Tamin, S.H., M.Hub.Int. Seragamnya rapi, sikapnya tenang. Namun di balik pundak yang kini memanggul pangkat dan tanggung jawab, saya masih melihat remaja yang dulu saya kenal di SMAN 1 Becora, Dili.
Saya datang menemuinya usai menghadiri puncak perayaan Hari Pers Nasional 2026 di Serang, Banten. Perjalanan itu saya tempuh bersama rekan-rekan dari PWI Kepri: Moel Akhiyar, Aji Nugraha, Ica, dan istri saya, Baiq T.A Hudayani. Dari hiruk-pikuk panggung pers nasional, saya melangkah menuju ruang sunyi seorang sahabat lama yang menempuh jalannya sendiri di dunia militer.
Berjam-jam kami menambal kembali kenangan yang hampir lapuk dimakan waktu. Tentang bolos sekolah. Tentang motor yang kami tumpangi bertiga menuju Kolmera, kompleks pertokoan pusat kota Dili. Tentang tawa yang terlalu keras untuk ukuran anak SMA, dan tentang malam-malam yang pulang terlambat dengan dada penuh rahasia.
Saya dan Hasroel, yang akrab disapa Aroel Cowboy, karena dengan penuh percaya diri sering menganggap dirinya bagian dari “boyband cowboy”, pernah berdiri di garis depan tawuran antar sekolah. Bersama seorang sahabat lain, Indra Dara, yang saat itu masih kelas satu SMA, kami merasa paling gagah di antara asap dan teriakan.
Keberanian kami tak lama. Garnisun datang membubarkan. Dan seperti jagoan kesiangan, kami lari pontang-panting, menyelamatkan diri sambil tertawa dan terengah-engah. Itulah masa ketika nyali lebih besar dari nalar.
Aroel juga remaja pada umumnya. Di tongkrongan, ia tak pernah absen menggoda cewek. Gayanya sok santai, padahal jantungnya sering lebih berdebar dari yang ia akui.
Kami tertawa ketika mengenang kisah patah hatinya. Seorang Hasroel remaja yang wajahnya pernah disiram air oleh ibu gadis pujaannya saat ia nekat mengantar rindu ke beranda rumah.
“Setelah jadi taruna, saya pernah datang lagi,” katanya sambil tersenyum tipis. “Waktu itu saya sudah gagah. Saya diterima dengan baik.”
Kisah cinta Hasroel masa SMA memang tak selalu mulus. Namun cara ia menemukan jodoh justru datang dari jalan yang tak terduga.
Saat menjadi Danramil di Aceh, suatu waktu ada seorang perempuan yang tiba-tiba berada di ruangannya. Bukan untuk urusan dinas, bukan pula untuk meminta perlindungan. Ia hanya ingin menumpang salat.
Hasroel mengenang momen itu dengan mata yang berbeda.
“Mungkin ini jodohku,” katanya pelan, mengingat pertemuan pertama itu.
Dan ternyata benar. Wanita yang dulu menumpang salat di ruangannya kini menjadi pendamping hidupnya.
Namun yang membuat saya terdiam bukan hanya kisah cintanya. Ada cerita lain, lebih sunyi dan lebih berat, yang terasa layak dibagikan. Sebuah cerita tentang godaan, kuasa, dan pilihan yang menentukan arah nasib.
Di Aceh yang saat itu masih bergolak, ujian Hasroel datang dalam rupa yang gelap. Ia menanamkan satu prinsip kepada pasukannya:
“Kalau mau ikut saya, jangan ambil harta dan jangan merenggut kehormatan wanita.”
Suatu hari, seorang pemilik warung kecil melapor: beberapa selop rokok diambil tanpa dibayar. Hasroel tidak marah di depan umum. Ia memanggil anak buahnya, memerintahkan mengembalikan atau membayar, lalu memberi sanksi. Disiplin bukan sekadar kata; ia harus ditegakkan, bahkan ketika pelanggar itu adalah orang sendiri.
Ujian terbesar datang ketika ia mendengar teriakan seorang perempuan saat patroli. Ia segera menghitung anak buahnya. Satu kurang.
Ia masuk ke sebuah rumah dan mendapati seorang anggotanya nyaris merampas kehormatan seorang wanita. Hasroel datang tepat waktu. Ia menghentikan, meminta maaf kepada perempuan itu, dan menindak anak buahnya. Tidak ada pembenaran. Tidak ada kompromi.
Sebelum ia pergi, perempuan itu meminta nomor teleponnya.
Beberapa waktu kemudian, di sebuah lembah sunyi, telepon satelit Hasroel berdering.
“Saya Panglima GAM. Terima kasih sudah menyelamatkan istri saya.”
Suara di seberang meminta Hasroel melihat ke bukit-bukit sekitar. Di sana, tanpa mereka sadari, laras-laras senapan penembak jitu telah membidik dirinya dan seluruh pasukannya.
“Kalau mereka mau,” kata Hasroel pelan kepada saya, “tidak ada yang hidup saat itu.”
Saya menelan ludah. “Siapa namanya?”
Hasroel menatap lurus, seolah kembali ke lembah itu.
Menurutnya, pria di ujung telepon itu menyebut sebuah nama yang pada saya ia inisialkan, “MN.” Panglima yang kelak dikenal luas dalam sejarah Aceh.
Di tanah yang berbeda, di hutan belantara Papua, ujian lain menantinya.
Saat masih berpangkat letnan, ia memimpin tim patroli menyusuri rimbun yang nyaris tak tersentuh. Di tengah sepi, mereka menemukan sungai jernih. Di dasarnya terhampar bebatuan berkilau, emas, dalam jumlah yang membuat mata siapa pun terbelalak. Anak buahnya terpukau. Beberapa sudah bersiap mencebur.
Namun Hasroel mengangkat tangan.
“Jangan. Itu bukan hak kita. Tugas kita bukan mencari emas, tapi menjaga negeri.”
Di pos, ia menceritakan kejadian itu kepada seorang kepala suku yang telah menganggapnya anak sendiri. Sang kepala suku tersenyum samar.
“Kalau kau ambil tanpa izin, emas itu akan jadi batu.”
Alih-alih melarang, kepala suku itu justru mengajak mereka kembali ke sungai. Di tepi air yang mengalir pelan, ia melakukan ritual kecil, meminta izin kepada sang empunya alam.
Setelah doa selesai, Hasroel memerintahkan anak buahnya mengambil bebatuan itu. Dan ajaib, kilau itu tetap emas di tangan mereka.
Semua anggota tim mendapat bagian yang sama. Tidak lebih, tidak kurang.
Ketidakserakahan yang sempat menahan tangan mereka justru mengantar pada rezeki yang datang dengan bermartabat.
Di ruang kerja sederhana itu, saya menyadari sesuatu.
Dari remaja yang pernah lari pontang-panting dikejar garnisun, dari Aroel Cowboy yang gemar menggoda gadis-gadis di tongkrongan, dari pemuda yang pernah disiram air karena cinta, ia tumbuh menjadi lelaki yang mengerti batas.
Keberanian bukan hanya soal menghadapi peluru.
Integritas bukan hanya soal pidato.
Ia hadir dalam keputusan-keputusan sunyi:
menahan tangan dari emas yang bukan haknya, menghukum orang sendiri demi keadilan, menyelamatkan kehormatan seseorang meski tak ada yang melihat.
Dari remaja bengal hingga kolonel yang selamat dari bidikan senapan karena menjaga martabat, Hasroel mengajarkan saya satu hal:
Dalam dunia yang penuh godaan dan kekerasan, yang paling menentukan bukanlah pangkat. Melainkan pilihan.
Dan sering kali, keselamatan datang bukan dari kekuatan senjata,
tetapi dari kebersihan hati.
__
M.A Khafi Anshary
Ketua PWI Batam











