Bataminfo.co.id, Batam— Bentrokan berdarah akibat sengketa lahan pecah di kawasan Setoko, sekitar Jembatan 2 Barelang. Insiden ini melibatkan kelompok Lang Laut selaku penerima kuasa dari perusahaan pengelola lahan dengan kelompok penggarap kebun yang menuntut ganti rugi.
Konflik pertanahan tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan sejumlah warga mengalami luka-luka terkena tembakan senapan angin
Salah satu korban luka adalah Stanley, warga asal NTT yang kini tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam karena luka tembakan untuk tindakan operasi. Polisi telah turun ke lokasi untuk mengamankan situasi dan mengusut tuntas para pelaku penyerangan.
Ketua Umum PK NTT Kota Batam, Mohammad Agung Teibang, menegaskan bahwa bentrokan yang terjadi murni dipicu perselisihan kepentingan atas lahan, bukan akibat konflik antarsuku.
“Saya menegaskan bahwa bentrok ini bukan terjadi antara suku Melayu dan Flores. Ini murni bentrok dua kelompok yang memiliki kepentingan berbeda terhadap lahan di Setoko,” ujar Agung.
Agung mengimbau seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar NTT di Batam, agar tetap menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh isu liar yang beredar di media sosial. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.
Secara resmi, polisi menegaskan kericuhan ini terjadi bukan konflik SARA. Kapolresta Barelang juga menyebut persoalan tersebut murni konflik lahan dan meminta masyarakat tidak mengaitkannya dengan suku tertentu.
Namun, karena kelompok yang terlibat memiliki latar belakang organisasi dan kesukuan yang berbeda, isu ini berpotensi melebar menjadi sentimen antarkelompok apabila tidak ditangani dengan baik.











