Catatan Ketua PWI Batam
Selasa pagi, 27 Oktober 2026, sebuah pesan singgah di akun WhatsApp saya. Pengirimnya Alfidah Hasan, S.Pd., Kepala SMP Negeri 41 Batam. Ia menyampaikan ruang dan kesempatan bagi PWI Batam untuk berbagi semangat dalam upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Bagi kami, undangan itu bukan sekadar kehormatan. Ada makna yang lebih dalam ketika sebuah sekolah membuka pintunya bagi insan pers, memberi ruang bagi percakapan, dan mempertemukan semangat pendidikan dengan semangat kebangsaan. Sebab, sekolah dan pers sesungguhnya berangkat dari panggilan yang sama: menyalakan pikiran, merawat pengetahuan, dan menumbuhkan harapan.
Pesan itu membawa ingatan saya berkelana ke beberapa bulan silam, ketika PWI Batam menggelar pelatihan jurnalistik di SMP Negeri 38 Batam. Kala itu, Alfidah masih memimpin sekolah yang letaknya di pinggir kota, jauh dari hiruk-pikuk pusat perhatian.
Namun, jarak dari pusat kota tidak pernah menjadi ukuran bagi tumbuhnya prestasi. Meski tak selalu berada dalam pandangan mata, saya menyaksikan bagaimana sekolah itu menorehkan pencapaian demi pencapaian. Iklim literasinya tumbuh dengan baik. Semangat belajar dan dukungan terhadap kegiatan literasi terasa hidup.
Ada satu hal lain yang diam-diam membekas dalam ingatan saya: hubungan antara kepala sekolah dan para guru. Di sana, saya melihat keakraban yang bukan sekadar formalitas jabatan. Ada keharmonisan, ada kedekatan emosional, dan ada kesan bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui instruksi, tetapi juga melalui sentuhan hati.
Barangkali, di situlah letak kekuatan seorang pemimpin sekolah. Ia bukan semata-mata orang yang berdiri paling depan, melainkan seseorang yang mampu membuat orang-orang di belakangnya merasa berjalan bersama.
Kini, Alfidah berada di tempat yang berbeda. Ia memimpin SMP Negeri 41 Batam, sebuah sekolah yang berada di tengah jantung kota, dekat dengan pandangan banyak orang. Di tempat seperti itu, setiap langkah lebih mudah terlihat, setiap perubahan lebih cepat diperbincangkan, dan setiap capaian seolah memiliki lebih banyak mata yang menyaksikan.
Rabu pagi, 28 Oktober 2026, dalam perjalanan menuju sekolah yang berada di kawasan Lubuk Baja itu, sebuah pertanyaan berulang kali hadir di kepala saya.
Mampukah Alfidah membawa sekolah ini meraih prestasi? Lebih dari itu, mampukah ia merawat keharmonisan dengan para guru, sebagaimana yang pernah saya saksikan di sekolah sebelumnya? Mampukah sentuhan komunikasi seorang pemimpin yang mengayomi, dengan kepekaan yang kerap kita temukan dalam kasih seorang ibu, membuat seluruh warga sekolah merasa memiliki rumah yang sama?
Saya tidak datang membawa jawaban. Saya datang dengan pertanyaan, juga dengan rasa ingin tahu tentang bagaimana sebuah kepemimpinan memulai langkahnya di tempat yang baru.
Pagi itu, langit Batam diselimuti awan mendung. Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda berlangsung sekitar satu jam. Di bawah langit yang muram, semangat anak-anak sekolah justru terasa menyala. Barisan berdiri tegak, penghormatan diberikan, dan semangat persatuan kembali diingatkan kepada generasi yang kelak akan memikul masa depan bangsa.
Pada sesi terakhir, Alfidah meminta saya mendampinginya menyematkan pita Duta Adiwiyata dan pin Pejuang Adiwiyata kepada para siswa.
Saya menyaksikan momen itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan hanya melalui kata-kata. Di balik pita dan pin yang disematkan, ada pesan tentang tanggung jawab. Ada harapan agar anak-anak tidak hanya pandai berbicara tentang lingkungan, tetapi juga belajar menjaganya. Ada pendidikan yang bergerak melampaui ruang kelas, menanamkan kesadaran bahwa mencintai negeri dapat dimulai dari merawat lingkungan terdekat.
Saat itu, pertanyaan-pertanyaan yang saya bawa perlahan menemukan arah jawabannya.
Bukan karena sebuah upacara dapat menjamin lahirnya prestasi. Bukan pula karena penyematan simbol mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sebuah sekolah. Namun, dari kegiatan sederhana itu, saya melihat sebuah permulaan: semangat yang sedang dihidupkan, nilai yang sedang ditanamkan, dan kebersamaan yang sedang dirawat.
Seusai upacara, saya bersama Ketua Seksi Pendidikan Kota Batam, Kamal Asni, serta Sekretaris Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Provinsi Kepulauan Riau, Baiq Tri Astuty Hudayani, berkesempatan berbincang di ruang kepala sekolah. Kami dijamu secangkir kopi dan seporsi sarapan.
Di meja sederhana itu, obrolan mengalir lebih hangat daripada udara pagi yang masih menyisakan mendung. Kadang-kadang, kita memang tidak perlu ruang rapat yang megah untuk memahami arah sebuah kepemimpinan. Cukup duduk bersama, menikmati kopi, mendengarkan cerita, dan melihat bagaimana seseorang berbicara tentang rumah yang sedang ia bangun.
Di sela sarapan itulah, saya mendengar kabar bahwa dalam dua bulan kepemimpinannya, SMP Negeri 41 Batam telah memiliki lagu mars sekolah sendiri. Sekolah itu juga mulai menegaskan identitasnya melalui sebuah slogan: “SMPN 41 Bertuah. Menerima Tuah dan Berprestasi.”
Saya tersenyum mendengarnya.
Sebuah lagu mars bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Ia dapat menjadi suara yang menyatukan langkah, membangun kebanggaan, dan mengingatkan warga sekolah bahwa mereka sedang menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
Begitu pula sebuah slogan. Ia memang hanya terdiri dari beberapa kata, tetapi kata-kata akan menemukan maknanya ketika diterjemahkan menjadi kerja, sikap, dan kebiasaan sehari-hari.
Bertuah bukan berarti menunggu keberuntungan jatuh dari langit. Tuah, dalam pengertian yang ingin saya maknai dari slogan itu, harus dijemput dengan ikhtiar. Ia tumbuh dari kesungguhan guru mengajar, ketekunan siswa belajar, keberanian kepala sekolah mengambil langkah, serta kesediaan seluruh warga sekolah untuk saling mendukung.
Sebab, prestasi tidak lahir hanya dari keinginan untuk menjadi yang terbaik. Prestasi tumbuh ketika orang-orang di dalamnya merasa dihargai, diberi kesempatan, dan percaya bahwa kerja keras mereka memiliki arti.
Di sinilah saya kembali teringat pada SMP Negeri 38 Batam, sekolah yang pernah dipimpin Alfidah. Pengalaman di sana seolah mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah sekolah tidak semata-mata bertumpu pada program yang tertulis di atas kertas. Ada iklim yang harus dibangun, hubungan yang mesti dirawat, dan rasa memiliki yang perlu ditumbuhkan.
Kini, fondasi itu sedang diuji dan diperjuangkan dalam ruang yang berbeda, di tengah jantung kota, tempat SMP Negeri 41 Batam berdiri dengan segala harapan dan tantangannya.
Saya percaya, setiap sekolah memiliki ceritanya sendiri. Tidak ada resep tunggal untuk melahirkan prestasi. Namun, ada satu hal yang selalu relevan: pendidikan akan lebih mudah bertumbuh ketika kepemimpinan mampu merangkul, bukan sekadar mengarahkan, mendengarkan, bukan hanya memerintah, serta menyalakan semangat, bukan semata-mata menuntut hasil.
Dan mungkin, inilah pesan yang paling saya bawa pulang dari pagi itu.
Di tengah peringatan Sumpah Pemuda, ketika kita kembali mengenang bagaimana para pemuda dahulu menyatukan perbedaan demi sebuah cita-cita besar, saya menemukan semangat yang serupa dalam lingkup yang lebih kecil. Sebuah sekolah sedang berusaha menyatukan banyak hati dalam satu tujuan: menjadi tempat yang membanggakan, tempat anak-anak bertumbuh, dan tempat prestasi dirintis dengan kebersamaan.
Langit boleh mendung. Jalan menuju keberhasilan boleh panjang. Tetapi selama ada kemauan untuk memulai, selalu ada cahaya yang bisa dijaga.
Dua bulan tentu masih terlalu singkat untuk menilai sejauh mana sebuah kepemimpinan akan membawa sekolahnya melangkah. Prestasi membutuhkan waktu, konsistensi, dan kerja bersama. Namun, setiap perjalanan besar memang selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang sering kali luput dari perhatian.
Pagi itu, di SMP Negeri 41 Batam, saya melihat langkah-langkah kecil tersebut sedang diletakkan.
Ada lagu yang mulai dinyanyikan. Ada slogan yang mulai diperkenalkan. Ada semangat lingkungan yang ditanamkan kepada siswa. Dan ada seorang kepala sekolah yang sedang berusaha menghidupkan harapan di tempat yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Sebagai Ketua PWI Batam, saya merasa terhormat mendapat ruang untuk berbagi semangat di sekolah itu. Namun, lebih dari sekadar kehormatan, saya pulang membawa keyakinan bahwa pendidikan akan selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia menyalakan harapan, bahkan ketika hasilnya belum sepenuhnya terlihat.
Sebab, tugas seorang pemimpin bukan hanya membuat sekolahnya tampak hebat di mata orang lain. Tugas yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih penting, adalah membuat orang-orang di dalamnya percaya bahwa mereka mampu menjadi hebat bersama-sama.
Semoga tuah yang kini mulai dirajut di SMP Negeri 41 Batam tidak berhenti sebagai slogan. Semoga ia tumbuh menjadi semangat yang hidup dalam keseharian, menjadi prestasi yang lahir dari kebersamaan, dan menjadi kebanggaan yang tidak hanya dirasakan oleh sekolah, tetapi juga oleh masyarakat Batam.
Sebab, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang berdiri di tengah jantung kota. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menyalakan jantung kehidupan di dalamnya.
Dan dari sanalah, prestasi semestinya bermula.
M.A. Khafi Anshary
Ketua PWI Batam











