Catatan Ketua PWI Batam saat Menerima Kunjungan Wartawan Sungai Apit, Siak, Riau
Ada pertemuan yang sekadar memperpendek jarak, ada pula silaturahmi yang membuka jalan menuju pemahaman. Sebab, manusia tidak selalu dipertemukan oleh kepentingan yang sama, tetapi dapat dipersatukan oleh kesediaan untuk saling mendengar, berbagi pengalaman, dan belajar dari kehidupan.
Kunjungan wartawan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, ke Batam, yang difasilitasi PT Energi Mega Persada (EMP), menjadi salah satu pertemuan semacam itu. Bersama M. Hanshardi selaku Media Relation Officer dan Arip Hidayatulloh selaku CSR Coordinator Energi Mega Persada, rombongan ini tidak sekadar membawa cerita dari kampung halaman. Mereka juga membawa pengalaman tentang pers, masyarakat, industri migas, dan ikhtiar menjaga alam agar tetap menjadi sumber kehidupan.
Saya menyambut mereka bersama Sekretaris PWI Batam Romi Chandra, Ketua Seksi Pendidikan Kamal, serta Pengurus PWI Pusat Deni Risman. Di antara percakapan dan jabat tangan, saya menemukan kembali satu keyakinan: wartawan boleh berbeda daerah, berbeda media, dan berbeda cara memandang persoalan. Namun, ada tanggung jawab yang semestinya tetap sama: menjaga fakta, mengabdi kepada kepentingan publik, dan merawat kepercayaan masyarakat.
Dari Sungai Apit, kita belajar bahwa sebuah kampung bukan sekadar titik di peta. Di sana ada sejarah, denyut kehidupan masyarakat pesisir, jalur perdagangan dan pelayaran, serta sungai dan muara yang terhubung dengan perairan strategis Selat Malaka. Di sana pula berlangsung pergulatan manusia dalam menyiasati perubahan zaman, termasuk ketika industri dan kehidupan masyarakat bertemu di ruang yang sama.
Pertemuan ini mengingatkan saya bahwa hubungan antara pers, perusahaan, dan pemerintah tidak semestinya dibangun di atas ketakutan, prasangka, atau kecurigaan yang tak berkesudahan. Ketiganya memiliki peran berbeda, tetapi kepentingan masyarakat seharusnya menjadi titik temu.
Perusahaan berkewajiban menjalankan usaha secara profesional dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat. Pemerintah harus memastikan aturan ditegakkan dan hak warga terlindungi. Sementara itu, pers bertugas mencari, menguji, dan menyampaikan informasi, termasuk mengawasi hal-hal yang mungkin luput dari perhatian publik.
Karena itu, saya percaya, silaturahmi tidak boleh menjelma menjadi pagar yang membatasi kritik. Pertemanan bukan alasan untuk menyembunyikan fakta. Kemitraan bukan tiket untuk memasuki ruang redaksi dan menentukan berita mana yang boleh terbit.
Justru komunikasi yang sehat memberi ruang bagi pertanyaan yang jernih dan jawaban yang terbuka. Jika muncul persoalan lingkungan, dugaan penyimpangan, atau hal lain yang menyangkut kepentingan masyarakat, wartawan wajib bekerja berdasarkan fakta, melakukan konfirmasi, dan memberikan kesempatan kepada pihak terkait untuk menjelaskan. Perusahaan pun perlu memahami bahwa pertanyaan wartawan merupakan bagian dari pertanggungjawaban kepada publik.
Sebab, marwah pers tidak ditentukan oleh seberapa dekat wartawan dengan pemegang kekuasaan atau pelaku usaha. Marwah itu ditentukan oleh seberapa teguh wartawan menjaga integritas ketika berhadapan dengan kepentingan.
Kartu pers boleh tersimpan di dompet, nama media boleh tercetak di bawah nama, tetapi profesionalisme harus dibuktikan melalui kompetensi, kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik, verifikasi, dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap karya. Di tengah riuhnya orang yang mengaku wartawan, integritas tetap menjadi pembeda yang paling mendasar.
Namun, dari Sungai Apit, ada cerita lain yang membawa percakapan kami melampaui dunia pemberitaan dan industri migas. Arip Hidayatulloh banyak menguraikan cerita tentang Sekolah Alam Mangrove Sungai Bersejarah.
Di tengah ancaman kerusakan hutan bakau dan abrasi pantai, tumbuh kepedulian yang menjadikan lingkungan sebagai ruang belajar. Anak-anak diperkenalkan kepada mangrove, bukan sekadar sebagai tumbuhan yang akarnya mencengkeram lumpur, melainkan sebagai penjaga pesisir dan penyangga kehidupan.
Mereka belajar mengenali jenis-jenis mangrove, memahami fungsi ekologisnya, hingga menumbuhkan bibit yang kelak diharapkan memberi manfaat bagi alam dan masyarakat. Melalui gagasan menabung lumpur, sebagaimana diceritakan dalam pertemuan kami, upaya konservasi juga diperkenalkan sebagai kegiatan yang berpotensi menumbuhkan nilai ekonomi bagi anak-anak dan komunitas.
Ada sesuatu yang puitis sekaligus mendasar dari kegiatan itu. Anak-anak tersebut sedang belajar menanam hari esok di atas lumpur hari ini.
Mungkin mereka belum sepenuhnya memahami bahasa investasi, angka produksi, atau perdebatan panjang tentang eksploitasi sumber daya. Namun, melalui tangan-tangan kecil yang menanam bakau, mereka sedang mempelajari sebuah kebenaran besar: alam bukan hanya tempat manusia mengambil manfaat, melainkan titipan kehidupan yang harus dijaga agar generasi berikutnya tidak mewarisi kehilangan.
Dalam khazanah Melayu, hidup bersama mengandung semangat tuntun-menuntun, ajar-mengajar, dan tolong-menolong. Nilai itu mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak cukup diukur melalui angka produksi, besarnya investasi, atau panjangnya daftar proyek. Kemajuan juga harus terlihat pada masyarakat yang semakin berdaya, anak-anak yang memperoleh kesempatan belajar, dan lingkungan yang tetap sanggup menopang kehidupan.
Bagi industri migas, tanggung jawab semacam ini menjadi penting. Minyak dan gas memiliki nilai strategis bagi perekonomian, tetapi kegiatan industri yang bersentuhan dengan alam dan masyarakat harus disertai pengelolaan risiko, kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan, keterbukaan informasi, serta tanggung jawab sosial yang nyata.
Kehadiran perusahaan di tengah masyarakat semestinya tidak berhenti pada kegiatan operasional dan angka-angka dalam laporan tahunan. Lebih dari itu, kehadiran tersebut perlu membuka kesempatan, memperkuat kemampuan warga, dan membantu menumbuhkan kemandirian komunitas.
Program sosial akan lebih bermakna apabila berangkat dari kebutuhan masyarakat, tumbuh bersama warga, dan meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Sebab, keberhasilan pembangunan bukan semata-mata tentang apa yang berhasil diambil dari bumi, melainkan juga tentang apa yang berhasil ditumbuhkan bagi kehidupan.
Pengalaman Sekolah Alam Mangrove Sungai Bersejarah memperlihatkan bagaimana kepedulian lingkungan dapat berkembang menjadi pendidikan, peluang ekonomi, dan potensi ekowisata. Ketika masyarakat menjadi pelaku, konservasi tidak lagi terasa sebagai seruan yang datang dari kejauhan. Ia tumbuh menjadi kebanggaan kampung, pengetahuan bersama, dan harapan bagi masa depan.
Batam pun memiliki alasan untuk belajar. Sebagai kota industri dan kawasan strategis yang tumbuh di tengah lingkungan kepulauan, Batam menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kehidupan masyarakat pesisir, dan kelestarian ekosistem. Pengalaman Sungai Apit layak dipelajari lebih dekat, bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan untuk menemukan gagasan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat Batam.
Saya berharap silaturahmi ini tidak berhenti di meja pertemuan, dalam percakapan yang hangat, atau di antara foto-foto yang kemudian tenggelam dalam galeri telepon genggam. Ada gagasan untuk melakukan kunjungan balasan ke Sungai Apit, melihat langsung Sekolah Alam Mangrove, sekaligus mendokumentasikan perjalanan dan perjuangan masyarakat dalam sebuah buku atau e-book.
Bagi saya, gagasan itu penting. Pengalaman baik tidak seharusnya berhenti sebagai cerita lisan yang perlahan dilupakan. Ia perlu ditulis, dirawat, dan diwariskan.
Di sinilah pers memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mencatat peristiwa. Wartawan adalah perawi zaman: mereka merekam perubahan, menyimpan ingatan masyarakat, dan membawa kisah-kisah lokal menyeberangi batas wilayah. Apa yang bermula dari perjuangan sebuah kampung menghadapi abrasi dapat menjelma menjadi pengetahuan yang menginspirasi banyak daerah.
Sebuah berita mungkin selesai dibaca dalam beberapa menit. Namun, sebuah kisah yang ditulis dengan jujur dan dirawat dengan sungguh-sungguh dapat hidup jauh lebih lama daripada peristiwanya.
Pada akhirnya, kunjungan wartawan Sungai Apit ke Batam mengajarkan bahwa silaturahmi dapat menjadi pintu bagi kerja sama yang lebih luas. Dunia usaha membutuhkan komunikasi yang terbuka. Masyarakat membutuhkan pembangunan yang bertanggung jawab. Lingkungan membutuhkan perlindungan yang nyata. Dan pers membutuhkan kebebasan, integritas, serta keberanian untuk tetap berpihak pada kepentingan publik.
Kita mungkin berasal dari kampung yang berbeda, bekerja di lembaga yang berlainan, dan membawa kepentingan yang tidak selalu serupa. Namun, masa depan menuntut kita untuk belajar hidup berdampingan tanpa kehilangan tanggung jawab masing-masing.
Minyak yang diangkat dari perut bumi dapat dihitung dalam barel. Investasi dapat dicatat dalam angka. Pertumbuhan ekonomi dapat disajikan dalam tabel. Tetapi kepercayaan masyarakat, kelestarian alam, dan marwah pers tidak sesederhana itu. Ketiganya hanya dapat dirawat melalui kejujuran, keterbukaan, dan tindakan yang konsisten.
Selamat datang, saudara-saudara wartawan Sungai Apit. Semoga pertemuan ini menjadi awal persaudaraan yang panjang—menghubungkan Batam dengan Siak, pengalaman dengan pengetahuan, dan kata-kata dengan tindakan.
Sebab, silaturahmi yang sejati bukan sekadar mendekatkan jarak antarmanusia. Ia juga harus mendekatkan kita kepada kebenaran.
Dan sebagaimana bakau yang menancapkan akar di lumpur untuk menahan abrasi, pers pun harus menancapkan integritasnya di tengah arus kepentingan. Agar ketika zaman mengikis batas-batas kejujuran, masih ada akar yang bertahan: akar yang menjaga marwah, merawat kepercayaan, dan memastikan kebenaran tidak hanyut dibawa arus.











