Batam – Pagi di Pelabuhan Domestik Sekupang belum sepenuhnya riuh, namun denyutnya terasa berbeda. Angin laut berembus pelan, menyapu buritan kapal-kapal cepat yang bersandar rapi. Di antara aktivitas rutin bongkar muat dan langkah awak kapal, sebuah pesan kuat sedang ditegakkan: keselamatan tak mengenal kompromi.
Menjelang masa angkutan Lebaran 2026—periode ketika laut menjadi jalur pulang bagi ribuan pemudik—Kementerian Perhubungan hadir lebih awal. Melalui Direktorat Perkapalan dan Kelautan (Ditkapel) Ditjen Perhubungan Laut bersama KSOP Khusus Batam, dilakukan uji petik atau ram check kelaikan kapal penumpang, Kamis (22/1/2026).
Salah satu yang menjadi sasaran pemeriksaan pagi itu adalah kapal cepat Emerald of Dumai, penghubung Batam–Tanjung Balai Karimun–Dumai. Kapal ini bukan sekadar moda transportasi, melainkan nadi pergerakan masyarakat lintas pulau yang akan semakin padat menjelang Lebaran.
Bagi Kemenhub, pemeriksaan ini bukan rutinitas administratif. Ia adalah pagar awal agar keselamatan tak runtuh oleh kelengahan. Kasubdit Ditkapel Direktorat Perkapalan dan Kelautan Kemenhub, Capt. Maltus Jackline, menyebut ram check sebagai langkah strategis menghadapi lonjakan penumpang.
“Fokus kami pada pelabuhan dengan aktivitas penumpang tinggi, terutama kapal penumpang dan kapal wisata. Batam menjadi salah satu prioritas nasional, selain Labuan Bajo dan Benoa,” ujarnya.
Sejak 19 Januari hingga 19 Februari 2026, ram check digelar serentak di seluruh Indonesia. Dari 264 pelabuhan pantau, tim Ditkapel turun langsung ke 15 pelabuhan utama dengan volume angkutan laut tertinggi. Batam masuk daftar penting, bukan hanya karena padatnya penumpang domestik, tetapi juga karena karakter wilayahnya yang melayani lintas negara dan kapal cepat yang terikat konvensi keselamatan internasional.

“Secara teknis, alat transportasi laut di Batam sudah cukup baik. Tingkat kepercayaan penumpang juga meningkat, salah satunya karena faktor keselamatan,” jelas Capt. Maltus.
Namun, kepercayaan itu, menurutnya, hanya bisa dijaga dengan disiplin tanpa celah. Seluruh operator kapal diwajibkan memastikan alat keselamatan—baik yang langsung menyelamatkan nyawa maupun yang mendukung keamanan pelayaran—berfungsi sempurna.
“Tagline kami jelas: Zero Compromise for Safety. Tidak ada toleransi terhadap penyimpangan aturan keselamatan,” tegasnya.
Nada yang sama disampaikan Hendra Sucipto, Kabid Kelaiklautan Kapal KSOP Batam. Di wilayah kerjanya, terdapat 107 unit kapal penumpang yang beroperasi dan tersebar di lima pelabuhan penumpang.
“Berdasarkan ram check saat libur Natal dan Tahun Baru lalu, kondisi kapal penumpang di Batam dalam keadaan baik,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya sikap kooperatif dari seluruh operator. Pemeriksaan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan setiap pelayaran berangkat dengan tanggung jawab penuh.
“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah mengawasi, operator mematuhi, dan saat kapal berlayar, nakhoda memegang tanggung jawab penuh atas penumpang, kapal, dan lingkungan,” ujarnya.
Uji petik di Sekupang pagi itu pun menjadi lebih dari sekadar ceklis teknis. Ia adalah pengingat bahwa di balik jadwal keberangkatan dan deru mesin kapal, ada nyawa yang dititipkan. Dan menjelang Lebaran 2026, ketika laut menjadi jalan pulang, negara memilih berdiri di garda depan—menjaga agar setiap perjalanan berakhir dengan selamat.











