Belakang Padang – Di sebuah pulau kecil yang lebih akrab dengan suara azan dan desir angin laut ketimbang riuh pertengkaran, sebuah simpul sempat mengencang. Bukan di tali tambang nelayan, melainkan di ruang tak kasat mata bernama media sosial.
Semua bermula dari sebuah unggahan.
Akun Usop Sri, yang diketahui milik Yusuf Suhaili, menuliskan kegelisahan yang awalnya tampak seperti kritik biasa. Namun di dinding grup Wajah Belakang Padang, kalimat-kalimat itu menjelma riak. Ia tidak lagi sekadar mempertanyakan, tetapi perlahan menggiring opini. Menyentil penyelenggaraan kegiatan Hari Besar Islam yang digelar di astaka kecamatan.
Nada yang semula dibaca sebagai keprihatinan, berubah menjadi tafsir yang berlapis-lapis di mata pembaca. Ada yang merasa tersentil, ada yang terpancing, dan sebagian lain mulai menyusun prasangka. Kata-kata, seperti angin yang salah arah, membawa debu ke mana-mana.
Belakang Padang, yang biasanya teduh, mendadak terasa seperti ruang yang sedikit lebih sempit.
Di titik itulah, Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kecamatan Belakang Padang memilih jalan yang tidak berisik. Mereka tidak membalas dengan amarah, tidak pula memperpanjang gema di linimasa. Mereka menunggu. Seperti orang tua menunggu anaknya pulang setelah tersesat arah.
“Tujuan kami hanya ingin situasi kamtibmas di Belakang Padang ini tetap kondusif. Alhamdulillah, Yusuf menanggapi baik imbauan kami. Kami sangat mengapresiasi jiwa besarnya,” ujar Ketua PHBI Belakang Padang, M. Faisal, didampingi Sekretaris Adam, usai pertemuan yang berlangsung di Mapolsek Belakang Padang, Senin (30/3/2026) petang.
Pertemuan itu tidak dipenuhi nada tinggi. Tidak ada meja yang diketuk atau suara yang meninggi. Yang ada justru sesuatu yang lebih jarang ditemukan: kesediaan untuk saling mendengar.
Adam mengenang, sejak awal PHBI memilih untuk menanggapi riak itu dengan kepala dingin. Mereka percaya, tidak semua kegaduhan harus dijawab dengan kegaduhan.
“Sejak awal kami meletakkan harapan pada solusi terbaik. Ketika Yusuf menghubungi kami dan menyampaikan niat baiknya, kami dengan hati terbuka menyambut,” katanya.
Dan benar saja, simpul itu akhirnya terurai bukan oleh kekuatan, melainkan oleh kesadaran.
Yusuf Suhaili, yang sebelumnya berdiri di balik layar akun Usop Sri, memilih melangkah ke ruang yang lebih terang: ruang publik. Di sana, ia tidak lagi membawa kritik yang tajam, melainkan kerendahan hati. Ia menyampaikan permohonan maaf. Sebuah gestur sederhana, namun seringkali paling sulit dilakukan.
Permintaan maaf itu bukan sekadar kalimat. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kembali yang sempat renggang. Ia adalah penanda bahwa seseorang bersedia menurunkan egonya demi menjaga wajah kampungnya sendiri.
Di Belakang Padang, perkara ini mungkin terlihat kecil bagi orang luar. Hanya unggahan, hanya komentar, hanya debat di dunia maya. Namun bagi mereka yang hidup dalam kedekatan, di mana setiap nama adalah tetangga, setiap peristiwa adalah cerita bersama, riak kecil bisa menjadi gelombang jika dibiarkan.
Kini, gelombang itu telah surut.
Astaka kembali menjadi ruang perayaan, bukan perdebatan. Linimasa kembali lengang dari bara. Dan Belakang Padang kembali seperti semula: sebuah tempat di mana masalah boleh datang, tetapi tidak pernah dibiarkan tinggal terlalu lama.
Sebab di sana, orang-orang masih percaya, bahwa menjaga damai jauh lebih penting daripada memenangkan kata-kata. (red)











