Catatan Seorang Wartawan: Belajar Menjaga Silaturahmi dari Seorang Dones

Avatar photo
Kami sekeluarga berfoto bersama Dokter Agnes Cintalia Saing beserta keluarganya. Foto: Arsip pribadi untuk Bataminfo

Batam – Di sebuah siang yang tenang, ketika gema Idul Fitri 2026 masih berpendar di dinding-dinding rumah, gawai saya berdering. Suara di seberang begitu akrab, seperti tak pernah benar-benar pergi.

“Abang di rumah? Kami otw.”

Itu Dones. Sapaan yang lahir dari kehangatan keluarga kami untuk Agnes Sintalia Saing. Sebuah nama yang, bagi kami dan barangkali bagi sebagian besar warga Kecamatan Belakang Padang, bukan sekadar identitas, melainkan ingatan yang menetap.

Ada orang-orang yang hadir dalam hidup bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan ketekunan yang pelan namun menetap. Dones adalah salah satunya.

Saya mengenalnya sejak hampir dua dekade lalu. Sejak ia masih seorang gadis yang datang dengan seragam dokter muda, membawa semangat yang nyaris tak punya jeda. Dari masa itu hingga kini, waktu telah mengubah banyak hal dalam hidupnya, kecuali satu: caranya memeluk manusia.

Saya masih mengingat tahun 2007, ketika ia pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Pemawar Rindu. Seorang dokter muda, dengan gaya sedikit tomboy, tutur ceplas-ceplos, dan langkah yang seolah tak pernah ragu. Ia tidak berusaha menyenangkan semua orang, dan mungkin justru di situlah letak kejujurannya. Ada yang menyebutnya jutek. Ada pula yang belum sempat memahami bahwa di balik ketegasan itu, tersimpan kepedulian yang tak pandai berpura-pura.

Waktu kemudian menjadi saksi yang adil. Ia tidak menjawab penilaian dengan kata-kata, melainkan dengan kerja.

Sebelas tahun ia memimpin Puskesmas Belakang Padang. Sewindu lebih ia merawat bukan hanya tubuh, tetapi juga hubungan. Ia menolak jarak yang kerap tercipta antara dokter dan pasien. Ia meruntuhkan sekat itu, menjadikannya percakapan yang hangat, kadang seperti adik kepada kakaknya, kadang seperti anak kepada orangtuanya, kadang sekadar sahabat yang mendengarkan tanpa menghakimi.

Di ruang-ruang perawatan yang sederhana, ia membangun sesuatu yang lebih dari sekadar layanan kesehatan: kepercayaan.

Kedekatan kami bermula dari sakit yang berulang. Ayah kami sering keluar-masuk perawatan, dan di situlah saya melihat sisi lain Dones, yang mungkin tak tertangkap oleh mereka yang hanya bertemu sekilas.

Ia tidak berdiri sebagai dokter yang berjarak. Ia duduk, menunduk, mendengar, lalu berbicara dengan nada yang lebih mirip seorang anak daripada seorang profesional. Ia menempatkan empati di atas prosedur.

Dan yang lebih mengherankan, ia tak pernah benar-benar “tidak ada.” Telepon selalu dijawab. Pesan selalu dibalas. Waktu seolah dilonggarkan untuk siapa saja yang membutuhkan.

Belakangan saya tahu, perlakuan itu bukan istimewa untuk kami saja. Hampir semua pasiennya merasakan hal yang sama: diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar kasus.

Perjalanan membawanya ke tempat lain. Tahun 2018, ia melanjutkan tugas sebagai Kepala Puskesmas Lubuk Baja. Lingkup kerja membesar, tanggung jawab bertambah, dan dunia pun berubah.

Sebagai wartawan, saya mengikuti jejaknya dari kejauhan. Terutama ketika pandemi COVID-19 datang seperti badai panjang yang tak memberi jeda. Di saat banyak orang memilih menjaga jarak, ia justru mendekat, menjadi relawan, berdiri di garis depan, menghadapi risiko yang tak pernah benar-benar bisa dihitung.

Penghargaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana mungkin menjadi penanda resmi atas pengabdiannya. Namun bagi mereka yang pernah disentuh oleh kehadirannya, penghargaan itu terasa seperti sekadar formalitas dari sesuatu yang sejak lama sudah kami ketahui: bahwa ia bekerja dengan hati yang tak meminta tepuk tangan.

Namun perjalanan karier, seperti halnya laut di sekeliling Belakang Padang, tidak selalu tenang.

Setelah menjabat di Lubuk Baja, Dones sempat berpindah-pindah tugas. Hingga akhirnya ia dipercaya menduduki posisi Wakil Direktur di RSUD Embung Fatimah, sebuah jabatan yang terasa selaras dengan kapasitas, pengalaman, dan ketekunannya selama ini.

Di titik itu, seolah garis hidupnya menemukan bentuk yang utuh: pengabdian yang panjang bertemu dengan pengakuan yang pantas.

Namun sebagai wartawan, saya juga belajar satu hal: bahwa dalam birokrasi, garis lurus tidak selalu berujung pada tempat yang semestinya.

Pergantian kepala daerah membawa perubahan arah. Nama-nama baru muncul, lingkaran baru terbentuk. Dan di tengah dinamika itu, Dones seperti perlahan menghilang dari permukaan.

Bukan karena ia berubah. Tapi karena sistem sering kali bekerja dengan logika yang berbeda.

Sebagai warga, saya mungkin hanya bisa menghela napas. Sebagai wartawan, saya memahami: setiap pemimpin datang dengan gerbongnya sendiri. Di situlah kadang kemampuan dan integritas seseorang tersisih, bukan karena kurang, melainkan karena tidak termasuk.

Dan barangkali, itulah salah satu ironi paling sunyi dalam birokrasi. Bahwa mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh tidak selalu menjadi mereka yang paling terlihat.

Waktu, seperti biasa, mengikis frekuensi pertemuan. Kami sibuk dengan hidup masing-masing. Silaturahmi berpindah bentuk, dari tatap muka menjadi suara di telepon, dari perbincangan panjang menjadi pesan singkat.

Namun siang itu, di hari kelima lebaran, ia datang.

Bukan sendiri.

Dones yang dulu kami kenal sebagai dokter muda kini hadir bersama hidup yang telah ia bangun. Seorang suami di sisinya, dan dua anak perempuan yang berjalan di dekatnya, seperti perpanjangan dari masa depan yang dulu ia tinggalkan di pulau ini. Ada sesuatu yang menggetarkan saat melihatnya: waktu yang berlalu ternyata tidak menjauhkan, melainkan justru melengkapi.

Hampir satu jam kami berbincang. Tentang hal-hal sederhana, tentang masa lalu yang diam-diam masih tinggal, tentang tawa yang tidak berubah meski usia bertambah. Tidak ada protokol. Tidak ada jarak jabatan. Hanya pertemuan yang jujur antara manusia yang pernah saling menguatkan.

Dan ternyata, kami bukan satu-satunya. Ia mendatangi banyak rumah di Belakang Padang, menyusuri kembali jejak-jejak lama, menyapa orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hari-harinya.

Di zaman ketika hubungan sering kali menjadi transaksional, Dones memilih jalan yang lebih sunyi: merawat silaturahmi tanpa pamrih.

Ia mengajarkan bahwa kedekatan tidak selalu diukur dari intensitas pertemuan, melainkan dari kesediaan untuk tetap hadir meski hanya sesekali, namun dengan sepenuh hati.

Dari seorang dokter yang pernah dianggap jutek, kami belajar bahwa ketulusan tidak selalu tampil manis di awal. Kadang ia datang dalam bentuk yang tegas, jujur, bahkan kaku. Tapi waktu akan membuktikan: mana yang sekadar ramah, dan mana yang benar-benar peduli.

Bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan penuh kepentingan, masih ada orang yang memilih untuk kembali. Bukan karena harus, tapi karena ingin.

Dan dari Dones, saya belajar, bahwa menjaga silaturahmi bukanlah perkara waktu yang tersedia, melainkan hati yang bersedia. Bukan pula soal sempat atau tidak sempat, melainkan soal mau atau tidak mau

____

Khafi Anshary