Catatan Ketua PWI Batam
Ada banyak cara mencintai sebuah pulau. Ada yang mengucapkannya dalam pidato, menuliskannya dalam spanduk, atau meneriakkannya di tengah seremoni. Ada pula yang memilih cara lebih sunyi: turun ke jalan, membawa alat kerja, merogoh kocek sendiri, lalu menambal lubang-lubang yang selama ini mungkin lebih sering ditambal janji.
Di Belakang Padang, Pulau Penawar Rindu, saya menemukan salah satu bentuk cinta itu pada sosok Aipda Ropianto.
Belakang Padang bukan sekadar pulau kecil di seberang hiruk-pikuk Batam. Ia menyimpan denyut sejarah, keramahan masyarakat, kuliner khas, dan sebuah moda transportasi yang kian langka: becak. Di tengah perubahan zaman yang berlari begitu cepat, becak tetap mengayuh kenangan, membawa wisatawan menyusuri jalan-jalan pulau, sekaligus menjadi wajah pariwisata yang tidak mudah ditemukan di tempat lain di Kepulauan Riau.
Becak-becak itu bukan hanya kendaraan. Di balik setiap kayuhan, ada nafkah yang dipertaruhkan. Ada keluarga yang menunggu penghasilan di rumah. Ada pedagang kecil yang berharap wisatawan singgah membeli makanan. Ada pelaku UMKM yang menggantungkan harapan pada ramainya kunjungan. Bahkan, ada pengemudi kendaraan sangkut dan pelaku usaha lainnya yang ikut menikmati perputaran ekonomi ketika wisatawan merasa nyaman berkunjung.
Namun, pariwisata tidak cukup hidup dengan cerita tentang keunikan. Ia membutuhkan jalan yang layak, lingkungan yang nyaman, dan kepedulian yang nyata. Sebab, wisatawan mungkin datang karena tertarik pada keunikan becak, tetapi pengalaman mereka sepanjang perjalanan ikut menentukan apakah mereka akan kembali atau sekadar menyimpan cerita untuk sekali kunjungan.
Di titik inilah Aipda Ropianto mengambil peran.
Dengan uang pribadinya, ia menambal jalan agar lebih nyaman dilalui becak yang membawa wisatawan domestik maupun mancanegara. Barangkali bagi sebagian orang, pekerjaan itu terlihat sederhana. Hanya menambal jalan. Tidak ada panggung, tidak ada pita yang digunting, tidak pula tepuk tangan yang mesti diatur waktunya.
Tetapi, justru dari pekerjaan sederhana itu kita bisa membaca sesuatu yang lebih besar: kepedulian terhadap keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Saya menulis ini bukan semata-mata karena Aipda Ropianto rela mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri. Saya mengapresiasi cara pandangnya. Ia tampaknya memahami bahwa memperbaiki jalan bukan hanya urusan menutup lubang, melainkan juga menjaga agar roda ekonomi masyarakat tetap berputar.
Jalan yang mulus mungkin tidak langsung membuat wisatawan berbondong-bondong datang. Namun, jalan yang lebih baik dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang menyenangkan. Becak dapat melintas dengan lebih nyaman, pengemudinya dapat bekerja dengan lebih baik, dan wisatawan memiliki alasan untuk menikmati Belakang Padang sedikit lebih lama.
Dari satu tindakan kecil, manfaatnya bisa menjalar ke banyak pintu rezeki.
Sebagai warga Belakang Padang sekaligus Ketua PWI Batam, saya merasa perlu menyampaikan apresiasi ini. Bukan untuk mengultuskan seseorang, apalagi mengubah kepedulian menjadi panggung pemujaan. Aipda Ropianto tetap manusia biasa, dengan segala keterbatasan yang tentu dimiliki setiap orang. Tetapi, tindakan baik layak disebut baik, terlebih ketika manfaatnya menyentuh kepentingan orang banyak.
Dan dari tindakan itu, kita patut berkaca.
Kita sering berbicara tentang pembangunan pariwisata, promosi destinasi, peningkatan kunjungan, dan pertumbuhan ekonomi. Rapat demi rapat digelar. Gagasan demi gagasan disusun. Foto kegiatan pun sesekali menghiasi media sosial, lengkap dengan senyum yang tertata rapi.
Namun, setelah semua tepuk tangan reda, pertanyaan sederhana tetap menunggu jawaban: apa yang benar-benar sudah kita lakukan untuk membuat masyarakat merasakan manfaatnya?
Sebab, pariwisata tidak tumbuh hanya karena sebuah tempat disebut destinasi. Ia tumbuh ketika masyarakatnya ikut merasakan hasil. Ketika pengemudi becak memperoleh penghasilan, pedagang kecil mendapatkan pembeli, pelaku UMKM menemukan pasar, dan warga merasa bahwa kehadiran wisatawan membawa berkah, bukan sekadar keramaian.
Di sinilah sedikit sindiran perlu kita sisipkan.
Kadang-kadang, kita begitu pandai membicarakan potensi sebuah daerah, tetapi gagap ketika diminta merawatnya. Kita ingin wisatawan datang, tetapi lupa memastikan mereka nyaman. Kita ingin ekonomi masyarakat tumbuh, tetapi membiarkan persoalan kecil yang menghambatnya terus menjadi urusan orang lain.
Lubang jalan pun akhirnya mengajarkan ironi: tidak semua lubang bisa ditutup dengan pidato, dan tidak semua persoalan selesai dengan membentuk panitia.
Tentu, memperbaiki infrastruktur bukanlah tanggung jawab seorang Aipda Ropianto seorang diri. Pemerintah dan pihak-pihak terkait tetap memiliki peran sesuai kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Kepedulian pribadi semestinya menjadi pemantik, bukan alasan bagi pihak yang bertanggung jawab untuk berlepas tangan. Jangan sampai orang yang dengan sukarela menambal jalan justru membuat mereka yang berkewajiban memeliharanya merasa bisa duduk lebih tenang.
Kita perlu membedakan antara mengapresiasi inisiatif warga dan membiarkan tanggung jawab publik berpindah ke pundak perorangan.
Aipda Ropianto tidak harus menjadi penyelamat seluruh jalan di Belakang Padang. Ia juga tidak semestinya dibiarkan berjuang sendirian. Yang perlu kita pelajari adalah kepekaannya melihat persoalan, keberaniannya mengambil langkah, dan kemampuannya menghubungkan tindakan sederhana dengan kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Sebagai warga, kita bisa berkaca dengan ikut merawat lingkungan dan mendukung usaha lokal. Sebagai pelaku usaha, kita bisa memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Sebagai pemangku kebijakan, kita bisa memastikan infrastruktur dan fasilitas publik mendapatkan perhatian yang semestinya. Sebagai insan pers, kita bisa mengangkat kerja-kerja nyata seperti ini agar publik memahami bahwa membangun daerah tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi sering kali dari kepedulian yang kecil dan konsisten.
Dan sebagai masyarakat Belakang Padang, kita memiliki alasan untuk menjaga apa yang menjadi kebanggaan pulau ini. Becak bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipertahankan demi foto wisatawan. Ia adalah bagian dari identitas, mata pencaharian, dan peluang ekonomi masyarakat yang perlu dirawat bersama.
Saya percaya, Pulau Penawar Rindu tidak kekurangan orang baik. Yang kadang-kadang kita kekurangan adalah keberanian untuk menjadikan kepedulian sebagai tindakan, bukan berhenti sebagai percakapan.
Aipda Ropianto telah memberikan satu contoh. Tidak harus menunggu jabatan tinggi untuk berbuat sesuatu. Tidak harus menunggu anggaran besar untuk memulai kepedulian. Dan tidak perlu menunggu kamera datang untuk memastikan bahwa sebuah tindakan memiliki arti.
Sebab, ukuran pengabdian bukanlah seberapa sering nama kita disebut, melainkan seberapa jauh manfaat kehadiran kita dirasakan orang lain.
Hari ini, mungkin ia hanya menambal jalan agar becak bisa melintas lebih nyaman. Tetapi, dari jalan yang ditambalnya, kita dapat melihat jalan pemikiran yang lebih luas: bahwa pariwisata adalah urusan bersama, bahwa ekonomi masyarakat perlu dirawat dari hal-hal yang paling dekat, dan bahwa mencintai kampung halaman berarti bersedia melakukan sesuatu untuknya.
Maka, izinkan saya mengajak kita semua berkaca pada Aipda Ropianto.
Bukan untuk menuntut setiap orang mengeluarkan uang pribadi demi menambal jalan. Bukan pula untuk membanding-bandingkan siapa yang paling berjasa. Melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: di tengah segala kemampuan, jabatan, kesempatan, dan kewenangan yang kita miliki, apa yang sudah kita lakukan agar kampung halaman ini menjadi lebih baik?
Sebab, Belakang Padang tidak hanya membutuhkan orang yang pandai bercerita tentang keindahannya. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga keindahan itu agar tetap bisa dinikmati dan menghidupi masyarakatnya.
Dan terkadang, jalan menuju perubahan memang tidak selalu dimulai dari langkah besar. Ia bisa dimulai dari seseorang yang melihat lubang di jalan, lalu memilih untuk tidak sekadar mengeluh.
Namanya Ropianto. Hanya seorang polisi berpangkat Aipda yang berdinas di SPKT Polresta Barelang.
Dari dirinya, kita belajar bahwa kepedulian tidak harus menunggu aba-aba. Bahwa pengabdian tidak selalu memerlukan panggung. Dan bahwa mencintai Pulau Penawar Rindu bukan hanya soal merindukan keindahannya, tetapi juga kesediaan merawatnya.
Sebab, pulau ini tidak akan menjadi lebih baik hanya karena kita bangga menyebut namanya. Ia akan menjadi lebih baik ketika kebanggaan itu menjelma menjadi perbuatan.











