Bataminfo.co.id, Batam– Air mata dan trauma seorang ibu kini berubah menjadi sebuah perlawanan. Sri Suryati, seorang ibu di Batam, menolak diam setelah buah hatinya diduga menjadi korban kekerasan oleh oknum guru di Playgroup Swasta Djuwita. Bersama musisi Michael Bennett, ia merilis lagu “Jangan Sakiti Anak Kami”—sebuah jeritan hati sekaligus manifesto nasional berslogan Save Anak Indonesia.
Dalam video lagu tersebut, sebuah momen menyayat hati terekam saat sang anak menunjuk foto seorang guru.
“Yang ini, Miss pukul,” bisik bocah kecil itu polos.
Perjuangan Sri mencari keadilan sempat diterpa isu miring. Ia dituding melakukan aksi premanisme saat mendatangi sekolah pada 21 April lalu. Dengan tegas, Sri membantah tuduhan tersebut.
“Kehadiran kami bukan untuk intimidasi. Kalau ada reaksi emosional dari kerabat saya, itu respons manusiawi mendengarkan seorang anak disakiti. Tapi tidak ada pemukulan atau ancaman!” tegas Sri.
Kedatangannya murni demi menuntut klarifikasi dan bukti visual yang selama ini disembunyikan pihak sekolah. Merasa dikelabui, Sri menantang balik pihak sekolah: “Silakan buka rekaman CCTV secara utuh agar publik melihat kebenaran yang objektif!”
Hingga hari ini, Sri didera kekecewaan mendalam karena pihak sekolah terus menutup diri tanpa memberikan kejelasan. Namun, menyerah bukanlah pilihan bagi seorang ibu.
“Lagu ini adalah suara batin saya. Saya kecewa, tapi saya tidak akan berhenti. Saya akan terus tempuh jalur hukum demi keadilan anak saya,” ucap Sri penuh emosi.
Bagi Sri, “Jangan Sakiti Anak Kami” bukan sekadar musik. Itu adalah alarm keras bagi seluruh instansi pendidikan bahwa tidak ada tempat bagi kekerasan, dan seorang ibu akan melakukan apa pun demi melindungi darah dagingnya.












