Sepanjang 2020, Terdapat 34 Kasus Perompakan di Selat Singapura

Avatar photo
Ilustrasi aksi perompakan. (Foto: Istimewa).

Bataminfo.co.id, Singapura – Pusat berbagi informasi maritim mencatat sepanjang tahun 2020 lalu, terdapat 34 kasus insiden perompakan yang menaiki kapal di Selat Singapura. Kasus tersebut lebih banyak dari tahun 2019 yang tercatat ada 31 kasus.

Tren ini terus meningkat setelah hanya 17 insiden yang dilaporkan dari 2016 hingga 2018, menurut angka dari Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia (ReCAAP) Information Sharing Center.

“Dari 34 insiden pada tahun 2020, 30 kasus terjadi di jalur timur dari Traffic Separation Scheme (TSS), sementara jenis kapal yang paling umum menjadi sasaran adalah kapal yang lebih besar seperti kapal curah,” bunyi laporan tahunan pusat untuk tahun 2020 menunjukkan.

Dalam beberapa kejadian, pelaku dipersenjatai dengan pisau, barang yang dicuri mulai dari uang tunai hingga suku cadang mesin. Dalam satu insiden, seorang anggota kru kapal terluka.

Perompakan terjadi pada 9 Mei tahun 2020 lalu, ketika lima perampok menaiki kapal tanker Vega Aquarius yang sedang menuju dari Singapura ke Tiongkok di jalur timur TSS.

Menurut laporan kejadian, pelaku bersenjatakan pisau panjang mengkonfrontasi pelaut biasa kapal dan merampok ponselnya.

Pelaut berhasil melarikan diri dan memberi tahu anggota kru lainnya, yang membunyikan alarm dan mengumpulkan anggota kru lainnya.

“Pencarian di atas kapal dilakukan oleh kru setelah pelaku melarikan diri dan dua set alat bantu pernapasan dilaporkan dicuri. Pelaut biasa menderita luka ringan di kepala,” bunyi laporan itu.

Sementara pihak berwenang di Singapura dan Indonesia diberi tahu, kapal tersebut melanjutkan pelayarannya tanpa memerlukan bantuan.

Laporan tahunan ReCAAP menyoroti bahwa para pelaku gigih dalam upayanya untuk naik kapal di jalur timur, ditunjukkan oleh lebih dari satu boarding yang terjadi dalam interval waktu yang singkat.

Misalnya, sejumlah insiden yang dilaporkan pada November tahun lalu terjadi berdekatan, termasuk satu pada 8 November dan dua pada 9 November.

“Ada kemungkinan kelompok pelaku yang sama terlibat dalam beberapa insiden ini berdasarkan jarak waktu yang singkat antara insiden, kedekatan insiden satu sama lain, dan modus operandinya,” kata laporan itu.

Namun, laporan tersebut mencatat bahwa ada penurunan jumlah insiden yang dilaporkan di jalur barat TSS, kemungkinan karena peningkatan penegakan hukum di sana dan penurunan harga besi tua, yang secara tradisional dijual di pasar gelap.

Secara keseluruhan, direktur eksekutif pusat ReCAAP, Masafumi Kuroki mengatakan peningkatan insiden perampokan laut dapat dikaitkan lagi dengan jalur air sempit selat yang sibuk dan kapal yang bergerak lambat, membuat daerah tersebut rawan perampokan.

Menurut Kuroki, pandemi Covid-19 juga bisa berkontribusi pada peningkatan kasus perompakan. Kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19 bagi masyarakat pesisir dapat menyebabkan lebih banyak orang melakukan perampokan laut,” katanya.

“Mungkin juga pekerjaan yang berkepanjangan dari awak di atas kapal karena kesulitan dalam melakukan pergantian awak menyebabkan kelelahan pada awak dan dapat mengurangi kewaspadaan mereka.”

Kuroki mengulangi seruan pusat ReCAAP bagi negara-negara pesisir untuk meningkatkan patroli, berbagi informasi dan segera menanggapi insiden.

Selat Singapura terdiri dari perairan teritorial Singapura, Malaysia dan Indonesia.

“Kami mendesak negara-negara pesisir untuk menangani pencurian kecil-kecilan dan perampokan laut dengan serius karena membiarkan penjahat melanjutkan kejahatan mereka tanpa hukuman hanya akan memberanikan mereka untuk meningkatkan tindakan mereka,” kata Kuroki.

Sumber : Beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *