Ramon dalam Bait yang Tak Tersuarakan

Avatar photo
Saya dan Agus Bagjana di bawah ranjang kelas ekonomi KM Wira yang tengah berlayar menuju Batam. Foto: Arsip Bataminfo

Batam – Di lantai dua rumah mertua tercinta, Kamis, 19 Februari 2026, rekaman sunyi perayaan Hari Pers Nasional menyeret ingatan saya pada 9 Februari lalu. Ketika Gubernur Banten, Andra Soni mengayunkan bendera start ke udara, dan putaran pertama roda Honda ADV yang ditunggangi Agus Bagjana serta Muhammad Ravi bergetar di halaman Masjid Raya Al-Bantani.

Di tanah Banten, tanah para jawara, Bumi Kesultanan, mesin itu bukan sekadar menyala. Ia seperti takbir kecil yang menandai dimulainya perjalanan menembus 13 negara, menuju satu titik hening: Mekkah.

Seremoninya singkat. Hanya beberapa menit. Namun cukup membuat Ramon Damora berpeluh.

Tanpa mikrofon, di ruang terbuka, suaranya serak mengantar mukadimah. Ia berdiri bukan sebagai sastrawan yang biasa memanen tepuk tangan di panggung-panggung puisi Hari Pers Nasional, melainkan sebagai Person In Charge yang memanggul marwah sahabat-sahabatnya dari PWI Kepri dan PWI Batam.

Di puncak perayaan HPN 2026 itu, ia memilih berjalan di antara kerumunan, memastikan setiap mata tertuju pada dua pengamal jurnalistik yang hendak mengayuh ambisi sampai ke Tanah Suci.

Biasanya, ia adalah bintang.
Hari itu, ia menjadi langitnya.

Masuknya perjalanan 13 negara ke dalam rundown acara bukanlah kebetulan. Itu kerja sunyi Ramon. Lobi panjang, kesabaran yang kadang lebih letih dari perjalanan darat lintas pulau.

Di bawah terik matahari 9 Februari, ia menjelma syair tentang bagaimana menjadi sahabat: tak banyak bicara tentang diri sendiri, tapi lantang menjaga harga diri orang lain.

Di panggung kecil itu, Ramon adalah puisi tentang persahabatan. Ia adalah rindu yang belajar berbicara. Di dadanya, kata-kata tumbuh seperti bunga liar di trotoar. Tak ditanam, tapi tahu arah pulang.

Ketika kami, PWI Kepri dan Batam, mengangguk dan tersenyum dari kejauhan, semesta seolah menyebut momen itu sebagai puisi.

Namun puisi tak selalu berbunga.
Ada bait yang retak.

Saya menangkap kekecewaan yang episodik di dada sang penyair—kini juga seorang peziarah Tanah Suci yang tengah menunggu panggilan. Maka saya menyeberangi selat antara Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni. Di Lampung, saya bermalam, berharap menemukan penawar rasa.

Ternyata ia telah bergerak menuju Jambi. Mobil buatan Korea saya pacu melewati Palembang, Jambi, Pekanbaru. Jarum menyentuh angka 180 kilometer per jam, dan di titik itu, nyali saya mengaku kalah. Perjalanan rupanya bukan soal mesin, tapi tentang hati yang tak ingin terlambat menyapa luka sahabatnya.

Akhirnya di Tanjung Buton, kami bertemu. Di atas KM Wira Loeisa saya dan Agus Bagjana menundukkan kepala. Tidak ada pidato. Tidak ada tepuk tangan. Hanya kejujuran dan terima kasih yang kami letakkan perlahan di hadapan nama: Ramon Damora.

Tentang penawar kecewa itu? Jangan tanya di mana letaknya
Sebab kadang, penawar bukan sesuatu yang ditemukan.

Ia adalah sahabat yang tetap tinggal, bahkan ketika puisi sedang patah di tengah kalimat. (Jonkavi)