Bataminfo.co.id, Natuna –Kelurahan Ranai Darat, Kabupaten Natuna, menghadapi tantangan dalam pemasaran pupuk organik hasil produksi mandiri yang kini semakin melimpah. Di tengah meningkatnya kebutuhan pupuk untuk tanaman hias hingga buah-buahan, kelompok masyarakat setempat justru mengalami kesulitan dalam menjual hasil produksi mereka.
A. Era Juein Marisa, S.Sos, selaku ibuk lurah juga ikut penggerak kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa pupuk yang mereka hasilkan dikenal dengan sebutan “radar ekogerit”. Pupuk ini memiliki berbagai kegunaan, mulai dari tanaman hias, tanaman buah, hingga pembibitan.
“Kami memanfaatkan bahan-bahan alami seperti sisa sayuran, buah, rumput, kotoran ternak, EM4, molase, air hujan, hingga kulit telur untuk menghasilkan pupuk berkualitas,” ujarnya.
Dalam proses produksinya, kelompok ini juga mendapat dukungan peralatan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Bahan baku pupuk dikumpulkan melalui kegiatan gotong royong yang rutin dilaksanakan setiap minggu. Sampah organik seperti rumput kering, daun bambu, hingga limbah rumah tangga kemudian diolah di rumah kompos yang telah disediakan.
Marisa menambahkan, sistem pengelolaan dilakukan secara terstruktur dengan membentuk kelompok yang terdiri dari ketua, bendahara, sekretaris, hingga anggota yang melibatkan para Ketua RT. Warga juga diajak berpartisipasi dengan menyisihkan air cucian beras serta sampah organik rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk.
Untuk mendukung pengumpulan bahan, pihaknya juga menyediakan kantong plastik khusus di rumah makan dan siap menjemput sampah organik dari warga setiap hari. Bahkan, limbah makanan yang sudah tidak layak konsumsi pun dimanfaatkan sebagai bahan pupuk.
“Saat ini, kelompok tersebut telah memiliki stok pupuk organik mencapai 2 ton yang siap dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram. Untuk pembelian dalam jumlah besar, di atas 500 kilogram, diberikan potongan harga menjadi Rp4.500 per kilogram,”Jelas Marisa Minggu 12 April 2026.
Meski produksi berjalan lancar, Marisa mengungkapkan pihaknya masih mengalami kendala dalam hal pemasaran. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Natuna dapat membantu dalam penyaluran pupuk tersebut. Selain itu, mereka juga membutuhkan dukungan kendaraan operasional untuk pengangkutan sampah dan distribusi pupuk, serta bantuan pengujian sampel agar kualitas produk dapat diakui secara resmi.
“Semangat masyarakat sudah sangat tinggi, produksi terus berjalan setiap hari. Namun kami butuh bantuan agar pupuk ini bisa terserap pasar dan dimanfaatkan lebih luas,” ungkapnya.
Sebagai bukti kualitas, pupuk organik ini telah diuji secara sederhana pada tanaman cabai dan melon dengan hasil pertumbuhan yang dinilai lebih cepat. Hal ini menjadi harapan bagi masyarakat Ranai Darat agar pupuk produksi mereka dapat menjadi solusi alternatif bagi kebutuhan pertanian sekaligus meningkatkan perekonomian warga setempat.
Laporan (Is)











