Bataminfo.co.id, Batam – Merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan Kambing dan sapi, ditambah lagi regulasi Pemerintah yang menerapkan pengiriman hewan kurban dengan sistem port to port (Pelabuhan ke Pelabuhan) membuat Pedagang hewan kurban di Batam mengeluh.
Pasalnya, selain kuatir adanya wabah PMK, pada sejumlah tempat di Kepulauan Riau (Kepri), kondisi hewan qurban seperti kambing yang tiba, diketahui dalam kondisi lemas bahkan mati setelah melalui perjalanan yang cukup jauh. Sehingga, kondisi ini berpengaruh pada harga hewan qurban yang dijual berbeda dengan Tahun lalu.
Hal ini diungkapkan oleh salah satu Pedagang hewan qurban di Batam Center, Rizal. Dia menyebut, pengiriman kambing hanya dari Lampung Tengah, namun mengalami banyak kematian karena regulasi pemerintah yang menerapkan sistem port to port.
“Untuk kambing saat ini per ekor seharga 3,8 juta rupiah. Kalo untuk sapi, trip pertama kemarin, kami jual di harga 20 jutaan, tapi menjelang hari raya ini kami sudah nggak bisa ngejual dengan harga segitu, jadi kami jual dengan harga 24 juta kebawah. Faktor pertama, karena wabah Penyakit PMK yang ada di Indonesia, yang kedua, karena biaya-biaya tambahan lainnya. Karena untuk prosedurnya itu beda. Kalo dulu, kami bisa pake roro atau truk sendiri, sekarang harus pakai kapal dan bayar sapinya itu per ekor. Kalo dulu kan per kendaraan. Kambing dari Lampung tengah. Karena, hanya Lampung tengah yang diperbolehkan untuk mengirim kambing ke Batam. Kembali lagi ke regulasi Pemerintah,” terangnya saat diwawancarai oleh Bataminfo.co.id, pada Rabu, (6/6/2022).
Kata Rizal, pihaknya bahkan mengantisipasi penularan wabah PMK pada hewan qurban yang dijualnya, mereka juga memberikan pakan, obat-obatan atau vitamin, serta rajin menyemprot disinfection setiap hari. Kendati demikian, Rizal menyebut, sejak Mei hingga saat ini, puluhan kambing telah mengalami kematian.
“Alhamdulilah, di Batam ini, untuk sapi-sapi ataupun kambing kami yang ada di kandang alhamdulilah masih sehat. Tapi memang karena wabah PMK itu, kami harus mengantisipasi dengan memberikan pakan, obat-obatan, dan penyemprotan disinfection. Tetapi, alhamdulilah untuk Sapi tidak ada yang mati. Tapi sejak bulan Mei, kambing dari pengiriman 70 ekor, yang sudah mati, hampir 50 ekor. Kambing itu baru bisa masuk seminggu yang lalu. Karena memang regulasi dari Pemerintah yang mengharuskan pengiriman port to port untuk seluruh kota Batam. Sehingga, itu yang memberatkan dan jadi keluhan juga,” ungkap Rizal.
Rizal mengatakan, menjelang H-4 Hari Raya Kurban, pihaknya berharap kepada sesama pedagang agar dapat menjaga kesehatan hewan kurban. Pihaknya juga berharap kepada Pemerintah agar kedepannya lebih memperhatikan serta menerapkan regulasi yang tidak merugikan.
“Kami berharap kepada sesama pedagang dapat menjaga kesehatan hewan kurban agar hewan yang kami antarkan itu sehat. Dan juga untuk pemerintah, mungkin sekarang sudah terlambat. Tetapi untuk kedepannya, kalau ada wabah atau kejadian yang sama, tolong lebih diperhatikan kembali terkait regulasi yang dikeluarkan. Jangan sampai regulasinya hanya sekedar solusi yang tidak untuk memecahkan masalah. Contohnya, kambing yang port to port 4 hari 4 malam yang mengakibatkan kambing tidak stabil, banyak kematian dan banyak kerugian yang ditanggung oleh padagang,” tandasnya. (Non)











