Menangkap Lapar di Sudut Kota: Razia Sunyi Bripka Zulhamsyah Putra

Avatar photo
Ket Foto: Saat menjalankan Razia Perut Lapar, Bripka Zulhamsyah tidak malu ikut makan dengan warga sambil menggali cerita (dok zulhamsyah)

Bataminfo.co.id, Batam – Pagi itu, tak ada sirene yang meraung. Tak pula barisan polisi bersenjata lengkap.

Yang terdengar hanya derit pelan roda sebuah mobil Jeep yang berhenti di sudut kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Dari pintu belakang mobil itu, Bripka Pol. Zulhamsyah Putra menurunkan bungkusan makanan hangat. Ia tersenyum, menyapa, lalu menyerahkan nasi kepada seorang warga yang sejak pagi belum makan.

Keterangan Foto: Bripka Zulhamsyah saat Razia Perut Lapar bersama warga (dok zulhamsyah)

Inilah razia yang ia lakukan—tanpa borgol, tanpa intimidasi.
Ia menamainya Razia Perut Lapar.

Selama lebih dari empat tahun, anggota Satuan Intelijen dan Keamanan (Satintelkam) Polresta Tanjungpinang ini menjadikan lorong-lorong sunyi, kawasan pesisir, hingga perkampungan hinterland sebagai “lokasi operasi”.

Targetnya hanya satu:
memastikan tak ada perut yang dibiarkan kosong.

“Siapa saja boleh makan,” ucapnya singkat, sembari menepuk bahu seorang buruh harian.

Ket Foto: Bripka Zulhamsyah memeluk dan menyalami perempuan tua yang dibantu (dok zulhamsyah)

Bagi warga, kehadiran Zulhamsyah bukan sekadar membawa makanan. Ia membawa rasa diperhatikan, sesuatu yang kerap hilang dari hidup mereka yang terbiasa dilupakan.

“Kami tidak pernah ditanya macam-macam. Datang, menyapa, lalu memberi. Itu yang membuat kami terharu,” ujar seorang warga, matanya berkaca.

Dari Pandemi ke Panggilan Hati

Benih Razia Perut Lapar tumbuh di masa paling sulit: pandemi Covid-19 tahun 2020.

Saat ekonomi Tanjungpinang terpuruk, Zulhamsyah melihat langsung wajah-wajah lelah di sekitarnya, tetangga yang kehilangan pekerjaan, buruh pelabuhan yang tak lagi dipanggil, ibu-ibu yang mengencangkan ikat pinggang dapur.

Namun ada satu dorongan yang lebih dalam.

Sang ibu, yang kala itu terbaring sakit keras, menitipkan pesan terakhir sebelum berpulang: tetap berbuat baik dan menolong orang lain.

“Ibu bilang, kebaikan itu yang akan menolong kita suatu hari nanti,” kenangnya lirih.

Pesan itu menjadi kompas hidupnya.

Zulhamsyah mulai menyisihkan gaji. Bersama sang istri, Findi Anita, dan keluarga, ia memasak sendiri makanan sederhana namun bergizi. Bukan sekali dua kali, melainkan rutin —konsisten— tanpa publikasi.

Warung Berjalan dan Doa sebagai Pembayaran

Inovasi lahir dari kesederhanaan. Mobil Jeep kesayangannya disulap menjadi warung berjalan. Belakangan, karena mobil jeep Katana sering rusak, diganti dengan Mazda. Di dalamnya tersusun nasi bungkus, beras, sayur, hingga kebutuhan dapur.

Setiap akhir pekan, mobil itu berkeliling kota.

Tak ada harga.
Tak ada kasir.

Yang tak punya uang, cukup membayar dengan doa.

Sebagian bahan makanan berasal dari warga yang ingin bersedekah. Zulhamsyah menerimanya, memasak sendiri, lalu membagikannya kembali. Rantai kebaikan itu bergerak senyap, namun nyata.

“Kalau melihat mereka tersenyum, itu obat lelah,” katanya.

Polisi yang Mendengar

Di setiap pembagian makanan, Zulhamsyah tak pernah terburu-buru. Ia duduk, mendengar, dan berbincang—tentang anak yang ingin sekolah, tentang biaya berobat, tentang hidup yang tak selalu ramah.

“Kami tidak hanya memberi makanan. Kami mendengar,” ujarnya.

Bagi Zulhamsyah, inilah esensi kepolisian yang humanis: membangun kepercayaan bukan dari kewenangan, melainkan dari kehadiran.

Apresiasi dan Air Mata

Ketulusan itu akhirnya sampai ke telinga pimpinan.
Kapolda Kepulauan Riau, Irjen Pol Asep Safrudin, menghadiahkan ibadah umrah sebagai bentuk penghargaan.

Di hadapan jajaran kepolisian, Zulhamsyah menitikkan air mata.

“Terima kasih, Jenderal,” ucapnya terbata.

Di Tanah Suci pun, ia tak berhenti berbagi. Dengan rompi bertuliskan Polda Kepri dan logo Razia Perut Lapar, ia membagikan makanan, kurma, Al-Qur’an, dan sajadah kepada jemaah dari berbagai negara. Aksinya viral, tanpa ia niatkan.

Namanya kemudian diundang ke berbagai forum nasional: RRI, TV Mabes Polri, hingga menerima piagam sebagai Polisi Inspiratif Penggagas Razia Perut Lapar.

Lebih dari Sekadar Polisi

Zulhamsyah percaya, tugas polisi tidak berhenti pada penegakan hukum.

“Kami ada untuk melindungi dan mengayomi. Salah satunya dengan peduli pada yang paling lemah,” ujarnya.

Ia tak mengklaim sebagai pahlawan.
Ia hanya percaya bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya dampak.

“Berbuat baik tidak harus menunggu kaya. Yang penting niat dan tindakan.”

Di tengah dunia yang sering gaduh oleh kepentingan, Razia Perut Lapar hadir sebagai suara pelan yang mengingatkan: bahwa kemanusiaan masih hidup di tangan seorang polisi yang memilih menangkap lapar, bukan sekadar pelanggaran.

Dan di sudut kota Tanjungpinang, setiap nasi bungkus yang dibagikan menjadi saksi: Polri untuk Masyarakat bukan slogan, melainkan laku hidup.

Penulis: Denni Risman