MAAFKAN MAIN KITA

Avatar photo

Sajak Balasan atas “Ayo Main Kita!” Ady Indra Pawennari

Oleh: Ketua PWI Batam

Tulisan ini merupakan respons atas tulisan Ady Indra Pawennari berjudul “Ayo Main Kita!”, yang diterbitkan sebagai tanggapan atas tulisan saya sebelumnya, “Main Kita?”.

Jika “Main Kita?” saya tulis untuk menguji substansi dan cara Ady mengkritik pemberitaan Forum Pemred PWI Kepri, maka “Maafkan Main Kita” ini saya pilih sebagai jawaban dalam bentuk sajak: sedikit jenaka, sedikit satir, tetapi tetap pada pokok yang sama, ketika kita berbicara tentang etika, cara kita menggunakan kata-kata pun layak diuji oleh etika.

Maafkan saya yang tak mengenalimu.

Maafkan pula orang-orang di sekitarku
yang mungkin belum mengenal namamu
sepanjang yang engkau kehendaki.

Tetapi jangan maafkan kami
jika yang engkau cari
bukan sekadar ruang untuk menyampaikan kritik,
melainkan pengakuan
bahwa engkaulah yang paling senior,
paling lama berjalan,
paling banyak mengenal sejarah,
dan paling berhak
menentukan siapa yang boleh berbicara tentang etika.

Maafkan Main Kita?
jika saya keliru membaca tintamu.

Saya hanya sedang mengkritik
cara dikau mengkritik.

Bukan umurmu.
Bukan perjalananmu.
Bukan arsip-arsipmu.
Bukan pula nama-nama besar
yang pernah bersalaman dengan masa lalumu.

Sebab panjangnya perjalanan
tidak otomatis membuat setiap kalimat benar,
dan banyaknya tahun
tidak menjadikan kritik kebal dari kritik.

Bukankah pengetahuan seharusnya
membuat kita lebih hati-hati
ketika menilai orang lain?

Bukankah semakin lama seseorang
berjalan di dunia pers,
semestinya semakin ia mengerti
bahwa kata-kata adalah pisau
yang tak boleh dilemparkan sembarangan?

Maka maafkan saya
jika pengetahuan saya menolak
sebagian kritik dikau.

Bukan karena saya merasa lebih tahu,
melainkan karena tinta dikau dan tintaku
sama-sama harus diuji
oleh fakta, data, kode etik,
dan kejernihan akal.

Bukan oleh siapa yang lebih dahulu
mengaku senior,
bukan pula oleh siapa
yang lebih indah merangkai metafora.

Sejarah jurnalistik
bukan mahkota
yang membuat pemiliknya kebal
dari pertanyaan.

Pengalaman tiga puluh tahun
bukan surat izin
untuk menutup pintu
bagi kritik.

Maafkan saya
jika saya bertanya:

Di mana kesejukan tinta itu
ketika orang yang dikritik
disebut naif?

Di mana kelembutan nurani
ketika kritik disebut
“dosa jurnalistik”?

Di mana kejernihan wartawan
ketika perbedaan pendapat
digambarkan sebagai
“panggung sirkus”
dan “gosip murahan”?

Dan di mana etika
ketika kritik kepada pers
dibungkus dengan kata-kata
yang lebih gaduh daripada persoalan
yang hendak dibenahi?

Maafkan saya
jika saya melihat ironi.

Engkau meminta pers
tidak menghakimi,
tetapi kalimatmu terdengar
seperti palu hakim.

Engkau mengingatkan kami
agar tidak sensasional,
tetapi metaforamu datang
dengan genderang dan panggung berasap.

Engkau mengajak kami
menjaga marwah etika,
tetapi sebagian kata
yang kaupilih
justru menempatkan etika
sebagai terdakwa
di depan pembaca.

Mungkin benar,
tinta harus menjadi suluh.

Tetapi suluh tak perlu membakar rumah
agar orang percaya
bahwa ia menerangi.

Pena tak perlu menikam
untuk membuktikan
bahwa ia membela kebenaran.

Kalau benar yang hendak ditegakkan,
tegakkanlah dengan bukti.

Kalau etika yang hendak dibela,
belalah dengan bahasa beretika.

Kalau verifikasi yang dituntut,
mari kita verifikasi semuanya,
termasuk kalimat, ingatan,
dan luka yang kita bawa
ketika menulis tentang orang lain.

Sebab bisa jadi
yang kita sebut “nurani”
hanyalah amarah
yang belajar berbicara indah.

Dan “keteguhan prinsip”
mungkin cuma ego
dengan kosakata lebih puitis.

Saya tidak ingin terseret
ke dalam cerita pribadimu,
apalagi menjadikan
luka, tuduhan, atau kasusmu
sebagai bahan serangan.

Yang saya persoalkan
hanyalah tulisanmu,
cara engkau menyusun penilaian,
dan bagaimana kata-kata
dapat melampaui batas
persoalan yang dibahas.

Perkara pribadi tetaplah pribadi.

Namun tulisan yang dilempar
ke ruang publik
sah dibaca, diuji,
dan dikritik.

Jangan marah kepada cermin
karena ia memperlihatkan wajah.

Jangan salahkan Main Kita?
karena ia mengajak bermain
di papan yang sama:

fakta melawan fakta,
argumen melawan argumen,
tulisan melawan tulisan.

Bukan senior melawan junior.
Bukan masa lalu melawan masa kini.
Bukan ego melawan ego.

Saya tidak sedang bertanding
siapa yang paling lama memegang pena.

Saya hanya ingin tahu:

ketika kita menyerukan etika,
apakah etika itu tinggal
di dalam kalimat kita?

Ketika kita meminta orang lain
menjaga martabat manusia,
apakah martabat itu kita jaga
saat menulis tentangnya?

Ketika kita menuntut
orang lain membedakan
fakta dari vonis,
sudahkah kita melakukan hal yang sama?

Tidak ada wartawan
yang terlalu senior
untuk dikritik.

Tidak ada redaksi
yang terlalu besar
untuk dikoreksi.

Tidak ada tinta
yang begitu suci
hingga tak boleh
ditumpahi pertanyaan.

Maka, Tuan Ady,

maafkan Main Kita?
bukan karena saya mundur.

Maafkan karena saya memilih
menjawab tinta dengan tinta,
bukan metafora dengan amarah.

Di tengah riuhnya klaim tentang etika,
saya hanya mengingatkan:

Etika tidak hanya diuji
pada apa yang kita bela,
tetapi juga pada bagaimana
kita membelanya.

Dan saya selalu punya sesuatu
yang jarang ada
di etalase toko sebelah
untuk menjawabnya.

Jadi, maafken saye.

Bukan tak nurut
pada tutur dan saran senior
agar tak perlu menjawab.

Cuma saya pikir,
sesekali abang-abang senior
perlu dihibur
dengan sedikit balasan.

Kalau tinta sudah ditumpahkan,
masa saya hanya disuruh
menyediakan lap?

Bukankah Main Kita?
memang dibuat
untuk bermain?

Maka mari kita bermain.

Bukan dengan amarah,
bukan dengan sejarah siapa
yang lebih panjang,
bukan pula dengan gelar
siapa yang lebih senior.

Cukup dengan tinta.

Sebab kadang sebuah tulisan
tak membutuhkan bantahan panjang.

Ia hanya membutuhkan
sebuah cermin.

Dan kalau cermin itu
kebetulan saya yang pegang,

sekali lagi

maafken saye.

Engkau dengan tintamu.
Saya dengan tinta saya.

Engkau dengan faktamu.
Saya dengan fakta saya.

Lalu biarkan pembaca
menjadi hakimnya.

Bukan kita.