Ketika Etika Diuji di Pintu Pariwisata Batam: Anggota HPI Menandatangani Pakta Integritas

Avatar photo
Ket foto: Seratusan Anggota Himpunan Pariwisata Indonesia Menggelar Apel dan menandatangani Pakta Integritas.

Bataminfo.co.id, Batam- Batam sedang belajar berdiri kembali.Di pelabuhan, langkah-langkah itu terdengar lagi—ringan, asing, namun penuh harap.Di bandara, koper-koper kembali bergulir, membawa cerita dan mata uang.
Hotel mulai bernapas, restoran menyalakan dapur lebih pagi dari kemarin.

Namun di balik denyut ekonomi yang berangsur pulih itu, sebuah kegelisahan kecil justru mengetuk nurani. Bukan tentang angka kunjungan atau target promosi, melainkan tentang etika—nilai sunyi yang seharusnya menjadi kompas bagi para pramuwisata, mereka yang berdiri di pintu pertama pariwisata Batam.

Isu dugaan oknum pramuwisata merebut tamu travel agent menjelma bara.
Ia kecil, tapi panas.
Ia cepat, viral, dan menggores kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
Dari meja kedai kopi hingga ruang-ruang percakapan para pelaku wisata, cerita itu bergaung, menuntut satu hal sederhana namun berat: sikap.

Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batam memilih berhenti sejenak. Bukan untuk membela diri, melainkan untuk bercermin.
Rabu (7/1/2025), di sebuah kafe sederhana di kawasan Mega Legenda 2, Batam Centre, ratusan pramuwisata berkumpul.
Tak ada panggung megah.
Tak ada sorot lampu.
Yang hadir hanya kesadaran bahwa profesi ini hidup dari satu hal yang rapuh: kepercayaan.

Lebih dari seratus anggota datang. Sekitar 90 lainnya absen bukan karena abai, melainkan karena sedang menjalankan tugas—mendampingi wisatawan di sudut-sudut kota yang terus berharap pada keramahan.
Di ruang itu, satu per satu pramuwisata membubuhkan tanda tangan di atas pakta integritas. Tinta hitam di kertas putih—janji sederhana untuk menjaga marwah profesi, di tengah persaingan yang kian ketat dan godaan yang tak selalu terlihat.

Ketua DPC HPI Kota Batam, Lazuardi Pare, berbicara tanpa berputar. Ia paham, persaingan dalam dunia pariwisata adalah keniscayaan. Namun baginya, persaingan tak boleh menjadi alasan untuk menabrak batas.

“Ini momentum berbenah,” katanya.
“Jangan sampai ada lagi cerita anggota HPI merebut tamu agent tanpa konfirmasi. Kita ingin ini menjadi pengalaman terakhir.”
Suaranya tegas, namun ditahan oleh kesadaran bahwa luka profesi tak sembuh dengan amarah.

Nada yang lebih berat datang dari Ketua DPD HPI Kepri, Segara Arif Laksamana Sinaga. Ia tidak menyembunyikan rasa kecewa. Bahkan malu.

“Saya malu. Sangat malu,” ucapnya singkat, namun sarat beban moral.

Baginya, pramuwisata bukan pedagang tamu. Mereka adalah pendamping perjalanan, penjaga cerita, penghubung antara tamu dan kota. Ketika wisatawan mengeluh, tugas pramuwisata adalah menjadi jembatan—bukan mengambil alih.

“Bekerjalah profesional. Jaga amanah,” tegasnya.

Dewan Kehormatan HPI Kepri, Fri Dahmi Surbakti, mengingatkan dari sisi yang lebih sunyi: fungsi. Pramuwisata, katanya, terikat pada itinerary yang disusun travel agent. Tugas itu bukan sekadar daftar kunjungan, melainkan amanah yang harus dituntaskan dengan tanggung jawab dan saling menghormati.

“Masalah seharusnya diselesaikan dengan dialog. Ada ASITA, ada HPI. Jangan semuanya dibawa ke ruang publik,” ujarnya.

Terkait polemik penyerobotan tamu, pihak yang disebut dalam isu tersebut telah menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah berniat merebut tamu. Namun bagi Segara Arif, etika tidak semata soal niat. Ia berdiri di atas kesadaran untuk berkoordinasi. Relasi awal dengan tamu terbangun melalui travel agent—dalam hal ini I-Kata Travel. Seandainya komunikasi dijaga, paket diminta melalui jalur yang semestinya, bara itu mungkin tak pernah menyala.

Di balik apel dan penandatanganan pakta integritas tersebut, Lazuardi mengungkapkan bahwa kasus ini sejatinya telah diselesaikan secara internal. Langkah awal pun diambil: pencabutan liaison atau kartu lisensi HPI terhadap oknum yang bersangkutan.

Namun riak yang terlanjur menyebar menuntut sikap yang lebih terbuka dan tegas di hadapan publik.
Dari total 327 anggota HPI Batam, lebih dari separuh menyatakan komitmennya hari itu. Angka itu bukan sekadar statistik kehadiran, melainkan simbol kesiapan menjaga batas tipis antara profesionalisme dan ambisi.
Menariknya, di tengah dinamika dan ujian etika ini, HPI Batam justru memilih sikap terbuka terhadap lahirnya asosiasi pramuwisata baru di kota ini.

Alih-alih memandangnya sebagai ancaman, Lazuardi mengajak semua pihak untuk saling menguatkan.

“Pariwisata Batam terlalu berharga untuk dirusak oleh ulah oknum,” katanya.
“Mari kita jaga bersama.”

Di kota yang hidup dari senyum wisatawan, etika sesungguhnya adalah pintu pertama yang harus dibuka.

Apel hari itu bukan sekadar barisan dan tanda tangan, melainkan pengingat:
bahwa profesi pramuwisata tidak berdiri di atas keramaian,
melainkan di atas kepercayaan.