Opini
Budi Prasetyo, S.I.P
Sarjana Ilmu Pemerintahan
Bataminfo.co.id, Batam — Kepemimpinan publik tidak cukup hanya ramah di podium dan elok dalam narasi. Ia harus teruji oleh angka, keberanian mengambil risiko, serta konsistensi menegakkan aturan. Dalam konteks itulah, saya memandang kepemimpinan Kepala Kantor Bea Cukai Batam, Zaky Firmansyah, sepanjang 2025 layak dicatat sebagai contoh kepemimpinan birokrasi yang positif, membangun, dan berkarakter kuat.
Sebagai wilayah perbatasan strategis yang beririsan langsung dengan arus perdagangan internasional, Batam bukanlah “meja kerja yang aman”. Kompleksitas kepentingan bisnis, godaan ekonomi abu-abu, hingga tekanan internal birokrasi menjadikan jabatan Kepala Bea Cukai Batam sebagai posisi yang menuntut nyali sekaligus keteguhan moral. Tidak semua orang bersedia mengambil risiko itu. Zaky Firmansyah tampaknya memilih jalan yang tidak populer: tegas, lurus, dan terukur.
Secara objektif, kinerja Bea Cukai Batam sepanjang 2025 berbicara sangat lantang. Pada semester pertama saja, penerimaan negara telah mencapai Rp459,4 miliar, melampaui target dan melonjak 125,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren itu tidak melambat. September 2025 penerimaan menembus Rp624,54 miliar (138,07 persen dari target), dan hingga Oktober meningkat menjadi Rp755,87 miliar atau sekitar 167 persen dari target tahun berjalan. Hingga akhir tahun, realisasi penerimaan tercatat Rp847,6 miliar atau 142,56 persen dari target. Ini bukan sekadar capaian administratif, melainkan indikator kepemimpinan yang mampu menggerakkan organisasi secara efektif.
Namun, kepemimpinan tidak hanya diukur dari penerimaan negara. Pengawasan dan penegakan hukum justru menjadi ujian paling sensitif. Sepanjang 2025, Bea Cukai Batam mencatat lebih dari 2.100 Surat Bukti Penindakan, dengan nilai barang hasil penindakan mencapai Rp224 miliar dan potensi kerugian negara yang berhasil dicegah hampir Rp50 miliar. Dari rokok ilegal, minuman beralkohol, uang tunai lintas batas, hingga narkotika, semuanya disentuh tanpa pandang bulu.
Di sinilah keberanian itu diuji. Ketegasan penindakan tentu menimbulkan resistensi. Tidak sedikit pengusaha abu-abu yang terusik, bahkan oknum internal yang merasa zona nyamannya terganggu. Upaya “melengserkan” Kepala Bea Cukai Batam pun menjadi isu yang beredar. Bagi saya, justru di titik inilah karakter kepemimpinan terlihat jelas. Ketika seorang pimpinan mulai diserang karena ketegasannya, itu sering kali menandakan bahwa kebijakan yang diambil memang menyentuh kepentingan-kepentingan lama yang tidak sehat.
Yang juga patut diapresiasi, penguatan penegakan hukum tidak dilakukan secara serampangan. Penyidikan meningkat signifikan, mekanisme ultimum remedium dioptimalkan, dan penerimaan negara dari penyelesaian pelanggaran melonjak tajam. Penindakan narkotika bahkan diproyeksikan telah menyelamatkan lebih dari lima juta jiwa dan menghemat biaya rehabilitasi hingga triliunan rupiah. Ini adalah dampak kebijakan yang nyata, bukan sekadar klaim.
Di sisi lain, pelayanan publik tidak ditinggalkan. Inovasi layanan, digitalisasi, dan pendekatan pro-pengguna jasa tetap berjalan. Indeks Kepuasan Masyarakat yang konsisten meningkat hingga kategori “Sangat Baik” menunjukkan bahwa ketegasan tidak identik dengan arogansi. Justru sebaliknya, disiplin organisasi yang kuat sering kali berbanding lurus dengan kualitas pelayanan.
Sebagai sarjana ilmu pemerintahan, saya melihat kepemimpinan Zaky Firmansyah di Bea Cukai Batam sebagai contoh bahwa reformasi birokrasi tidak harus gaduh, tetapi harus tegas dan konsisten. Prestasi 2025 bukanlah hasil kerja satu malam, melainkan buah dari kepemimpinan yang berani mengambil risiko, membenahi dari dalam, dan menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan personal maupun kelompok.
Batam membutuhkan tipe kepemimpinan seperti ini: tidak mudah digoyang, tidak silau oleh tekanan, dan tetap berdiri di atas aturan. Jika kinerja 2025 dijadikan tolok ukur, maka Bea Cukai Batam telah menunjukkan bahwa birokrasi yang bersih, tegas, dan profesional bukanlah utopia. Ia nyata, dan sedang bekerja di hadapan kita.











