Bataminfo.co.id, Batam – Dihadiri Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Jaringan Safe Migran Peduli Perempuan dan Anak, resmi membuka rangkaian 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.
Kampanye ini merupakan bagian dari gerakan global “16 Days Of Activism Against Gender Violence” atau 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, yang pertama kali digagas oleh Women’s Global
Leadership Institute pada tahun 1991 dan di Indonesia oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001.
Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan di Aula Sekolah Yos Sudarso Batam.
Dalam kesempatan itu, Veronica yang menyebut para pejuang perempuan dan anak di Batam juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut terlibat aktif memberikan wujud kepeduliannya mengenai isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Saya menyebut teman-teman sebagai seperjuangan karena pada akhirnya kita semua selalu bertemu di titik yang sama di ujung, ketika perempuan atau anak sudah menjadi korban dan perlu ditolong,” ucap dia.
Kegiatan ini diketahui jatuh pada tanggal 25 November 2025, sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, namun pihaknya melaksanakan pembukaan rangkaiannya Jumat, 28 November 2025 lalu.
Di Kota Batam, kegiatan ini dikembangkan menjadi “24 Hari Penuh Kasih Sayang” yang dimulai pada 25 November hingga 18 Desember (Hari Migran Internasional) perpanjangan periode kampanye menjadi 24 hari yang memiliki makna khusus bagi Jaringan Safe Migran Batam.
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Jaringan Safe Migran Batam, Pdt Musa Mau secara terpisah kepada awak media pada Sabtu kemarin.
“Karena tanggal 18 Desember merupakan Hari Migran Internasional yang mengingatkan kita akan kerentanan perempuan dan anak migran terhadap berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi. Kampanye ini juga menjadi ruang refleksi dan solidaritas bagi seluruh pihak yang peduli terhadap nasib perempuan dan anak, terutama mereka yang menjadi korban dalam konteks migrasi dan perdagangan
orang,” terang Musa.
Adapun tema kampanye tersebut ialah; “Kita Punya Andil Kembalikan Ruang Aman”.
Jaringan Safe Migran, yang
terdiri dari 15 lembaga dan atau organisasi, mengamati kondisi perempuan, anak dan TPPO secara serius.
“Menurut catatan kami di tahun 2023, total 206 korban kasus kekerasan, dan 2024 ada total 209 korban kasus kekerasan, dan itu
didampingi oleh lembaga-lembaga di dalam Jaringan ini,” ucapnya.
Tujuan dari kampanye kali ini adalah untuk mendorong pemerintah agar dapat ikut serta menghadirkan ruang aman bagi perempuan dan anak, sesuai dengan Tema Kampanye Nasional tahun ini, dengan cara meningkatkan kapasitas sumber daya manusia bagi aparat penegak hukum, aparatur negara, dan masyarakat.
“Kami juga meminta pemerintah untuk mensosialisasikan dan mengimplementasi perundang-undangan terbaru kepada seluruh pihak dan masyarakat. Dalam pembukaan kampanye ini, secara terbuka mengundang seluruh elemen masyarakat demi meningkatnya kesadaran publik tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, sehingga kita dapat membangun komitmen dan kerja sama dengan banyak pihak untuk mewujudkan ruang aman bagi perempuan dan anak,” ujarnya.
Musa menyebut, pihaknya mencatat, presentasi kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Batam sendiri sudah cukup tinggi.
“Angka kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Batam itu sangat tinggi dari tahun ke tahun, berkisar antara 180-200 an kasus dengan angka korban cukup besar,” kata dia.
Dalam rangka 24 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak ini, Jaringan Safe Migran Peduli perempuan dan Anak mengadakan beberapa kegiatan diantaranya; 28 November 2025 – “Talk Show” dalam rangka Pembukaan Kampanye 24 HAKTPA, dilanjutkan pada 5 Desember 2025 yaitu peringatan Hari Relawan Internasional.
Kemudian dilanjutkan pada tanggal 13 Desember 2025, Hari HAM Sedunia lalu tanggal 18 Desember 2025, Hari Migran Internasional dan “Penutupan 24 HAKTPA” serta Pemaparan Catatan akhir Tahun.
“Kami mangajak semua pihak untuk berkolaborasi, termasuk pemerintah untuk terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar ikut bekerja sama mencegah segala bentuk tindak kejahatan terhadap perempuan dan anak. Kami juga terus melakukan kampanye-kampanye untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kita semua punya andil kembalikan ruang aman bagi perempuan dan anak,” tegasnya.











