Bataminfo.co.id, Batam – Gereja Kristen Indonesia (GKI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Persatuan Gereja – gereja Indonesia (PGI) Wilayah Kepri bergandengan menggelar Dialog Kebangsaan memperingati Hari Pahlawan yang dilangsungkan pada pukul 19.30 WIB hingga 22.50 WIB yang bertempat di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bundasudi Sukajadi, Kota Batam, Senin, (9/11/2021) malam.
Acara yang mengusung tema “Batam Merekat Keberagaman” ini menghadirkan Empat Narasumber dari Tokoh Agama, Kalangan Akademisi dan Organisasi Masyarakat (Ormas) sebagai Pemateri diantaranya; Gus Roy Murtadho dari Nahdlatul Ulama (NU), Cosmos Eko Suharyanto dari Pemuda Katolik Komda Kepri (PKKK), Rikson Tampubolon (Ketua Komisi Pemuda PGIW Kepri, Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI Kepri) dan Joni Angkadjaya dari Barisan Muda Tionghoa Indonesia (BMTI) Kepri.
Dalam Dialog tersebut, dihadiri juga oleh sejumlah Tokoh penting dari kalangan Pemerintahan maupun Masyarakat. Pada kesempatan itu, Gus Roy diberikan kesempatan untuk menjadi pemateri pertama. Dalam paparannya, Gus mengapresiasi adanya ruang Dialog tersebut. Gus mengajak para audience untuk kembali mengingat sejarah lahirnya Indonesia yang dikenal multikultural. Ia menyebutkan, semua agama sama yakni mengajarkan yang baik.
“Alhamdulillah, Saya senang bisa diundang dan hadir dalam kesempatan ini. Kehidupan itu layak kosmopolitan kalau beragam. Maka kita juga nggk bisa mengklaim mana yang paling manusia. Tidak ada agama yang ngajarin ngebom orang. Sebenarnya akar dari setiap ajaran itu sama, tidak ada perbedaan. Mari kita juga kembali mengingat sejarah dahulu dimana Tionghoa punya peran yang besar bagi Republik ini. Sumpah Pemuda pada saat itu, di Rumah Tionghoa. Inilah yang harus dicatat sebagai sejarah Republik. Sebab Bangsa kita majemuk dan multikultural,” papar Gus.
Dialog yang dimoderatori oleh Yudhi Sanjaya ini kembali memberikan kesempatan kepada Pemateri kedua, Cosmos Eko. Dalam penyampaiannya, Dirinya lebih memperkenalkan sejumlah Pahlawan atau Tokoh Gereja Katolik yang terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Eko juga menunjukkan sebuah dokumen sejarah menarik melalui slidenya yang memperlihatkan sebuah kesepakatan yang ditandatangani oleh Tokoh Islam dan Kristen. Eko juga sempat menggambarkan sejumlah kegiatan yang dijalankan pihaknya dengan menggandeng Kader – kader Islam.
“Pada kesempatan ini, saya akan lebih mengajak kita semua untuk mengenal dan mengingat kembali beberapa Tokoh Gereja yang terlibat dalam masa kemerdekaan Indonesia. Kristen merupakan agama penjajah, baik Protestan maupun Katolik. Ada Empat Pahlawan Indonesia sentuhan Van Lith diantaranya; Mgr. Soegijapranata, Yosaphat Sudarso, IJ Kasimo, dan Cornel Simanjuntak.
Dirinya menambahkan, “Kita juga melihat sejarah pada 4 Februari 2019, Abu Dhabi Paus Fransiskus bersama Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed el-Tayeb telah mendatangani “The document on Human Fraternity, for World Peace and Living Together”, salah satunya berisi tentang perlindungan tempat Ibadah,” jelasnya.
Selanjutnya, kesempatan diberikan kepada Pemateri ketiga, Joni Angkadjaya. Dirinya singkat menggambarkan Kebhinekaan yang sesungguhnya. Dalam kesempatan tersebut, Joni juga sempat menunjukkan sebuah video berisikan kegiatan partisipasi dari BMTI yang dinilai telah banyak membantu masyarakat di Kepri terutama kota Batam. Pihaknya mengatakan, BMTI siap untuk membantu Pemerintah dan masyarakat dalam berbagai tindakan nyata yang diperlukan.
“Menurut saya sebenarnya Bhineka Tunggal Ika itu ada dalam diri kita masing-masing. Bagaimana kita semua untuk mempertahankan kebhinekaan yang sesungguhnya itu. Bapak/Ibu, ini adalah beberapa tindakan atau kegiatan yang dijalankan oleh BMTI untuk mendukung Pemerintah dan masyarakat sebagai wujud kepedulian serta dukungan kita,” singkatnya.
Kesempatan terakhir diberikan kepada Rikson Tampubolon. Dirinya memberikan sebuah tema menarik pada materi yang disampaikannya, “Toleransi dan Ngopi- ngopi”. Menurutnya, sebuah diskusi atau komunikasi tak mesti dibangun dalam bentuk yang formal. Rikson menyebutkan, Generasi Muda merupakan agen perubahan bagi Bangsa. Untuk itu menurutnya, tidak perlu berlarut-larut dalam problematika yang dialami Bangsa tercinta melainkan bergerak menuju perubahan yang lebih baik.
“Sebagai sebuah Bangsa, semua masalah sudah selesai. Sebenarnya problem tentang intoleransi itu sudah selesai. Dan kita sekarang sebagai Generasi Muda Bangsa kita, bagaimana membuat atau membawa perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena Pemuda ini kan merupakan agen perubahan bagi Bangsa kita. Untuk itu, tinggalkan semua permasalahan itu dan mari kita bergerak menuju perubahan,” ucap Rikson, sosok muda yang juga berstatus sebagai Pengajar.
Sementara, salah satu Anggota DPRD kota Batam, Sahat Tambunan yang turut hadir dalam Dialog tersebut saat diberikan kesempatan, Dirinya mengatakan, “Indonesia sudah lahir dari dulu. Sehingga, sampai kapanpun harus kita jaga kebhinekaan itu,” ucap Sahat.
Acara tersebut di berakhir baik dan ditutup dengan doa serta foto bersama para Pemateri dan sejumlah Tokoh yang hadir dalam Dialog tersebut. (Non)











