Ditinggal Donatur Usai Galang Dana, Anak Panti Asuhan Viran Terancam Diusir

Avatar photo
Panti Asuhan Viran, Dok Liz

Bataminfo.co.id, Batam – Panti Asuhan Viran Sejahtera, yang terletak di Legenda Malaka, Batam Center, menghadapi ketidakpastian terkait tempat tinggal mereka setelah bermitra dengan organisasi amal asal Singapura, Rainbow Connection donatur tetap Panti Asuhan.

Kemitraan yang sudah terjalin hampir empat tahun itu mulai retak ketika penggalangan dana besar diinisiasi oleh organisasi tersebut pada awal tahun ini.

Pendiri Panti Asuhan Viran Sejahtera, Elvina, menjelaskan bahwa pada Februari 2024 lalu Rainbow Connection mendatangi panti untuk mengetahui kebutuhan mendesak panti.

“Kami jelaskan bahwa panti ini membutuhkan tempat tinggal yang permanen, karena selama ini masih menyewa,” kata Elvina pada Selasa,(29/10/24). Pihak Rainbow Connection awalnya menawarkan pinjaman untuk membeli rumah, dengan syarat panti akan mencicil pembayaran. Namun, beberapa bulan kemudian janji pinjaman tersebut dibatalkan dengan alasan masalah teknis di perbankan Singapura.

Pada April 2024, Rainbow Connection kembali mengajak bertemu pihak Viran dengan inisiatif penggalangan dana di acara bertajuk Batam Charity di Palm Spring, Nongsa, Batam. Acara tersebut melibatkan anak-anak panti dalam berbagai kegiatan seperti menari, bernyanyi, dan menjual kue.

“Kami bekerja keras selama satu bulan penuh, anak-anak berlatih dan menyiapkan diri. Namun, setelah acara selesai, kami tidak diberitahu berapa dana yang terkumpul atau kemana dananya dialokasikan,” ujar Elvina.

Melalui unggahan di media sosial, pihak panti baru mengetahui adanya dana yang cukup besar dimana Rainbow Connection menyebutkan bahwa dana tersebut akan dialokasikan untuk Panti Asuhan Viran Sejahtera. Namun, komunikasi yang tidak jelas membuat panti mempertanyakan transparansi penggalangan dana tersebut, karena sampai saat ini pihak panti tidak mendapatkan dana tersebut satu rupiah pun.

Pada 8 Juni 2024, Rainbow Connection menghubungi panti untuk membahas pembelian rumah yang mereka tempati saat ini. Mereka bahkan telah melakukan transaksi jual-beli tanpa melibatkan pihak panti, dan meminta Elvina untuk berfoto bersama sebagai tanda simbolis bahwa panti telah menerima tempat tersebut. Namun, setelah itu, tidak ada komunikasi lebih lanjut terkait status rumah tersebut.

Pada 27 Agustus 2024, pihak panti dipanggil ke notaris untuk menandatangani dokumen yang disebut sebagai “balik nama.” Namun, setelah diperiksa, Elvina menemukan bahwa dokumen tersebut bukan untuk balik nama, melainkan perjanjian pembelian atas nama yayasan lain.

“Kami kaget, dokumen yang diminta untuk kami tanda tangani ternyata atas nama yayasan lain, yaitu Yayasan Benih. Kami tidak kenal dengan yayasan tersebut,” jelasnya.

Rainbow Connection kemudian memberi waktu enam bulan bagi panti untuk melunasi rumah tersebut, dengan ketentuan tiga bulan pertama bebas dari pembayaran, dan tiga bulan selanjutnya jika tidak bisa melunasi, mereka harus keluar dari rumah tanpa membawa barang apapun.

“Kami merasa diperlakukan tidak adil. Rumah ini dibeli dengan dana penggalangan yang melibatkan anak-anak panti, seharusnya menjadi hak mereka,” kata Elvina dengan tegas.

Elvina berharap agar ada kejelasan dan solusi yang adil demi keberlanjutan Panti Viran Sejahtera dan masa depan 32 anak asuh mereka.

“Kami siap untuk mencicil rumah ini jika memang bisa diatasnamakan Panti Viran Sejahtera, atau jika mereka enggan, setidaknya kembalikan dana penggalangan untuk kami cari tempat lain,” ungkapnya.