Dipukul Temannya, Remaja 15 Tahun di Batam Tewas

Avatar photo
Joko, orang tua dari Syahrul Ramadhan Yasapratama saat berbicara dengan sejumlah wartawan di kediamannya, Selasa (25/8/2020). Foto : sah/BI

Bataminfo.co.id, Batam – Seorang remaja berusia 15 tahun, Syahrul Ramadhan Yasapratama, warga Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, meninggal dunia usai mendapatkan perawatan medis selama lima hari di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, belum lama ini.

Syahrul, merupakan korban pemukulan yang dilakukan rekannya sendiri berinisial AG (16). Keduanya memang sempat memiliki permasalahan.

Hal tersebut dikatakan Joko, orang tua dari almarhum Syahrul, saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/8/2020).

“Saya tahu nya satu hari setelah kejadian. Itupun tahunya setelah diberitahu teman anak semata wayangnya itu, pada (10/8/2020) lalu,” ujar Joko.

Dikatakan Joko, sebelum dibawa kerumah sakit, anaknya itu muntah setelah makan malam. Joko berpikir putranya itu hanya masuk angin. Sehingga dia mengoleskan minyak minyak angin dan mengerok badan anaknya.

“Setelah saya kerokin badannya sudah lumayan. Tapi tiba – tiba malam harinya kondisinya semakin parah dan saya bawa ke ruma sakit,” kata Joko.

Lanjutnya, setelah tiba di rumah sakit. Ia heran diberitahu tim medis bahwa ada benjolan di kepala bagian belakang. Dokter sempat menanyakan apakah putranya itu sempat mengalami benturan di bagian kepala.

“Pertanyaan dokter itu membuat saya bingung. Karena terakhir saya bertemu anak saya sebelum masuk rumah sakit baik-baik saja,” lanjutnya.

Menurut keterangan teman anaknya, jelas Joko, putranya itu memang ada masalah dengan AG. Namun, sebelum dipukul dia hendak menemui AG untuk meminta maaf.

“Setelah di pukuli, dia pulang kerumah tidak ada cerita apa-apa. Dan, beraktifitas seperti biasa. Balik shalat dia makan dan main game di ruang tengah,” ucapnya.

Guna mendapatkan keadlian bagi anaknya, Joko menuturkan bahwa telah melaporkan peristiwa tersebut kepada Polsek Batuampar pada, Rabu (12/8/2020).

Tidak hanya itu, pihaknya juga telah melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya tersebut kepada KPPAD Kepri.

“Kami juga sempat dimediasi agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi yang saya inginkan saat ini adalah keadilan bagi anak semata wayang saya,” terangnya. (sah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *