Buntut Pembatalan Debat, Akademisi Unrika Batam Kritisi KPU Batam

Avatar photo
Ket Foto : Akademisi dari Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam, Linayati Lestari saat diwawancarai oleh sejumlah awak media | dok.BI

Bataminfo.co.id, Batam – Pembatalan debat Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Batam oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam masih menjadi topik hangat ditengah khalayak.

Keputusan KPU Batam untuk tidak melanjutkan debat putaran kedua yang harusnya bakal mempertemukan Pasangan Calon (PASLON) nomor 01, Nuryanto dan Hardi Hood (NADI) dengan Paslon nomor urut 02 yakni, Amsakar dan Li Claudia pada Jumat, 15 November 2024 kemarin itu ternyata banyak ditanggapi oleh berbagai pihak, termasuk Akademisi.

Seperti halnya Linayati Lestari, Seorang Akademisi dari Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam justru menilai, ada faktor lain KPU akhirnya memutuskan debat putarab kedua tidak dilnjutkan.

Meski dirinya tak menyebut secara spesifik, Paslon nomor urut berapa, namun Ia menilai salah satu Paslon tak siap untuk mengikuti debat kali kedua tersebut.

“Kalau yang kemarin jadi masalah kan mengenai alat komunikasi. Harusnya itu sudah dipersiapkan. Ini lebih kepada ketidaksiapan salah satu Paslon,” ucap Lina saat ditemui awak media pada Jumat, 15 November 2024 kamerin di Ballroom Crown Vista Hotel Batam.

Menurutnya, dengan tidak dilanjutkannya debat putaran kedua ini telah cukup merugikan. Menurut dia, penyelenggara harusnya sudah lebih maksimal lagi dalam mempersiapkan alternatif untuk hal-hal teknis yang memungkinkan untuk terjadi.

“KPU sudah menyiapkan Tatib masing-masing. Kalau udah buat aturan, kan ada rujukan aturan dari pusat. Harusnya sudah berdiskusi seprti itu. Forum sudah dibuat, tapi debat tidak terlaksana juga. Ini cukup merugikan. Kalau KPU butuh waktu untuk membahas, isu ini kan udah ada dari waktu lalu. Harusnya itu udah dipersiapkan. Harus ada plan A dan B,” kata dia.

Linayati menyebut, terkait alat komunikasi yang juga menjadi dugaan faktor pemicuh tidak dipanjutkannya debat kedua, menurutnya hal itu tak menjadi persoalan yang besar. Dia berharap, hal ini menjadi evaluasi bagi pihak penyelenggara agar lebih baik lagi kedepannya.

“Secara normatif, tidak menekankan untuk membawa alat komunikasi. Kenapa itu jadi persoalan yang besar? Karena kan setiap pemimpin kan harus selalu siap dengan setiap konsekuensi yang terjadi. Saya rasa debat pertama tidak masuk dalam tatib. Tapi karena viral jadi itu dievaluasi sehingga diminta untu tidak membawa. Saya berharap kedepannya tetap positif. Ritmenya terap dijaga,” ucap Lina.

Terpisah, salah satu Tokoh Agama Katolik sekaligus Aktivis Kemanusiaan, Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus atau yang akrab disapa Romo Paschal, yang juga merupakan salah satu Panelis pada debat pertama ini meminta kepada pihak KPU Batam untuk memberikan penjelasan lebih detail agar dapat diketahui oleh masyarakat.

“Saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Barangkali KPU harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya apa yang terjadi supaya masyarakat tidak salah tafsir,” ujar Romo saat diwawancarai oleh Tim Redaksi Bataminfo.