BEM SI Kepri Soroti Keresahan Warga Pulau Poto: Dari Sengketa Lahan hingga Isu Pembangunan Kilang Minyak

Avatar photo

Bataminfo.co.id, Bintan — Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Kepulauan Riau turun langsung ke Pulau Poto, Kabupaten Bintan, untuk menyerap keluhan dan kegelisahan warga Kampung Tenggel yang belakangan terseret isu sengketa lahan serta rencana investasi besar di wilayah mereka.

Koordinator Daerah BEM SI Kepri, Randi Febriandi, mengatakan kunjungan itu dilakukan untuk mendengar langsung suara masyarakat yang merasa terhimpit oleh sejumlah persoalan yang mengemuka dalam beberapa pekan terakhir.

“Kami datang untuk menggali informasi dan memastikan warga mendapatkan pendampingan. Ada persoalan sengketa lahan yang sudah sejak lama terjadi, dan kini muncul isu baru soal investasi yang memicu keresahan,” ujar Randi, yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji, Ahad (16/11/2025).

Isu Kilang Minyak Muncul Tanpa Sosialisasi

Selain sengketa lahan dengan perusahaan yang disebut telah dibebaskan oleh PT Bintan Alumni Indonesia (BAI), warga dikejutkan oleh kabar rencana pembangunan industri penyulingan minyak di Pulau Poto. Informasi itu disebut muncul tanpa ada sosialisasi resmi dari perusahaan, padahal luas lahan yang direncanakan mencapai sekitar 2.800 hektare.

Kekhawatiran warga semakin kuat setelah salah satu tokoh masyarakat mengonfirmasi kabar itu kepada pihak lain, termasuk manajemen pengelola kawasan wisata Pulau Cempedak — yang dikenal tegas menolak investasi bertentangan dengan kelestarian lingkungan.

“Wajar warga resah. Selama ini pihak perusahaan menyampaikan rencana pembangunan pabrik baterai. Tapi tiba-tiba muncul isu pembangunan penyulingan minyak. Ini tentu membingungkan,” kata Randi.

Mayoritas masyarakat Pulau Poto yang bekerja sebagai nelayan khawatir aktivitas industri minyak dapat mencemari laut yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian mereka.

“Mereka takut laut rusak, dan yang paling dikhawatirkan tentu saja kemungkinan mereka suatu saat dipaksa meninggalkan kampung halaman,” tambahnya.

Tokoh Warga: Kami Dukung Pabrik Baterai, Bukan Kilang Minyak

Salah satu tokoh masyarakat Pulau Poto, Andi Suratno, menegaskan bahwa warga sebenarnya tidak anti-investasi. Sejak awal mereka menyambut baik rencana pembangunan pabrik baterai dan fasilitas pendukung seperti rumah sakit — rencana yang pernah disampaikan manajemen PT BAI sekitar setahun lalu.

“Kami mendukung pembangunan pabrik baterai selama tidak merusak lingkungan. Tapi soal industri penyulingan minyak, kami baru mendengar sekarang. Itu yang membuat warga cemas,” kata Andi, yang juga sehari-hari berprofesi sebagai nelayan.

Menurutnya, pabrik baterai akan memberi peluang ekonomi nyata bagi masyarakat Pulau Poto, asalkan perusahaan tetap membuka akses bagi warga untuk beraktivitas sosial, budaya, pendidikan, hingga ekonomi.

“Kami tegas menolak investasi yang merusak lingkungan atau mengancam keselamatan warga. Jangan sampai kami suatu hari digusur atas nama pembangunan,” ujarnya.

Andi menutup dengan pesan keras agar perusahaan bersikap transparan sejak awal.

“Kami minta PT BAI terbuka dan jujur tentang rencana investasi apa yang sebenarnya akan dibangun di Pulau Poto dan kawasan sekitarnya.”

(Budi)