Bazar Ramadan di Gurindam 12 Picu Protes 250 Pedagang Tepi Laut

Avatar photo

Bataminfo.co.id, Tanjungpinang – Ratusan pedagang kecil yang sebelumnya berjualan di kawasan Tepi Laut, Kota Tanjungpinang, melayangkan protes keras atas digelarnya bazar Ramadan 2026 di lokasi lama mereka. Kehadiran bazar tersebut dinilai mengancam pendapatan dan berpotensi memicu konflik baru antar pelaku UMKM.

Aksi protes sekitar 250 pedagang berlangsung di kawasan Taman Gurindam 12, Jalan Hang Tuah, Jumat (20/2/2026) malam. Para pedagang mendatangi lokasi bazar untuk menyampaikan keberatan secara langsung.

Salah satu pedagang, Frans, mengungkapkan bahwa mereka merupakan pedagang Zona C yang sebelumnya direlokasi dari kawasan strategis Tepi Laut pada 2 Oktober 2025. Relokasi dilakukan karena lahan lama disebut akan dikelola pihak swasta. Namun, menurutnya, lokasi baru tersebut tidak layak dan jauh dari keramaian.

“Kita ini pedagang Zona C. Dulu jualan di zona kecil, tapi sejak 2 Oktober sudah dipindahkan. Tempat baru itu enggak layak untuk jualan,” ujarnya.

Frans menuturkan, para pedagang sempat melakukan audiensi dengan Ansar Ahmad terkait polemik tersebut. Dalam pertemuan itu, pemerintah disebut berjanji membangun fasilitas pendukung UMKM di Zona C serta memastikan tidak ada lagi bazar di kawasan Tepi Laut setelah Oktober 2025.

“Sejak Oktober memang tidak ada bazar. Tapi sekarang tiba-tiba muncul lagi bazar dari luar. Pengelolanya juga sama seperti bazar Imlek di Jalan Merdeka kemarin,” katanya.

Menurut Frans, kawasan sekitar Taman Gurindam 12 merupakan titik strategis dengan arus pengunjung tinggi. Jika bazar tetap berlangsung, pedagang di Zona C dipastikan kehilangan pembeli.

“Kalau ada bazar di sini, otomatis tempat kami di Zona C jadi sepi. Jelas omzet kami turun,” tegasnya.

Selain menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah, pedagang juga telah melapor ke kepolisian. Namun hingga kini, belum ada keputusan final.

“Tadi bapak Kapolsek sudah hadir. Beliau bilang masih harus koordinasi dengan instansi terkait,” jelas Frans.

Para pedagang menegaskan sikap: jika bazar Ramadan tetap digelar, mereka sepakat kembali berjualan di lokasi lama. Namun jika dibatalkan, mereka bersedia bertahan di Zona C.

“Kalau bazar masih berdiri di sini, kami semua akan kembali. Tapi kalau ditiadakan, kami tetap di Zona C,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Bude Yanti, mengaku khawatir kondisi ini akan memukul ekonomi keluarga.

“Kalau di sini ada bazar, kami di Zona C tak dapat duit,” katanya singkat.

Frans juga menuntut konsistensi pemerintah terhadap komitmen yang pernah disampaikan. Ia menilai keberadaan bazar dari pihak luar di lokasi strategis merugikan pedagang kecil.

“Kami tahu bazar ini pasti ada dukungan. Tidak mungkin berdiri begitu saja. Jadi wajar kami menuntut keadilan,” ungkapnya.

Menurutnya, pedagang sebenarnya telah menyiapkan aksi dan proposal sebelum bazar berdiri. Namun, realisasi lebih cepat dari langkah mereka.

Para pedagang berharap pemerintah daerah segera mengambil keputusan tegas dan berpihak pada pelaku UMKM lokal, agar tidak terjadi persaingan tidak sehat serta keresahan sosial menjelang Ramadan.

(Budi)