Bandara RHF Tanjungpinang Masih Menunggu untuk Layani Penerbangan Internasional

Avatar photo

Bataminfo.co.id, Tanjungpinang – Sudah berstatus internasional sejak Agustus lalu, namun Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang hingga kini masih sepi dari penerbangan mancanegara. Alih-alih menjadi pintu gerbang wisatawan asing, bandara kebanggaan masyarakat Kepri itu justru masih sibuk menyiapkan perangkat pendukung yang seharusnya sudah tersedia.

Apa yang membuat bandara internasional ini belum benar-benar “internasional”

Menurut Kepala Dinas Operasi Pelayanan Bandara RHF, Rudy Sudrajat, masalah utamanya ada pada kesiapan sarana dan SDM. Salah satunya adalah perangkat untuk mendukung aplikasi All Indonesia—aplikasi wajib yang harus diisi penumpang dari luar negeri. Tanpa itu, proses kedatangan internasional tak bisa berjalan mulus.

Tak hanya itu, peralatan pendukung dari instansi CIQ (Customs, Immigration, Quarantine) juga belum lengkap. Mobil operasional, perlengkapan bea cukai, hingga perangkat tambahan lain masih menunggu distribusi dari pusat. Dengan kata lain, status internasional sudah disematkan, tetapi infrastruktur penunjangnya masih “jalan di tempat”.

“Sekarang tinggal reaktivasi, tapi memang ada perangkat tertentu yang harus dilengkapi kembali,” tegas Rudy.

Padahal, Bandara RHF bukan kali pertama berstatus internasional. Sebelumnya, bandara ini pernah melayani penerbangan charter dari Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Bahkan, penumpang asal Tiongkok pernah mendominasi hingga 77 persen dari total penerbangan. Fakta ini menunjukkan pasar mancanegara untuk Tanjungpinang sejatinya cukup besar dan potensial.

Kini, dengan status internasional yang baru, RHF seolah berada di persimpangan jalan: apakah benar-benar siap membuka jalur dunia, atau sekadar menunggu hingga fasilitas menyusul belakangan

Bagi Tanjungpinang dan Kepulauan Riau, pembukaan kembali rute internasional bukan sekadar soal penerbangan, tetapi juga tentang konektivitas kawasan perbatasan, kebangkitan pariwisata, dan denyut ekonomi lokal.

Masyarakat pun berharap, “lampu hijau” yang ditunggu-tunggu itu segera menyala, agar bandara ini tidak hanya internasional di atas kertas, melainkan benar-benar menjadi gerbang dunia.

(Budi)