Batam  

Api Kecil yang Mengubah Arah: Menyalakan Kata di Pulau Penawar Rindu

Avatar photo
Kepala Sekolah SMPN 1 Batam, Sri Rahayu, di tengah siswa yang literat dan tenaga pendidik

Batam – Dunia pernah meletakkan sebuah cermin di hadapan kita. Dari pantulannya, tampak wajah literasi remaja Indonesia berada jauh di barisan belakang—seratus dari dua ratus negara. Angka itu bukan sekadar statistik yang dingin, melainkan tanda tanya besar yang lama menggantung di ruang-ruang kelas, menunggu keberanian untuk menjawabnya. Dari kegelisahan itulah langkah PWI Batam bermula: mengetuk pintu-pintu sekolah menengah pertama melalui kegiatan Pelatihan Literasi dan Jurnalistik, mencari cahaya, menyalakan api kecil bernama literasi.

Dalam setiap perjalanan itu, sekantong harapan selalu ikut dibawa. Harapan yang tak pernah ditinggalkan di ambang pintu sekolah, melainkan dipeluk pulang, lalu disemai kembali pada hari-hari berikutnya. Sebagai organisasi profesi kewartawanan, kami menyadari sepenuhnya bahwa rendahnya literasi bukan semata perkara murid dan guru. Ia juga menjadi tanggung jawab kami—para pengabdi kata, yang hidup dari membaca, menulis, dan kesetiaan pada kebenaran serta fakta.

Maka pintu-pintu sekolah di penjuru kota, bahkan hingga ke ujung pulau, tak luput kami ketuk. Melalui pelatihan literasi dan jurnalistik, kami mencari pemantik—percik kecil yang mampu menghangatkan dinginnya angka, menggeser posisi yang terlalu lama tertahan di barisan paling belakang, lalu mengobarkan kembali semangat membaca dan keberanian berpikir.

Ketika sebuah pintu akhirnya terbuka, sekolah itu bercat biru. Warna yang dipilih dengan kesadaran oleh Sri Rahayu, seorang pendidik bergelar sarjana, pemimpin yang tak berdiri di atas menara, melainkan berjalan di tengah. Ia memimpin dengan kebersamaan, menjadi lilin yang rela membakar dirinya sendiri agar ruang di sekitarnya tak tenggelam dalam gelap.

“Kenapa dinding sekolah kami biru?”

“Karena Biru adalah judul cerpen pertama saya.”

Sri Rahayu, Kepala SMP Negeri 1 Batam, menenun keteladanannya bukan lewat sorotan, melainkan dari huruf-huruf sunyi yang dirangkai para pendidik di sekitarnya. Dalam kebersamaan, ia dan para penabur hikmah di SMPN 1 laksana mawar dan vas cantik—saling menopang, saling melindungi, dan saling memberi makna. Mereka tahu bagaimana menjadi pelita bagi sahabat seperjalanan di setapak panjang dunia pendidikan.

Di ruang laboratorium, bangku dan meja disusun membentuk huruf U—sebuah formasi yang memeluk narasumber di tengahnya. Di ruangan inilah Pelatihan Literasi dan Jurnalistik PWI Batam berlangsung. Tiga puluh enam siswa kelas tujuh dan delapan duduk dengan mata yang enggan berpaling. Tak satu kata pun ingin mereka lewatkan, seolah pagi itu bukan sekadar pelatihan, melainkan perjumpaan pertama dengan kemungkinan masa depan yang lebih terang.

Wajah-wajah polos dengan rasa ingin tahu sebesar gunung, dan pengetahuan yang tumbuh seiring usia, menjadi penawar atas getirnya pantulan literasi remaja negeri ini di cermin dunia.

Mereka adalah para pelajar yang literat. Cahya, siswi kelas delapan, dengan keyakinan yang tenang menyatakan dirinya bagian dari dunia baca. Bacaan terakhirnya adalah Bumi karya Tere Liye, novel fantasi tentang tiga sahabat yang dapat menghilang dari pandangan. Marsya menyebut judul dan penulis buku yang baru ia rampungkan, sementara Chico Jericho memilih menimba kekuatan dari buku-buku motivasi.

Mereka adalah literat yang kelak menularkan api. Api yang akan membuat pantulan literasi anak Indonesia di cermin dunia perlahan bergerak naik, meninggalkan barisan paling belakang. Mereka adalah wajah para penjaga nalar dan budi, lahir dari sekolah di wilayah hinterland yang kerap dianggap selangkah tertinggal dari gemerlap sekolah mainland.

Mereka—para siswa dan siswi literat itu—adalah sebaris madah tentang lembutnya hati, tebalnya sabar, dan manisnya tutur para penuntun langkah. Para guru berpenampilan sederhana yang sepatutnya menerima sekalung budi dan jutaan kata terima kasih, sebab merekalah yang terus diuji oleh waktu yang tak pernah mau menunggu. Seperti bahtera kecil yang tetap berlayar, meski angin utara kerap jahil mencubit ombak, menggoyangkan langkah di setiap datang dan pulang.

Kini, PWI Batam menatap dengan keyakinan: dari bangku-bangku di ruang kelas sekolah yang berdiri sejak 1956 ini, melalui Pelatihan Literasi dan Jurnalistik, akan berkobar api yang membakar semangat literasi anak negeri. Api itu telah menyala—dari tengah Pulau Penawar Rindu, dari SMP Negeri 1 Batam.

Dan di momentum Hari Pers Nasional 2026, api itu menjadi isyarat bahwa pers dan pendidikan sedang berjalan beriringan. Menjaga nalar, merawat kata, dan menyiapkan generasi yang kelak tumbuh sebagai pemimpin serta cendekia bangsa.

Salam dan Apresiasi Ketua PWI Batam

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, menyampaikan salam hormat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Sri Rahayu, Kepala SMP Negeri 1 Batam, beserta seluruh guru dan tenaga pendidik.

Khafi menilai, kepemimpinan yang dijalankan dengan kebersamaan, kesederhanaan, dan keteladanan telah menjadikan sekolah bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang tumbuh bagi nalar, budi, dan karakter.

Menurutnya, para guru di SMPN 1 Batam adalah pelita-pelita yang tak lelah menjaga nyala cahaya ilmu, meski sering berjalan dalam sunyi dan tanpa sorotan. Di tangan merekalah, api literasi bukan hanya dinyalakan, tetapi dirawat agar terus hidup dan menular kepada generasi berikutnya.