Pasokan MinyaKita Tersendat, KDMP Bintan Siap Jadi Distributor Utama

Avatar photo

Bataminfo.co.id, Bintan – Keluhan terkait terbatasnya pasokan Minyak Goreng Rakyat (MinyaKita) di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, terus bermunculan. Tingginya kebutuhan masyarakat tidak sebanding dengan ketersediaan stok, sehingga distribusi hingga ke tingkat pengecer dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikut terganggu.

Kondisi ini turut dirasakan sejumlah Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Bintan. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pasokan MinyaKita dari Perum Bulog, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pemenuhan kebutuhan minyak goreng subsidi di daerah tersebut.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Bintan, Asy Syukri, mengatakan persoalan pasokan dan harga MinyaKita menjadi salah satu keluhan yang banyak disampaikan masyarakat maupun pengelola koperasi.

“Persoalan stok maupun harga MinyaKita di Bintan memang cukup memprihatinkan. Banyak masyarakat yang mengeluhkan hal ini kepada kami,” ujar Asy Syukri kepada wartawan, Rabu (22/7/2026).

Ia mencontohkan kondisi di Desa Malang Rapat. Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, kebutuhan MinyaKita di desa tersebut mencapai sekitar 400 liter per bulan. Minyak tersebut biasanya disalurkan kepada pengecer dan turut mendukung program sosial seperti Jumat Berkah.

Namun, dalam dua bulan terakhir, pasokan tersebut tidak lagi berjalan maksimal.

“Desa Malang Rapat secara kebutuhan setiap bulan sedikitnya 400 liter dengan harga jual Rp14.500 per liter. Pasokan ini juga biasa digunakan untuk program Jumat Berkah yang dicanangkan aparatur desa. Namun, selama dua bulan terakhir penyalurannya tidak berjalan baik,” jelasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah KDMP lainnya, termasuk di Desa Busung, Pengudang, Kuala Sempang hingga Kijang Kota.

Di Desa Busung, misalnya, koperasi terpaksa mengambil pasokan MinyaKita dari distributor umum. Langkah tersebut dilakukan demi menjaga keberlangsungan usaha sejumlah pelaku UMKM, meskipun margin keuntungan yang diperoleh sangat terbatas.

Sementara itu, KDMP Kuala Sempang juga mengaku kesulitan mendapatkan dan menyalurkan MinyaKita kepada masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, muncul gagasan agar KDMP di Bintan tidak hanya berperan sebagai penyalur, tetapi juga menjadi distributor minyak goreng bersubsidi.

Ketua KDMP Kuala Sempang, Shalahuddin Syah, bahkan menyatakan kesiapannya apabila koperasi yang dikelolanya dipercaya untuk menjadi Distributor-I (D1) MinyaKita.

“KDMP dan Kepala Desa Kuala Sempang siap jika dipercaya pemerintah untuk mengelola penyaluran D1,” tegasnya.

Asy Syukri menyambut positif gagasan tersebut. Menurutnya, hingga kini Kabupaten Bintan belum memiliki distributor D1 MinyaKita yang dapat menjadi penyangga utama distribusi di daerah.

“Di Kabupaten Bintan belum ada distributor D1 MinyaKita. Karena itu, kita cukup kesulitan memenuhi kebutuhan masyarakat dan masih sangat bergantung pada pasokan Bulog,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan distributor D1 di Bintan akan mempermudah pengawasan sekaligus memperpendek rantai distribusi. Dengan demikian, pasokan MinyaKita diharapkan dapat lebih cepat sampai ke koperasi, pengecer, pelaku UMKM hingga masyarakat.

“Kami yakin dengan adanya D1 mandiri di Bintan, pengawasan peredaran akan jauh lebih mudah dan kebutuhan koperasi bisa terpenuhi,” katanya.

DKUPP Bintan juga menegaskan, peluang menjadi distributor tidak hanya terbuka bagi KDMP Kuala Sempang. Seluruh KDMP lainnya di Kabupaten Bintan juga memiliki kesempatan yang sama sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

“Ketika KDMP Kuala Sempang mampu mengelola lisensi D1, diharapkan dapat menjadi penyangga utama bagi Kopdes Merah Putih lainnya. Dengan begitu, kekhawatiran minimnya stok minyak tidak berdampak lebih luas kepada masyarakat,” jelas Asy Syukri.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Bintan siap memfasilitasi proses pengurusan persyaratan maupun perizinan yang diperlukan.

“Pemkab Bintan sangat menyambut baik niat untuk memegang lisensi D1 dan siap memfasilitasi,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Cabang Tanjungpinang, Arief Alhadihaq, mengakui adanya kendala dalam pemenuhan stok MinyaKita dalam dua bulan terakhir.

Menurutnya, sejumlah koperasi selama ini memang mendapatkan pasokan dari Bulog. Namun, keterbatasan stok membuat pihaknya harus menerapkan skala prioritas dalam penyaluran.

“Memang selama ini beberapa Kopdes disuplai oleh Bulog. Namun, dalam dua bulan ini kebutuhan stok minyak goreng kita tidak maksimal, sehingga kami lebih memilih menggunakan skala prioritas,” jelas Arief.

Ia berharap ketersediaan stok MinyaKita kembali normal sehingga kebutuhan koperasi dapat dipenuhi sesuai permintaan.

“Ke depan kami berharap stok kembali normal dan bertambah, sehingga kebutuhan Koperasi Merah Putih dapat kami suplai sesuai dengan kebutuhannya,” pungkasnya.

(Budi)