Ngobrol Santai Bareng PELNI: Arus Mudik 2026 Stabil, Diskon Tiket Masih Tersisa

Avatar photo
Ket Foto: Di Tengah yang menggunakan baju batik lengan panjang yaitu Pimpinan Cabang Pelni Tanjungpinang, saat di wawancara media ini, Dok (Bi)

Bataminfo.co.id, Tanjungpinang – Suasana santai terasa dalam perbincangan antara awak media dengan Kepala Cabang PELNI Tanjungpinang, Putra Kencana, di MID VALLEY Coffee and Eatery, Jalan Ahmad Yani, Batu 6, Kamis (2/4/2026). Meski dikemas ringan, obrolan ini mengupas serius soal arus mudik Lebaran 2026, kapasitas kapal, hingga program stimulus tiket dari pemerintah.

Putra Kencana menjelaskan, arus mudik tahun ini di wilayah Kijang dan Tanjungpinang berlangsung dalam rentang H-7 hingga H+7 Lebaran, dengan armada andalan KM Tidar dan KM Bukit Raya.

“Untuk keberangkatan sebelum hari raya, puncaknya ada di tanggal 14 dan 18. Semua penumpang terangkut maksimal sesuai kapasitas dispensasi,” ujarnya.

Ia merinci, KM Bukit Raya pada 14 April mengangkut sekitar 1.450 penumpang, sementara KM Tidar pada 18 April mencapai 2.654 penumpang. Tingginya angka tersebut menunjukkan minat masyarakat tetap stabil meski jadwal keberangkatan terbatas.

Jika dibandingkan dengan tahun 2025, Putra menyebut tidak ada perbedaan signifikan dari sisi jumlah penumpang. Namun, terdapat perbedaan pada frekuensi pelayaran.

“Tahun 2025 kita sempat dapat dua kali keberangkatan sebelum hari H. Tahun ini hanya satu kali, jadi itu yang membedakan,” jelasnya.

Diskon Tiket 30 Persen, Kuota Hampir Habis

Menariknya, meski tidak ada program tiket gratis, pemerintah tetap memberikan stimulus berupa diskon 30 persen dari tarif dasar.

“Kuotanya sekitar 54 ribu lebih, berlaku nasional tanpa pembagian per pelabuhan,” kata Putra.

Program ini berlaku untuk keberangkatan kapal mulai 11 Maret hingga 5 April 2026. Namun, hingga akhir Maret, kuota tersisa hanya sekitar 7,5 persen.

“Kami harap masyarakat bisa segera memanfaatkan sebelum masa berlakunya habis,” tambahnya.

Rute Luas, Jangkau Indonesia Timur
Untuk rute, kapal PELNI dari Kijang menjangkau berbagai wilayah strategis di Indonesia. KM Tidar melayani rute panjang mulai dari Kijang menuju Tanjung Priok, Surabaya, Makassar, Baubau, hingga Kupang.
Sementara KM Bukit Raya melayani rute Kijang ke wilayah Natuna dan sekitarnya, seperti Letung, Tarempa, Midai, Serasan, hingga Pontianak dan Surabaya.

“Dalam satu bulan, rata-rata ada dua kali pelayaran untuk masing-masing arah,” jelasnya.

Angkut Penumpang Sekaligus Barang
Selain penumpang, kapal PELNI juga tetap melayani pengangkutan barang, terutama kebutuhan pokok.

“Setiap kapal penumpang memiliki ruang palkah yang bisa digunakan untuk mengangkut barang, khususnya sembako,” terang Putra.

Untuk wilayah pulau-pulau seperti Natuna dan Anambas, pengangkutan juga dibantu kapal perintis seperti Sabuk Nusantara 48, yang tidak hanya membawa penumpang tetapi juga logistik, bahkan material pembangunan dalam jumlah terbatas.

Wajib Sertifikat Karantina

Terkait pengangkutan hewan dan hasil pertanian, Putra menegaskan aturan tetap ketat. Semua komoditas wajib dilengkapi sertifikat dari karantina.

“Ini wajib. Tanpa dokumen karantina, tidak bisa diangkut,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa petugas selalu siaga di setiap keberangkatan kapal untuk memastikan kelancaran dan kepatuhan terhadap aturan.

Dengan kapasitas yang terisi maksimal, rute yang luas, serta stimulus tarif dari pemerintah, arus mudik melalui jalur laut di Tanjungpinang tahun ini terbilang stabil. Namun, keterbatasan jadwal menjadi catatan penting, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi laut sebagai urat nadi mobilitas antar pulau.

(Budi)