Batam  

Menembus Sunyi Sibio Bio: Relawan Fajar Dermawan Laia Membawa Harapan ke Desa Terisolir Sumatra

Avatar photo
Ket foto :DR Filpan Fajar Dermawan Laia

Bataminfo.co.id ,Batam  – Di banyak tempat, hujan telah reda dan lumpur mulai mengering. Namun di Desa Sibio Bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, bencana belum sepenuhnya pergi. Ia masih tinggal dalam sunyi yang panjang: pada rumah-rumah yang roboh, pada dapur-dapur tanpa asap, dan pada langkah warga yang terhenti oleh akses jalan yang putus.

Tanah longsor dan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra meninggalkan luka yang tak merata. Ada daerah yang cepat disentuh bantuan, ada pula yang tertinggal di balik rusaknya jalan dan jembatan. Sibio Bio adalah salah satunya—desa kecil yang kini terisolir, menunggu uluran tangan di tengah keterbatasan.

Panggilan itulah yang sampai ke Batam. Dari kota industri di perbatasan, DR Filpan Fajar Dermawan Laia memilih untuk tidak hanya mendengar kabar duka itu sebagai berita. Bersama Relawan Fajar Dermawan Laia Untuk Sumatra, ia bersiap melangkah langsung ke sumber luka.

“Kondisi di Desa Sibio Bio masih sangat memprihatinkan. Bantuan yang masuk ke sana sangat minim karena aksesnya rusak parah dan wilayahnya terisolir,” ujar Filpan, Selasa (7/1/2026), saat ditemui di kawasan Batam Center.

Filpan, yang juga Ketua Umum Himpunan Marga Laia Indonesia (HIMLI), menyebutkan bahwa berdasarkan data tim relawan, sebanyak 272 kepala keluarga terdampak bencana. Puluhan keluarga kehilangan tempat tinggal, sementara puluhan rumah lainnya rusak berat dan tak lagi layak huni.

Di balik angka-angka itu, ada cerita tentang hari-hari yang dijalani dengan serba terbatas. Warga bertahan dengan bahan makanan seadanya, pakaian yang tak sempat diganti, serta tempat berteduh yang jauh dari kata aman. Bantuan memang ada, tetapi jarak dan kondisi alam menjadi penghalang yang kejam.

Perjalanan menuju Sibio Bio bukan sekadar soal jarak, melainkan soal ketahanan fisik dan tekad. Jalan menuju desa itu harus melewati sungai. Jembatan yang biasa digunakan warga telah hancur diterjang arus. Dari ujung muara, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 1,5 hingga 2 jam, menembus jalur yang tak lagi ramah bagi langkah manusia.

“Ini bukan perjalanan singkat, tapi kami siap. Karena yang kami bawa bukan hanya bantuan, melainkan harapan,” kata Filpan.

Ia pun mengajak masyarakat Batam dan semua pihak untuk turut mengambil bagian dalam misi kemanusiaan ini. Dukungan dapat berupa bantuan logistik, doa, maupun keterlibatan langsung. Filpan menegaskan bahwa setiap bantuan akan disalurkan secara terbuka, bertanggung jawab, dan tepat sasaran.

“Kami mengharapkan dukungan dari semua pihak. Bagi masyarakat yang ingin membantu, bisa menghubungi tim kami. Kami siap menyalurkan bantuan secara maksimal dan transparan,” ujarnya.

Di tengah berita bencana yang silih berganti, kisah tentang Sibio Bio mengingatkan bahwa solidaritas tak selalu hadir dalam kemewahan. Kadang ia datang dalam bentuk langkah kaki yang panjang, menyusuri jalan rusak, demi memastikan bahwa di desa yang terisolir itu, harapan tidak ikut hanyut bersama banjir. (Jkf)