Bataminfo.co.id,Belakang Padang – Lagu Melayu berjudul Lagu Zaman mengalun pelan di pelantar Kampung Bugis, Kecamatan Belakang Padang, Minggu siang itu, 21 Desember 2025. Suara Ramli Sarip dari negeri jiran seolah menemukan tempatnya sendiri di sini, diantara papan-papan kayu yang telah lama akrab dengan air asin dan langkah kaki warga.
“Maafkanlah hamba andai ada terkurang adatnya…”
Lirik itu meluncur bersahaja, menyatu dengan desir ombak kecil yang naik pelan saat air pasang. Kampung Bugis bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah pertemuan watak: Bugis, Melayu, dan Jawa, hidup berdampingan tanpa pagar tinggi selain adab dan saling pengertian. Seperti bait lagu itu, warga di sini belajar hidup dengan kerendahan hati, memahami hasrat orang lain, dan merawat adat sebagai pegangan bersama.
Pelantar kayu menjadi saksi kehidupan yang terus bergerak. Di kiri dan kanan, belasan anak remaja larut dalam riang. Air laut di bawah rumah panggung menjelma kolam renang privat. Tempat tawa bergema tanpa karcis masuk.
“Kalau sudah waktu air pasang macam gini, engko orang tak nak berhenti mandi laot,” omel Wak Anto, separuh marah separuh pasrah, kepada dua anak gadisnya. Suaranya tenggelam oleh cipratan air dan gelak tawa yang tak pernah benar-benar takut pada nasihat orang tua.
Beberapa meter dari keriuhan itu, suasana berubah lebih sunyi. Bapak-bapak Kampung Bugis dengan kulit legam terbakar matahari menjemur rengkam di pelantar. Bau laut dan panas matahari bercampur menjadi aroma khas kehidupan pesisir. Rengkam, udang kecil yang dijemur, kini menjadi penawar rindu sekaligus penyangga dapur. Dari laut yang sama, mereka menggantungkan harapan, hari demi hari.
Hubungan nelayan dengan pengepul di kampung ini lebih dari sekadar jual beli. Ada kepercayaan yang terbangun lama. Ada tangan yang saling menopang saat musim tak ramah.
“Kalau pas tidak ada uang, kami bisa hutang dulu untuk beli beras dan lauk,” kata Subri, diamini Ali Akbar. “Nanti kami bayar pakai rengkam lah. Tinggal pergi laut, jemur, habis itu mereka datang jemput.”
Di kampung ini, utang bukan angka yang menekan dada, melainkan janji yang dijaga dengan kerja dan kejujuran.
Tak jauh dari para nelayan, ibu-ibu Kampung Bugis tekun menjemur kerupuk ikan tamban. Kerupuk itu akan dijual sepuluh ribu rupiah per kantong. Angka kecil yang berarti besar bagi dapur rumah. Dari tangan-tangan merekalah, ekonomi rumah tangga disulam perlahan, setipis kerupuk namun kuat menahan hari.
Ketika air pasang merayap naik dan lagu Lagu Zaman masih menggantung di udara, Kampung Bugis memperlihatkan wajah aslinya: kehidupan yang sederhana, saling bersandar, dan tetap teguh memelihara rasa, bahwa menjadi orang timur adalah tentang adat yang hidup, kebersamaan yang dijaga, dan laut yang selalu memberi, selama manusia tak lupa cara menghormatinya.(Jonkavi)











