Sayap Negara di Usia Kota: 196 Tahun Batam dan Bahasa Militer yang Bernama Empati

Avatar photo
ket foto: Zelly-JKV(BI)

Bataminfo.co.id, Batam- Langit di atas Dataran Engku Putri, Batam, Jumat 18 Desember 2025, tidak sedang memamerkan kekuatan. Ia sedang berbicara. Dua jet tempur F-16 TNI Angkatan Udara dari Lanud Hang Nadim bermanuver rapi, menembakkan flare di udara. Sebuah pertunjukan militer yang terukur, disiplin, dan penuh makna. Di hari milad Batam ke-196, bahasa yang dipilih bukan dentum agresi, melainkan simbol kesiapsiagaan negara yang berpadu dengan rasa kemanusiaan.

Dalam doktrin pertahanan udara, kehadiran F-16 di ruang publik bukan sekadar atraksi. Ia adalah penegasan: bahwa kota ini yang tumbuh dari pelabuhan, perdagangan, dan perlintasan internasional, berdiri di bawah payung kedaulatan yang nyata. Batam, pada usia 196 tahun, bukan lagi sekadar wilayah ekonomi, tetapi simpul strategis pertahanan negara di gerbang utara Indonesia. Dan langitnya dijaga.

Namun hari itu, Falcon penjaga langit tak hanya menjalankan fungsi simbolik kekuatan militer. Manuver mereka serupa kalimat yang disusun dengan sadar: bahwa kekuatan udara modern tak berdiri terpisah dari denyut sosial masyarakat yang dilindunginya. Burung besi bersayap api itu memang diciptakan untuk menguasai udara, tetapi pada hari ulang tahun kota ini, sayapnya dikepakkan untuk menegaskan peran lain, yaitu melindungi bumi tempat rakyat berpijak, merawat rasa aman, dan memeluk luka anak negeri di Sumatera yang sedang diuji.

foto: Zelly

Di balik kokpit berteknologi tinggi dan seragam yang berwibawa, prajurit dan perwira TNI AU bekerja dengan kepekaan yang jarang disorot. Radar Falcon yang berdenyut dalam senyap menjadi metafora paling jujur: ia menangkap lebih dari sekadar jejak sasaran. Ia membaca kegelisahan. Ia merasakan doa-doa kecil yang naik dari puing-puing sekolah, dari rumah-rumah yang runtuh, dari keluarga yang kehilangan nama-nama tercinta tanpa sempat berpamitan. Di bawah lintasan jet tempur itu, tangis Sumatera mengalir lirih, namun nyata.

Momentum ini menjadi penting karena dipertautkan dengan usia Batam yang ke-196. Sebuah usia yang menandai perjalanan panjang kota ini: dari wilayah Melayu dengan legenda kepahlawanan, menjadi kota industri dan pelabuhan internasional. Di titik inilah relasi sipil–militer menemukan konteksnya. Kehadiran TNI AU Hang Nadim bukan sekadar menjaga wilayah udara, tetapi menjadi bagian dari narasi kota yang menjaga stabilitas agar Batam bisa tumbuh, bekerja, dan peduli pada sesamanya.

Di Jumat pagi yang penuh berkah itu, pemimpin Kota Batam, Amsakar Ahmad, bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra, para zuriat Nong Isa, dan Komandan Lanud Hang Nadim Batam Letkol Pnb Hendro Sukamdani, M.Tr. Opsla, berdiri di antara ribuan warga. Dari Dataran Engku Putri, mereka menerbangkan jutaan harapan. Bukan dengan mesin tempur, melainkan dengan solidaritas. Donasi masyarakat Batam mengalir, membuka gerbang kemanusiaan bagi pemulihan Sumatera. Inilah wajah lain pertahanan: kekuatan sosial yang dilindungi oleh negara.

Jika ditarik ke belakang, relasi ini telah lama dirawat. Di bawah kepemimpinan Letkol Pnb Hendro, Lanud Hang Nadim tak hanya berbicara tentang kesiapan operasi, tetapi juga tentang identitas. Dengan referensi terbatas tentang wajah Hang Nadim, seorang seniman didatangkan dari Pulau Jawa untuk membangun patung Ksatria Hang Nadim. Bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai penegasan bahwa pertahanan dan sejarah berjalan beriringan.

Peresmian patung itu oleh Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara I, Marsda TNI Muzafar, S.Sos., M.M., memperkuat pesan strategis: Lanud Hang Nadim adalah titik temu antara kekuatan militer, ingatan sejarah, dan kearifan lokal Melayu Batam. Sayap TNI AU Hang Nadim pun terbaca semakin jelas. Simbol kecerdasan, kepahlawanan, dan identitas yang bukan hanya menjaga langit, tetapi juga menopang keberlanjutan kota dan kekuatan ekonominya.

Jumat siang di Dataran Engku Putri akhirnya ditutup tanpa deru mesin. Yang tersisa adalah tangan-tangan yang saling menguatkan, doa-doa yang mengudara, dan kesadaran kolektif bahwa di usia 196 tahun, Batam tidak hanya merayakan umur. Ia merayakan keberpihakan: pada kemanusiaan, pada sejarah, dan pada langit yang dijaga agar rakyat tetap bisa bermimpi dengan tenang.

Doa untuk Sayap Tanah Air

Wahai semesta,
mataku baru saja belajar melihat.

Selama ini telingaku mendengar,
namun pagi ini penglihatanku dibukakan:
tanah airku bersayap.

Benar adanya, semesta
dengan mata yang terjaga oleh cahaya subuh, aku menyaksikan sayap itu
menjaga negeri ini.

Ia membentang di atas langitku,
kepaknya menepis badai,
menahan pasang saat serangan datang,
menjadi benteng bagi doa-doa yang gemetar.

Sayap itu hangat,
mendekap jiwa-jiwa yang menggigil,
membasuh luka anak negeri
di tanah Sumatera yang perih.

Semesta, aku bersujud padamu.
Kuatkan sayapnya,
lembutkan jiwanya,
hangatkan dekapannya.

Beri ia tenaga di langit,
dan hati paling bening
di antara anak negeri.

Jadikan sayapnya
penopang Sumatera
yang luluh lantak oleh kehendak-Mu.

(Zelly Nonidy Scor)