Bataminfo.co.id,Batam – Gemerlap dunia malam Batam seketika berubah menjadi mimpi buruk berdarah bagi W-D.
Di balik pintu kamar 342 Hotel Penguin, Lubuk Baja, kisah asmara yang seharusnya manis berakhir menjadi tragedi memilukan.
Sosok yang seharusnya melindungi—seorang pengusaha importir bergelimang harta berinisial AKN—justru berubah menjadi “monster” yang tega menganiaya wanita tak berdaya hanya karena persoalan uang belanja.
Peristiwa kelam ini terjadi pada Senin dini hari (24/11/2025), saat jarum jam baru saja melewati pukul 01.00 WIB.
Namun, jeritan kesakitan dan trauma mendalam membuat kasus ini baru terkuak ke publik dua pekan kemudian.
Dari Canda Tawa Berujung Petaka
Malam itu ,W-D dan AKN baru saja kembali dari tempat karaoke. Sisa-sisa tawa dari hiburan malam seketika lenyap begitu mereka menginjakkan kaki di kamar hotel. Suasana berubah mencekam saat W-D memberanikan diri menagih janji: sisa uang belanja bulanan yang menjadi haknya.
Bukannya memberikan nafkah, sang pengusaha justru tersulut emosi. Dengan kasar, AKN mengusir W-D dan mengunci pintu kamar dari dalam, membiarkan wanitanya terlantar di lorong hotel yang dingin.
Bogem Mentah dan Benturan Keras
Tak terima diperlakukan bak sampah, W-D menggedor pintu, memohon keadilan. Pintu memang terbuka, namun bukan pelukan yang didapat. Tanpa aba-aba, AKN melayangkan pukulan brutal tepat ke arah wajah W-D.
”Hantaman itu telak mengenai pelipis kiri. Tubuh korban terhempas hebat, kepalanya beradu keras dengan dinding beton sebelum akhirnya ambruk tak berdaya ke lantai,” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan detik-detik mengerikan tersebut.
Yang lebih menyayat hati, usai dianiaya hingga babak belur, W-D tak memiliki tempat untuk lari. Dengan menahan perih dan sakit yang luar biasa, ia terpaksa kembali masuk ke dalam “kandang singa”, beristirahat di ruangan yang sama dengan pria yang baru saja menghajarnya, karena tak punya tempat tinggal lain.
Dua Pekan Menahan Nyeri, Akhirnya Lapor Polisi
Dua minggu berlalu dalam diam, namun rasa sakit di kepala W-D tak kunjung reda. Pusing yang terus menghantam dan nyeri hebat di pelipis menjadi saksi bisu kekejaman malam itu. Tak kuat lagi menahan derita, pada Selasa (9/12/2025), W-S akhirnya menyeret langkahnya ke RS Santa Elisabeth untuk visum.
Dengan bukti visum di tangan, ia melaporkan AKN ke Polsek Lubuk Baja, menuntut keadilan atas darah dan air mata yang tumpah.
Kanit Reskrim Polsek Lubuk Baja, Iptu Noval, dengan tegas membenarkan laporan tersebut. “Ya, benar. Saat ini proses penyidikan sedang berjalan,” ujarnya singkat, Rabu (10/12/2025), seolah memberi sinyal bahwa hukum tidak akan pandang bulu, bahkan pada seorang pengusaha sekalipun.
Kini, AKN harus bersiap menghadapi konsekuensi hukum atas arogansinya. Sebuah pelajaran mahal bahwa harta tak memberikan hak untuk menyakiti sesama.











