Bataminfo.co.id, Tanjungpinang — Kelangkaan bahan pokok di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang semakin terasa dalam sepekan terakhir. Warga mengeluhkan banyaknya komoditas yang hilang dari rak-rak warung dan toko, mulai dari cabai, bawang, beras, hingga ayam frozen. Lonjakan harga pun tidak terelakkan.
Namun di balik kekosongan stok tersebut, warga menilai salah satu penyebab terbesar adalah razia ketat yang dilakukan Bea Cukai Batam terhadap barang kiriman menuju Pulau Bintan. Razia yang berlangsung intensif dalam beberapa hari terakhir disebut membuat distributor tidak berani mengirim barang, sehingga pasokan tersendat.
Yuni: “Razia boleh, tapi jangan terlalu keras… kami yang susah”
Sejumlah warga yang ditemui Bataminfo.co.id mengaku kebingungan akibat kosongnya barang kebutuhan pokok.
Yuni (32), warga Tanjungpinang Timur, mengaku sudah tiga hari tidak bisa mendapatkan cabai rawit dan bawang merah.
“Di warung dekat rumah kosong semua. Mau beli cabai satu ons saja susah. Saya tanya ke pedagang, mereka bilang barang di Batam tidak bisa keluar karena razia. Razia itu penting, tapi jangan terlalu keras sampai kami tidak bisa masak,” ujarnya.
Sementara Arman (45), warga Kijang, menuturkan bahwa harga ayam frozen naik tiba-tiba hingga menyentuh Rp55 ribu per kilogram.
“Biasa saya beli Rp45 ribu, sekarang Rp55 ribu. Dan itu pun barangnya tidak banyak. Kalau pengecekan Bea Cukai terlalu ketat, ya pasokan pasti seret. Kami berharap jangan setiap hari razia besar-besaran begitu,” katanya.
Kelangkaan Terjadi di Banyak Komoditas
Dari hasil penelusuran di lapangan, hampir semua komoditas mendasar mengalami kelangkaan dan kenaikan harga. Di antaranya:
Ayam frozen: dari Rp42–48 ribu menjadi Rp50–55 ribu/kg
Bawang merah: dari Rp38–39 ribu menjadi Rp50–55 ribu/kg
Bawang putih: naik dari Rp28–29 ribu menjadi Rp40–45 ribu/kg
Cabai rawit: dari Rp50 ribu menjadi Rp80 ribu/kg
Cabai merah: dari Rp70–80 ribu menjadi Rp110–120 ribu/kg
Gula pasir: dari Rp13.700–14.500 menjadi Rp16–17 ribu/kg
Wortel, kacang tanah, dan buah-buahan juga banyak yang kosong di pasaran
Pedagang mengaku terpaksa menahan distribusi karena pasokan dari Batam tidak masuk akibat diperketatnya pemeriksaan.
Pedagang: Pasokan Terhenti Setelah Razia
Beberapa pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa sebelum razia intensif dilakukan, pasokan sembako masih relatif lancar.
“Biasanya paling telat sehari dua hari. Tapi mulai minggu ini truk dan kapal banyak yang tertahan di Batam. Distributor juga takut kirim barang. Jadi kami ikut kosong,” kata salah satu pedagang di Jalan Ir. Sutami.
Mereka mengakui bahwa penegakan hukum penting, namun berharap ada ruang komunikasi dan toleransi dalam pengawasan.
“Kami setuju barang ilegal dicegah. Tapi kalau semua diperketat berlebihan, kebutuhan masyarakat jadi korban,” tambah seorang pedagang lainnya.
Harapan Warga: Keseimbangan Pengawasan & Kebutuhan Publik
Warga berharap Bea Cukai Batam tetap menjalankan tugasnya, tetapi dengan pendekatan yang lebih proporsional, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru di mana kebutuhan bahan pokok meningkat tajam.
“Kami bukan menolak razia. Tapi mohon jangan terlalu keras-keras. Dampaknya langsung terasa ke kami masyarakat kecil,” kata Yuni.
Warga juga meminta pemerintah daerah dan Bea Cukai di Batam–Bintan–Tanjungpinang untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan distribusi agar kelangkaan tidak semakin parah.
Kelangkaan sembako di Bintan dan Tanjungpinang bukan hanya soal distribusi yang terhambat, tetapi juga menyangkut stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Dengan kondisi lapangan yang semakin mendesak, warga berharap ada langkah cepat dan solusi bersama dari pemerintah dan instansi terkait agar perayaan akhir tahun tidak dibayangi keresahan pangan.
(Budi)











