Bataminfo.co.id, Batam- Angin awal Desember di Pulau Penawar Rindu sedang jahil-jahilnya. Ia mengacak rambut laut, mencubit ombak, dan menepuk-nepuk badan boat pancung yang bersiap menyeberang menuju daratan Sekupang, Batam. Tapi tentu saja, bukan pelaut Belakang Padang namanya kalau menyerah hanya karena angin sedang ingin bercanda. Apalagi ketika tujuan yang diantar adalah panggung “Malam Sastra Sumatera Luka.”
Begitulah perjalanan kecil bernada getir menuju Suratan Coffee & Restau, tempat PWI Kepri, PWI Batam, dan Komunitas Seni Rumahitam menggelar malam puisi donasi untuk sedikit menyembuhkan perih luka Sumatera. Setelah mengikuti alur kritik penyair Rumahitam malam itu, tampaknya, luka Sumatera lebih banyak digores oleh “kebijakan” daripada oleh banjir bandang dan gelondongan kayu.
Di panggung sederhana yang mengandalkan lampu jalanan sebagai penerangnya itu, puisi yang ditemani kopi itu lebih mirip pisau dapur yang tumpul, diayun berkali-kali untuk menggoreskan protes. Tarmizi, Ketua Panitia sekaligus Presiden Komunitas Rumahitam, mulai tampil dengan menceritakan kemarahannya.
Katanya, tak ada puisi yang bisa dibuat indah dari bencana yang lahir bukan dari alam semata, melainkan dari kelalaian para pemilik pena perizinan dan para penjaga yang tertidur di menara pengawasan.
“Bencana itu hasil dari kesalahan pengelolaan,” katanya, tegas.
Ketua PWI Batam, Muhammad Khafi, memilih pendekatan lebih emosional. Ia bercerita betapa wartawan, yang biasanya kebal terhadap adegan memilukan, justru tumbang saat menatap rumah dan kerabat sahabat-sahabatnya sendiri hanyut di Sumatera.
Malam itu Khafi membaca puisi karya Tarmizi berjudul “Ini Bukan Puisi, Hanya Serupa Puisi”. Judul yang rasanya cocok untuk keseluruhan acara. Sedangkan puisi karya Khafi yang ia beri judul “Batam Menandah Getir yang Sama” dibacakan oleh Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani. Dengan penghayatannya, puisi itu terdengar seperti elegi.
Sanusi, Wakil Ketua Permasa Batam. Datang sebagai tamu, berbagi pilu bencana di Tanah Rencong, sama seperti Khafibdan Saibansyah, Sarjana teknik itu pulang kemudian sebagai pembaca puisi dadakan.
“Ini pertama kalinya saya baca puisi,” katanya, sebelum membaca Wahai Lelaki Pemanggul Karung Beras. Begitu besar kekuatan cinta untuk saudara Sumatera yang sedang luka malam itu: semua orang dipaksa puitis oleh keadaan, bahkan mereka yang biasanya hanya berteman dengan angka dan rumus seperti Sanusi.
Tibalah giliran para seniman Rumahitam memberi makna dan emosi pada puisi. Hening tampil dengan suaranya yang menenangkan tapi menikam jauh ke dalam hati. Sedangkan Taring duduk membacakan puisi dengan ekspresi vokal tanpa musik dan gerak tubuh yang memaksa langit mengirimkan gerimis. Kata-kata mereka bergetar lebih keras daripada pengeras suara yang sesekali mati. Puisi cinta untuk Sumatera yang sedang luka malam itu meneteskan donasi dari hati-hati yang peka.
Saibansah Dardani lalu menutup sesi dengan mengungkap apresiasi. Disebutnya sejumlah tokoh masyarakat Aceh di Batam, Tenaga Ahli Kementerian Haji dan Umroh Putera Batubara, Ketua Matahari Pagi Indonesia Susanna, dan Ketua SMSI Provinsi Kepri Rinaldi Samjaya yang menghubunginya saat puisi-puisi dibacakan.
“Allhamdulillah, saya mendapat titipan donasi dari sejumlah orang baik.”
Dan ketika tangan-tangan bersalaman untuk pamit pulang, angin luar makin berisik. Mungkin kali ini angin tak sekadar bercanda, tetapi sedang mengingatkan agar kita tak perlu pulang malam ini juga ke pelukan Pulau Penawar Rindu. Atau barangkali angin ingin mengingatkan kita begini:
Bahwa bangsa ini hafal bencana, namun pelit belajar dari sebabnya. Sumatera memang sedang luka, tetapi yang benar-benar harus kita rawat barangkali bukan hanya tanahnya, melainkan cara kita memperlakukannya. (Jonkavi)











