Bataminfo.co.id, Batam – Langit mendung menggantung rendah di atas SMKN 2 Batam, seperti menyimpan rahasia yang hendak diceritakan pelan-pelan. Rinai hujan turun tanpa aba-aba, membuat para murid berlarian menepi ke tempat berteduh. Lantai halaman lengas, udara dingin, dan hanya suara rintik air yang memimpin orkestra pagi. Semua diam. Semua menunggu.
Lalu suara itu datang, keras, tegas, memecah keheningan.
“Lapor, upacara peringatan Hari Guru ke-80 tanggal 25 November 2025, siap dimulai!”
Teriakan komando Naomi Cyntami, ibu guru muda mata pelajaran Bahasa Inggris, memantul dari dinding ke dinding, seolah menegur langit bahwa upacara tak bisa dibatalkan hanya karena cuaca sedang melankolis.
Di bawah pagar hujan, Drs. Refio, M.Pd, bersama para guru petugas upacara, berdiri tegap. Seragam mereka basah, tapi sikap mereka kokoh. Tidak ada kursi istimewa, tidak ada payung pelindung. Hanya dedikasi yang menjadi mantel bagi tubuh mereka yang diterpa dingin.
Indahnya, para murid justru kering, berteduh, menatap dari kejauhan.
Tentu bukan karena guru ingin terlihat heroik, hanya begitulah kehidupan guru: melindungi meski harus lebih dulu kehujanan.
SMKN 2 Batam adalah satu-satunya sekolah kejuruan negeri Hospitality yang ada di Batam, sekolah yang setiap hari mengajarkan tata cara melayani tamu, merapikan kamar hotel, menyajikan makanan ala restoran, dan membentuk komunikasi penuh etika, pagi itu menggelar upacara dengan pelajaran yang jauh lebih luhur daripada SOP perhotelan mana pun: pelajaran keteladanan.
Upacara berlangsung khidmat. Sunyi. Basah. Dramatis tanpa perlu dramatisasi.
Semesta seperti ikut hormat, memberi kado yang sederhana namun sakral: hujan yang turun perlahan, seperti ucapan selamat dari langit untuk para pendidik yang tak pernah selesai mengabdi.
Namun kado dari bumi tidak kalah menarik.
Di tengah upacara, Refio membacakan amanat Menteri Pendidikan. Suaranya bergetar. Matanya berkaca.
“Untuk melindungi para guru, Menteri Pendidikan telah menandatangani MoU dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, salah satunya mengatur penyelesaian damai permasalahan guru di sekolah dengan menempuh restoratif justice,”.
Nada itu ambigu: antara lega dan haru. Karena rupanya hadiah Hari Guru tahun ini bukan bonus, bukan tunjangan, bukan rumah dinas. Tetapi jaminan bahwa mereka tak akan dikriminalisasi saat mendidik.
Beginilah nasib para pahlawan tanpa tanda jasa: jika tak diberi fasilitas, setidaknya diberi perlindungan agar tidak tersandung ketika sedang berjuang.
Di masa pemerintahan Presiden Prabowo, kesejahteraan para penjaga peradaban memang disebut perlahan naik. Merangkak, bukan berlari. Masih jauh dari baik, tapi sudah menjauh dari zaman ketika mengajar moral di kelas pernah berbenturan dengan ironi sosial di luar sekolah.
Dan pagi itu, di halaman basah sekolah, para guru SMKN 2 Batam menuntaskan upacara dengan wajah yang basah namun puas. Tepuk tangan meriah membesarkan hati mereka, tidak ada perayaan besar. Hanya dedikasi yang diam-diam bekerja, menghangatkan tubuh yang kedinginan.
Langit masih menetes, tetapi upacara selesai. Guru-guru merayakannya dengan memotong tumpeng sederhana. Murid-murid kembali belajar.
Karena begitulah guru:
Sekalipun dunia tak selalu berpihak, proses belajar harus tetap berjalan.
Bahkan ketika hujan turun, pendidikan tidak boleh berhenti. (Jonkavi)











