Jalan Pelabuhan Roro Lingga Bermasalah, Masyarakat Menanti Janji

Avatar photo
Keterangan Foto: Sebuah mobil pickup terbalik saat melewati jalan pelabuhan roro penarik yang rusak parah dan berlumpur | f. fb. Muhammad Kodrat

Bataminfo.co.id, Lingga – Dibalik panorama bahari Lingga yang mempesona, tersembunyi luka infrastruktur yang dalam dan kian menganga. Jalan akses menuju Pelabuhan Roro Penarik, Daik Lingga, kini lebih layak disebut arena survival, bukan jalur logistik.

Lumpur menenggelamkan aspal. Lubang menganga di tiap tikungan. Aroma ketidakpedulian pemerintah menyengat di udara. Dan rakyat, Mereka bertahan, tapi mulai menggertak.

Kubangan Lumpur, Jalan Roro atau penghambat Logistik

“Setiap hujan turun, jalan berubah jadi kolam maut. Kami tak tahu hari ini bisa sampai atau terjebak,” keluh Gafar, warga Penarik, Sabtu (5/4/2025). Nada suaranya datar

Baru-baru ini, sebuah mobil pengangkut kelapa terguling. Tidak ada korban jiwa, tapi trauma tertinggal. Sopir tak lagi menanti keajaiban. Mereka urunan, menyewa alat berat, sekadar agar roda bisa berputar.

“Sudah entah berapa kali kami patungan. Kami yang kerja, mereka yang janji,” ujar Gafar, menatap kosong ke arah jalan yang memantulkan sinar lumpur.

Sampai ke pelabuhan pun, penderitaan belum usai. Genangan lumpur tebal menyelimuti seluruh kawasan Pelabuhan Roro Penarik. Hujan memang biang awalnya, tapi akar masalahnya lebih dalam: erosi bukit, drainase mati, dan jalan tanjakan rusak yang membawa lumpur ke pelabuhan setiap kali hujan mengguyur.

Video drone dari warga viral—menampakkan panorama dramatis: pelabuhan tenggelam dalam lumpur coklat. Tapi yang lebih dalam dari lumpur adalah ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah.

Dishub Disorot, Kadis Diminta Mundur

John Cosmos, aktivis senior Lingga, menyebut Pelabuhan Roro sebagai urat nadi yang nyaris putus. “Bayangkan, ini satu-satunya jalur logistik dari Dabo ke Daik. Tapi masyarakat harus berjudi setiap hari melintasinya,” ujarnya, Selasa (8/4/2025).

Kritik pun mengarah tajam ke Dinas Perhubungan Lingga. “Sudah berapa era bupati? Masalahnya itu-itu saja. Kadishub diam, padahal ini tanggung jawabnya. Kalau tidak sanggup bekerja, mundur!” tegas John.

Wakil Bupati Lingga, Novrizal, sempat menyatakan telah menginstruksikan penanganan darurat. Tapi jawaban dari Plt. Kadis PUTR, Yusdiandri, seolah menambah luka. “Insya Allah, akan kami tangani tapi tunggu cuaca panas, kita survei dulu,” katanya.

Kini cuaca cerah, tapi alat berat tak kunjung tiba. Jalan tetap rusak. Pelabuhan tetap becek. Kepercayaan publik pun menguap bersama janji-janji yang tak ditepati.

Rakyat Mulai Menggertak

Di balik wajah-wajah letih warga, amarah mulai tumbuh. “Kami tidak bisa tunggu terus. Kalau tidak segera diperbaiki, kami akan turun ke jalan. Ini darurat, bukan sekadar keluhan,” ancam Gafar.

Bagi masyarakat Penarik dan Daik, ini bukan sekadar jalan rusak. Ini tentang nyawa, ekonomi, dan masa depan. Mereka sudah cukup bersabar. Kini, mereka menuntut.

“Kami tidak butuh alasan. Kami butuh tindakan.” (Budi)