Belajar Rendah Hati dari Seorang Kolonel

Avatar photo
Makan malam yang hangat bersama Hasroel, 9 Februari 2026. Foto: Arsip Bataminfo

Batam –  Momentum Hari Pers Nasional 2026 di Serang, Banten, menjadi salah satu simpul waktu yang tak akan mudah saya lepaskan. Untuk pertama kalinya, saya tidak perlu memilih antara profesi dan cinta. Saya bisa merayakan Hari Pers Nasional sekaligus menggenggam tangan istri tercinta di hari ulang tahunnya. Tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal itu tiba, saya sudah berada di bandara, terbang menuju kota lain, meninggalkan lilin yang menyala tanpa saya di sisinya.

Namun 2026 menghadirkan hadiah yang lebih sunyi sekaligus lebih dalam: pertemuan dengan sahabat sebangku di SMAN Becora, Dili, Timor-Timur. Kini ia berdiri sebagai Kolonel Infanteri TNI Angkatan Darat di Korem 061/Suryakancana, Bogor.

Namanya Hasroel Tamin.

Acara puncak Hari Pers Nasional digelar di Masjid Al-Bantani. Khidmat dan penuh doa. Ditutup dengan pelepasan seorang wartawan PWI Batam yang akan menjelajahi 13 negara dan berakhir di Mekkah, Senin, 9 Februari. Ada suasana perjalanan di sana. Tentang pergi, tentang pulang, tentang pengabdian yang tak selalu tampak.

Selepas acara, saya bersama Moel Akhiyar, Aji Nugraha, Ica, dan istri saya Baiq T.A Hudayani meluncur ke Bogor. Dua jam lebih perjalanan kami tempuh dengan Google Maps sebagai penunjuk arah. Tapi sesungguhnya, yang saya tuju bukan sekadar koordinat di layar. Saya sedang menuju masa lalu.

Di Korem 061/Suryakancana, setelah melapor sebagai tamu, kami diarahkan ke sebuah ruangan. Di pintunya tergantung papan nama:

Kasi Pers: Kolonel Inf Hasroel Tamin, S.H., M.Hub.Int.

Nama itu seperti mengetuk dada saya.

Tak lama, seorang pria berbadan tegap, berseragam dinas harian tentara, melangkah keluar. Wajahnya matang oleh pengalaman, sorot matanya teduh.

“Tunggu sebentar,” katanya singkat, lalu masuk kembali.

Kalimat sederhana itu membuka pintu ingatan saya ke puluhan tahun silam.
Kami terakhir bertemu tahun 1998 di Makassar. Setelah itu, hidup berubah arah. Saya kembali ke Timor-Timur, yang setahun kemudian resmi berpisah dari NKRI dan menjadi Timor Leste. Keluarga saya pindah ke Kediri, Jawa Timur. Kami terpisah oleh jarak, oleh sejarah, oleh nasib yang tak bisa kami pilih.

Baru sekitar 2013 komunikasi kami tersambung kembali. Saya tak ingat siapa yang lebih dulu menyapa. Yang saya tahu, sejak saat itu Hasroel selalu menjadi yang pertama menghubungi. Menanyakan kabar saya, keluarga, teman-teman seangkatan. Jika ia mendengar kabar seorang sahabat lain, ia menjadi penghubung. Seperti takdir kecil yang rajin menjahit kembali kain persahabatan yang pernah koyak oleh waktu.

Yang paling membuat saya terharu: dalam setiap percakapan, ia selalu menyimpan pangkatnya.

Tak pernah terdengar lebih tinggi. Tak pernah berbicara dari atas. Ia lebih banyak mendengar. Mencermati. Menguatkan. Bahkan diam-diam membantu. Teman yang sakit, ia hadir. Tanpa pengumuman. Tanpa ingin disebut.

Padahal ia seorang Kolonel. Jejak pengabdiannya tak kecil.

Karier militernya dimulai dari bawah. Ia pernah menjadi Danton, staf, hingga Danki di Yonif 410/Alugoro dan Yonif 407/Padmakusuma. Ia menjalani masa-masa lapangan yang keras, belajar memimpin bukan dari podium, melainkan dari lumpur dan keringat anak buah.

Ia kemudian dipercaya sebagai Pabanda Ops di Kodam VII/Wirabuana. Pernah menjabat Kasi Pers dan Dandenma Brigif 22/Ota Manasa. Menjadi Wadanyon 725/Woroagi. Lalu kembali mengemban tugas sebagai Kasi Pers di Korem 132/Tadulako.

Puncak kepercayaan itu datang saat ia memimpin sebagai Danyonif 711/Reksatama. Dari sana, ia dipercaya menjadi Dandim 1307/Poso selama kurang lebih 27 bulan. Di Poso, ia tidak hanya memimpin secara administratif. Ia turun langsung dalam kegiatan teritorial, memimpin TMMD ke-120, bahkan mengantarkan Kodim 1307/Poso meraih Juara 1 Lomba Karya Jurnalistik TMMD ke-120.

Selepas dari Poso, ia dipercaya sebagai Kasbrigif 11/Badik Sakti, sebelum akhirnya kembali mengemban amanah sebagai Kasi Pers Korem 061/Suryakancana di Bogor.

Di balik jabatan-jabatan itu, ada penugasan yang tak ringan: Aceh, Papua, perbatasan Indonesia–Filipina. Ia terlibat dalam misi kemanusiaan di Palu, mengikuti latihan bersama Philindo Strike antara Indonesia dan Filipina, hingga mendapat kesempatan belajar ke Thailand.

Saya teringat masa kelas satu di SMAN Becora. Lingkaran kecil kami bukan siswa-siswa unggulan. Kami remaja biasa yang kadang bolos, merokok sembunyi-sembunyi, bahkan melompat keluar kelas lewat jendela ketika harus kabur menghindari amarah seorang teman, namanya Indra Dara. Saya dan Hasroel pernah melakukan itu bersama. Tak ada yang bisa menebak masa depan kami.

Namun kecintaan Hasroel pada militer memang tumbuh sejak kecil. Ia dibesarkan di lingkungan tentara. Rumah dinas orang tuanya tepat di depan Kompi B Batalyon Infanteri 744. Hasroel kecil sering menyikat sepatu lars para perwira muda dengan sukarela setiap bermain ke mes mereka.

Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian, ia berdiri sejajar dengan sebagian dari mereka. Bahkan pernah bertemu kembali dengan perwira yang dulu sepatunya ia sikat di Timor-Timur. Di antaranya Jenderal Dudung, yang fasih berbahasa Tetun karena lama bertugas di sana.

Di balik wajahnya yang teduh, Hasroel adalah seorang prajurit Rider, pernah menjalani pendidikan Kopassus. Medan berat telah ia lintasi, namun tak pernah membuat suaranya menjadi keras atau langkahnya menjadi pongah.

Bernostalgia di ruang kerja Hasroel. Foto: Arsip Bataminfo

Ingatan saya buyar ketika kami dipersilakan masuk. Ruangan sederhana itu mendadak hangat oleh tawa dan haru. Nostalgia mengalir tanpa komando.

Selepas salat Magrib, kami dijamu makan malam di Restoran Bumi Aki. Mewah, hangat, penuh canda. Namun bagi saya, kemewahan malam itu bukan pada hidangannya. Melainkan pada kesempatan duduk kembali bersama sahabat yang tak berubah oleh pangkat.

Foto bersama sebelum bertolak pulang. Foto: Arsip Bataminfo

Sebelum kami pamit kembali ke Serang dan kemudian pulang ke Batam, Hasroel membekali kami bolu khas Bogor. Tapi ada oleh-oleh yang jauh lebih berharga dari sekadar buah tangan.

Sebuah kalimat.

“Jangan merasa penting kalau mau hidup tenang. Semakin penting kita, hidup semakin tidak tenang.”

Kalimat itu sederhana. Tapi keluar dari seorang Kolonel yang kariernya bersinar, ia menjadi pelajaran yang dalam. Di zaman ketika banyak orang berebut terlihat besar, ia justru memilih menjadi kecil agar hidupnya lapang.

Hari itu, saya tidak hanya bertemu seorang perwira tinggi.

Saya bertemu sahabat lama yang masih menyimpan kerendahan hati seperti dulu kami menyimpan kenakalan remaja dan sedang merampungkan pendidikan S3.

Terima kasih, Kolonel.

Semoga waktu dan usia mempertemukan kita kembali.

Dan dalam doa saya yang paling sunyi, jika takdir mengizinkan, kelak ketika kita bertemu lagi, saya memanggilmu:

Jenderal.

__

M.A Khafi Anshary
Ketua PWI Batam
Catatan di Hari Pers Nasional 2026